Laporkan Masalah

Implementasi Program Sertifikasi Laik Hygiene Sanitasi Depot Air Minum Di Kota Yogyakarta

DEWI, Novita Prima, Agus Pramusinto

2012 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Terjadi penguatan posisi air dari barang yang dapat digunakan secara cumacuma (take it for granted) menjadi barang ekonomis. Data MDG’s dan provinsi (Riskesdas 2010) menyebutkan sebanyak 21,6% penyediaan air minum di Indonesia dilakukan oleh air dalam kemasan dan isi ulang. Perkembangan industri air isi ulang membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan air minum terlebih di perkotaan yang sulit mendapatkan air bersih. Akan tetapi perkembangannya perlu mendapat pengawasan dan kontrol dari pemerintah. Penelitian ini menganalisa mengenai implementasi sertifikasi hygiene sanitasi terhadap produknya. Sesuai dengan Perwal Yogyakarta Nomor 64 Tahun 2010 Tentang Hygiene Sanitasi Pangan memberlakukan adanya sertifikasi terhadap produk pangan. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Pendekatan deskriptif-kualitatif menghasilkan paparan lengkap dan mendalam mengenai bagaimana implementasi berjalan. Sumber informasi yaitu SKPD dinas kesehatan, pemilik /pegawai DAM dan pengurus /anggota ASDAM. Metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan penyebaran kuesioner. Kuesioner digunakan untuk mengetahui respon pengusaha DAM. Peneliti mengambil minimal 20% dari total populasi pengusaha DAM di Kota Yogyakarta, dari 79 DAM di ambil 24 DAM. Sampai dengan saat ini implementasi program masih belum maksimal. Dari 15 responden baru 3 orang yang mengajukan sertifikasi sedangkan sisanya belum mengajukan sertifikasi. Sebenarnya Pengusaha air minum isi ulang merespon baik program yang dimulai tahun 2011 lalu. Akan tetapi terkendala persyaratan ijin HO. Sejak awal formulasi program, ASDAM telah memberikan masukan untuk mempertimbangkan mengenai persyaratan yang mengharuskan ada ijin HO. Akan tetapi kurang diperhatikan. Dinas kesehatan selaku representasi Pemerintah Kota Yogyakarta mengharapkan adanya ijin HO sebagai bentuk legalitas usaha. Cita-cita ideal tersebut kurang mempertimbangkan kondisi real di lapangan. Pengetahuan pelaksana program masih minim. Banyak pegawai dinas kesehatan yang kurang mengetahui program sertifikasi laik hygiene sanitasi depot air minum. Pegawai masih rancu antara program pengecekan kualitas air minum dengan program sertifikasi laik hygiene sanitasi depot air minum. Kondisi demikian akan menghambat implementasi program terlebih jika terjadi rotasi jabatan. DAM merupakan usaha mikro yang baru berkembang pesat mulai tahun 2000. Pengawasan yang dilakukan cukup pada pengecekan kualitas produk saja. Untuk pengecekan secara keseluruhan dengan berbagai indikator kesehatan lingkungan sampai dengan kebersihan SDM pengelolaan masih belum bisa diterapkan karena kondisi usaha air baru dalam tahap awal. selain itu, secepatnya dilakukan pendataan mengenai jumlah DAM. Ketergantungan penginformasian program kepada pengusaha DAM melalui ASDAM akan menjadikan marginalisasi bagi pengusaha yang bukan anggota ASDAM. Akibatnya, pengusaha yang bukan anggota ASDAM akan lepas dari pemantauan. Kata kunci: depot air minum, implementasi, respon, sertifikasi

Kata Kunci : Implementasi ; Sertifikasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.