Laporkan Masalah

Dinamika Manajemen Persiba Bantul Pasca Pelarangan Penggunaan Dana Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Untuk Klub Sepak Bola Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (PERMENDAGRI) Nomor 22 Tahu

HERMAWAN, Rico, I Made Krisnajaya

2012 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Perkembangan sepak bola di Indonesia dewasa ini tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan otonomi daerah. Salah satu agenda dari pelaksanaan kebijakan tersebut salah satunya adalah tentang pelaksanaan desentralisasi fiskal. Melalui desentralisasi fiskal inilah, pemerintah daerah menjadi memiliki kewenangan yang sangat besar dalam mengelola keuangan daerah sendiri, termasuk untuk membiayai klub sepak bolanya. Salah satu daerah yang melakukannya adalah Kabupaten Bantul dengan klubnya, Persiba Bantul. Perkembangan Persiba Bantul itu sendiri tidak terlepas dari peran mantan Bupati Idham Samawi. Peran Idham Samawi tidak hanya sebagai kepala daerah saja, namun juga menjabat sebagai Ketua Umum Persiba Bantul. Posisi Idham tersebut menandakan sebuah kehidupan “patron-klien” dalam sepak bola Indonesia yang mengarah pada sebuah pola manajemen feodalisme. Akibat dari posisi tersebut dana APBD sangat mudah didapatkan oleh Persiba Bantul. Dan disatu sisi Idham Samawi menikmati social benefit dari kehidupan patron tersebut. Lahirnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2011 yang mengatur pelarangan dana APBD untuk klub sepak bola. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi yang akan dilakukan oleh manajemen untuk menyelamatkan Persiba Bantul setelah permendagri tersebut diterbitkan. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Kekuatan melakukan wawancara dan mengakses informasi yang update melalui data sekunder menjadi kekuatan utama yang digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan data. Dengan terbitnya Permendagri tersebut, membuat manajemen Persiba Bantul harus melakukan serangkaian strategi untuk mempertahankan eksistensinya. Dari hasil penelitian ditemukan berbagai langkah strategi yang telah dilakukan oleh manajemen Persiba Bantul. diataranya yaitu Melakukan merger dengan PT Bandung Indonesia Golsport (BIG), Mencari sponsor kerjasama dengan perusahaan yang ada di wilayah Kabupaten Bantul, Menaikkan harga tiket pertandingan, Pembagian dana hak siar televisi, Menjalin kemitraan dengan para pengusaha daerah terkait dengan merchandise. Namun disamping serangkaian strategi yang dilakukan, manajemen juga harus menghadapi kendala, yaitu Status Persiba Bantul sebagai klub promosi; Faktor Kabupaten Bantul yang bukan daerah potensi; Selain itu, Sulitnya investor maupun perusahaan mengeluarkan dana karena sehubungan dengan tutup buku tahunan; dan yang terakhir adalah Ketidakprofesionalan PSSI dalam menyelenggarakan kompetisi liga. Namun dari serangkaian strategi tersebut, strategi yang paling penting harus dilakukan oleh manajemen adalah dana besar sebagai pengganti dana APBD. Kesepakatan merger dengan konsorsium terbukti telah memberikan dana melimpah kepada Persiba Bantul. Namun apa yang terjadi ternyata, kesepakatan tersebut seperti sebuah gaya lama, namun dengan kemasan baru. Dana dari konsorsium tersebut juga ternyata berpotensi memandulkan manajemen seperti halnya ketika masih dibiayai oleh APBD. Kata kunci : Persiba Bantul, Dana APBD, Permendagri, Idham Samawi, Strategi, Konsorsium LPI

Kata Kunci : Sepak Bola


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.