Laporkan Masalah

Dinamika Komunitas Parkir Aster: Antara Konflik Internal dan Keterlibatan Korporasi

KURNIAWAN, Fajar, Nur Azizah

2012 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)

INTISARI Skripsi ini mengkaji konflik kepentingan dalam Komunitas ASTER antara aktor superordinasi dan aktor subordinasi. Kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang keterlibatan korporasi dalam dinamika konflik kepentingan komunitas parkir. Konsep yang dipinjam untuk membedah kasus tersebut adalah teori konflik dan teori komunitas. Teori konflik berfungsi untuk menjelaskan sumber, tahapan, dan varian konflik yang akan menjawab pertanyaan tentang konflik kepentingan dalam ASTER. Sedangkan teori komunitas akan membantu untuk mengupas relasi kuasa yang terbangun dalam sebuah komunitas. Pemahaman tentang komunitas juga penting untuk menjelaskan bagaimana bentuk konflik kepentingan dalam komunitas ASTER? Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik kepentingan dalam ASTER terjadi akibat perbedaan persepsi mengenai kepentingan ekonomi antara aktor superordinasi dan aktor subordinasi. Dalam kasus ASTER telah terjadi pertarungan antara persepsi profesionalitas dan pengabdian. Aktor superordinasi memadang sebagai perintis yang telah mengabdi lama di ASTER patut menikmati kue ekonomi yang lebih besar. Sedangkan aktor subordinasi memandang bahwa pembagian kue ekonomi harus sebanding dengan produktivitas kerja. Ditengah dinamika konflik tersebut Mirota Kampus hadir sebagai mediator sekaligus sumber konflik. Sebagai mediator, Mirota Kampus mencoba untuk menyatukan kekuatan di kubu aktor superordinasi. Kebijakan komputerisasi parkir sangat mencerminkan keberpihakan Mirota Kampus terhadap aktor superorinasi. Kebijakan tersebut merupakan strategi Mirota Kampus untuk menguatkan posisi aktor superordinasi dalam peta politik ASTER. Di sisi lain, hadirnya kebijakan tersebut telah menimbulkan fragmentasi di internal ASTER. Kesenjangan ekonomi antara aktor superordinasi dan subordinasi semakin tajam. Akses aktor subordinasi untuk mendapatkan kue ekonomi yang lebih besar telah tertutup oleh sistem. Mengingat semua jabatan strategis yang dibentuk Mirota Kampus semuanya diduduki oleh aktor superordinasi. Fenomena tersebut melahirkan konflik substantif yang diawali dengan konflik tugas dan konflik prosedural. Konflik ini semakin nyata dengan hadirnya aksi tuntutan yang dilakukan oleh aktor subordinasi dalam bentuk malas-malasan bekerja, mengkritisi kinerja aktor superordinasi, dan menggugat sistem pembagian kue ekonomi . Konflik tersebut berhasil diredam oleh si figur kuat berstatus aktor superordinasi yang disegani oleh kedua belah pihak. Si figur kuat mendorong aktor superordinasi untuk mengeluarkan kebijakan populis berupa revisi proporsi distribusi kue ekonomi. Kebijakan populis tersebut untuk sementara berhasil meredam aksi tuntutan aktor subordinasi dan mampu menciptakan iklim yang lebih stabil dalam ASTER. Dari kajian ini dapat diambil pelajaran bahwa konflik kepentingan di internal komunitas tidak luput dari campur tangan pihak eksternal. Campur tangan pihak eksternal dapat menjadi sebuah mediator sekaligus sumber konflik kepentingan.

Kata Kunci : Konflik Kepentingan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.