Laporkan Masalah

Paguyuban Di Tengah Pengrajin Batik Sidoarjo Pasca Surat Keputusan UNESCO (Studi Tentang Peran Paguyuban Batik Sidoarjo Dalam Menjaga Eksistensi Pengrajin Batik Tulis Jetis, Sidoarjo, Jawa Timur)

RIZKIAWAN, Fery, Tri Winarni Soenarto Putri

2012 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)

Batik merupakan bagian dari hidup dan budaya masyarakat Indonesia. Batik sudah menjadi way of life bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Jetis, Sidoarjo adalah salah satu kampung yang masih membuat kain Batik. Membuat kerajinan batik merupakan mata pencaharian utama mayoritas warga Jetis. Selain untuk melestarikan budaya Indonesia, membuat kerajinan batik dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan masyarakat. Ironisnya dari prospek tersebut ternyata banyak pengrajin Jetis yang tenggelam dalam problematika yang sedang terjadi dan mengalami degradasi jumlah pengrajin. dalam untuk membuat kain batik. Selanjutnya untuk membantu menangani problematika tersebut didirikan Paguyuban Batik Sidoarjo (PBS) yang diharapkan mampu menjadi wadah untuk mengatasi problematika para pengrajin. Dalam melihat fenomena penurunan jumlah penrajin batik tulis Jetis, penelitian ini menggunakan pendekatan konsep kualifikasi Maslow dengan teori ERG. Clayton Aderfer mengatakan untuk menjalankan usaha atau bisnis yang mendatangkan profit yang potensial diperlukan titik keseimbangan dalam tiga hal, yaitu Existance (eksistensi atau kebutuhan primer), relatedness (Relasi), Growth (pertumbuhan). Unit analisis penelitian ini adalah pengrajin batik yang menjadi anggota dan pengurus di PBS dengan metode yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Proses pengambilan data dilakukan melalui pengamatan langsung dilapangan, wawancara mendalam (depth interview), dan dokumentasi. Penentuan informan didalam penelitian ini dilakukan secara purposive atau telah ditetapkan dengan tujuan tertentu, diantaranya adalah pengrajin batik Jetis yang menjadi anggota PBS, Ketua PBS, Sekeretaris Desa Lemahputro, Kasi Industri Logam, Mesin dan Tekstil dari Dinas Koperasi UMKM (Usaha Miro,Kecil dan Menengah), Perindag dan ESDM (Energi dan Sumber Daya Manusia) dan Masyarakat konsumen serta pemerhati batik. Hasil dari penelitian ini menunjukan degradasi pengrajin batik Jetis menjadi salah satu tantangan dalam kaitannya dengan perkembangan Usaha Kecil dan Menengah di Sidoarjo. PBS sebagai organisasi yang digadang-gadang mampu memberikan sumbangsih positif untuk perkembangan pengrajin batik Jetis ternyata belum memberikan peran secara maksimal. Hal tersebut disebabkan PBS terlalu fokus dengan kondisi eksternal pengrajin yang berupa upaya untuk mengenalkan dan penjualan batik Jetis, sehingga tidak dalam untuk mengetahui kondisi internal para pengrajin batik. Selanjutnya PBS juga tidak memiliki Struktur organisasi yang baik sehingga membuat kinerja dan program PBS menjadi tidak optimal. Pembentukan struktur organisasi PBS secara proaktif dan efektif memiliki urgensi yang penting dalam kaitannya untuk mengembangkan paguyuban serta bisa membuat pondasi yang baik untuk membangun kepercayaan para anggota PBS. Selanjutnya dengan menjalin hubungan kerja sama dan kemitraan dengan pihak luar Jetis, mulai dari pihak Pemerintah maupun pihak swasta yang dalam konteks ini untuk mengembangkan usaha pengrajin dan mensejaterahkan batik Jetis. Keyword: Paguyuban, Pengrajin Batik, Peran.

Kata Kunci : Industri kecil; Batik


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.