Laporkan Masalah

Studi Fenomenologi Komunitas Pasar Pasty Pasca Relokasi Pasar Ngasem Yogyakarta

HERWANTO, Trisno Sakti, H.Suharyanto

2012 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Kebijakan relokasi Pasar Hewan Ngasem ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) pada Tahun 2010 dipilih pemerintah sebagai upaya revitalisasi kawasan wisata Tamansari yang merupakan salah satu kawasan wisata di dalam komplek Kraton Yogyakarta. Berbeda dengan sebagian besar kasus relokasi di Indonesia yang seringkali diwarnai konflik, proses relokasi Pasar Hewan Ngasem berlangsung damai dan tertib tanpa unsur kekerasan yang merupakan wujud konflik. Berdasarkan amanat UU 26 Tahun 2007 bahwa penyelenggaraan penataan ruang oleh negara dilaksanakan untuk mencapai kemakmuran rakyat, dilakukan langkah penelitian dengan tujuan mengetahui berbagai fenomena yang dialami komunitas pasar PASTY pasca relokasi Pasar Ngasem. Fenomenologi dalam pendekatan kualitatif digunakan sebagai metode penelitian agar didapatkan berbagai informasi secara mendalam. Berbagai fenomena dialami pedagang yang merupakan hasil dari relokasi Pasar Ngasem. Lokasi PASTY sebagai lokasi pasar baru dan berbagai pengelolaan pasar yang dilakukan pemerintah di PASTY mengakibatkan penurunan pengunjung yang berimplikasi menurunnya pendapatan pedagang. Penurunan pendapatan pedagang di PASTY mendorong beberapa pedagang menjual kios miliknya. Terkait kepemilikan ruang dagang baru para pedagang mengalami praktek percaloan pengurus paguyuban pedagang pasar dalam kepemilikan kios, perubahan luas kios yang tidak sesuai janji pemerintah dan pungutan liar oknum birokrasi Lurah Pasar dalam pengalihan hak milik kios. Berbagai fenomena terkait kehadiran PASTY dialami pedagang yang bukan merupakan hasil dari relokasi Pasar Ngasem. Pedagang tanaman hias yang telah berdagang di wilayah pasar sebelum PASTY didirikan merasakan peningkatan pendapatan semenjak komunitas pedagang satwa dari Pasar Ngasem datang dan bergabung sebagai komunitas pedagang PASTY. Sedangkan bagi para pedagang yang berdagang makanan dan minuman dengan lapak semi permanen merasakan kehidupan yang jauh lebih baik secara psikologis maupun ekonomi semenjak berdagang di PASTY. Terkait dinamika pengelolaan parkir PASTY, berbagai fenomena dialami pengelola parkir PASTY sebagai pengelola jasa parkir baru di wilayah pasar seperti penyerapan tenaga kerja penyelenggaraan parkir, dominasi aktor pada tubuh paguyuban pengelola parkir, dan praktek korupsi bagi hasil retribusi parkir antara pemerintah dan pihak pengelola yang dilakukan oleh paguyuban pengelola parkir. Disimpulkan belum terbentuk suatu kehidupan komunitas pasar PASTY yang sama atau bahkan mendekati kehidupan komunitas Pasar Ngasem. Upaya relokasi dan pengelolaan pasar yang dilakukan pemerintah justru menciptakan kehidupan PASTY jauh berbeda dari kondisi kehidupan Pasar Ngasem sebagai suatu komunitas pasar. Dirumuskan beberapa rekomendasi oleh peneliti. Penentuan solusi pemerintah terhadap penurunan pendapatan sebagian besar pedagang pasca relokasi harus segera dilaksanakan agar terjamin keberlanjutan pasar. Pembentukan sistem pengelolaan parkir baru dengan keterlibatan unsur pemerintah harus segera dilaksanakan agar potensi konflik dominasi aktor dalam tubuh paguyuban pengelola parkir dan praktek korupsi retribusi parkir dapat ditekan. kata kunci: relokasi, komunitas pasar, pengelolaan pasar, ruang dagang, korupsi, potensi konflik

Kata Kunci : Relokasi Pedagang Pasar


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.