Kajian Relokasi Permukiman Pasca Bencana Banjir Lahar Dingin (Studi Kasus Masyarakat Sempadan Sungai Code, Kampung Jogoyudan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta)
PANDEGO, Ki Jati, Agus Heruanto Hadna
2012 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)Bencana banjir lahar dingin tahun 2011 telah membawa dampak kerugian yang begitu besar bagi masyarakat di permukiman sempadan Sungai Code, khususnya di wilayah Jogoyudan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta. Sarana dan prasarana permukiman mereka banyak yang hancur, tertimbun oleh lumpur pasir yang mengalir bersama aliran air sungai. Sedangkan para ahli kebencanaan memprediksikan bahwa ancaman bencana yang serupa masih akan terus berlangsung hingga dua atau tiga tahun mendatang. Melihat kondisi yang demikian, Pemerintah Kota Yogyakarta kemudian menganggap bahwa relokasi permukiman warga ke rusunawa adalah solusi jangka panjang terbaik yang bisa ditawarkan untuk mereka. Ketika isu relokasi ke rusunawa itu sampai kepada warga, ternyata hal tersebut banyak ditanggapi negatif oleh warga. Mereka lebih memilih untuk menolak. Oleh karenanya, penelitian ini bermaksud untuk mengungkap latar belakang yang menjadi dasar alasan penolakan mereka. Untuk memperoleh jawaban yang menyeluruh dari alasan penolakan mereka, di dalam penelitian ini akan melalui beberapa tahap. Pertama, menghimpun dan menganalisis rona lingkungan. Rona lingkungan merupakan kondisi teraktual yang sedang terjadi di lingkungan masyarakat, hal ini ditinjau dari sisi sosial budaya, sosial ekonomi, dan kondisi fisik lingkungan. Tahap kedua, menganalisis persepsi masyarakat terhadap konsep relokasi yang ditawarkan pemerintah yang dalam hal ini adalah relokasi ke rusunawa. Hasil analisis rona lingkungan selanjutnya memberikan gambaran obyektif mengenai alasan penolakan warga, sedangkan hasil analisis persepsi memberikan gambaran dari sisi subyektif warga. Dengan mempertimbangkan kedua hal tersebut maka dapat diperoleh jawaban yang jelas tentang penyebab sebagian besar warga masyarakat sempadan Sungai Code Kampung Jogoyudan menolak tawaran relokasi. Sumber data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan literatur. Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relokasi ke rusunawa sebagai solusi yang ditawarkan pemerintah, belum dianggap sebagai sesuatu yang mampu memberikan penawaran lebih baik bagi warga. Sistem sewa yang diterapkan di rusunawa tidak dianggap solutif bagi masa depan kehidupan ekonomi warga. Bangunannya yang bertingkat dengan luas kamar yang sempit juga menjadi pertimbangan penting bagi mereka. Warga juga khawatir terhadap faktor lokasi yang kemungkinan menjadi tujuan pembangunan rusunawa. Jika pembangunan berada di kampung mereka, mereka menganggap upaya ganti rugi lahan akan menjadi sumber permasalahan. Sedangkan jika pembangunan rusunawa itu berada di luar wilayah kampung, mereka menganggap bahwa kehidupan keseharian mereka secara sosial dan ekonomi akan terganggu. Hal tersebut didukung dengan fakta bahwa selama ini mereka memang sudah terbiasa menggantungkan hidup dengan segala peluang yang bisa mereka manfaatkan di lingkungan setempat, termasuk ketersediaan lapangan kerja dan kemudahan akses ke berbagai fasilitas publik. Namun begitu bukan berarti mereka menutup segala kemungkinan terhadap tawaran relokasi. Konsep rusunami bisa menjadi alternatif lain yang bisa ditawarkan, dan membuka negosiasi dengan mereka melalui perantara Sri Sultan mungkin akan bisa lebih diterima.
Kata Kunci : Bencana Banjir