Laporkan Masalah

Men in Black, Representasi Black Masculinity dalam Film Undercover Brother dan Hancock

SAKTI, Pramestha Sutan, Budhy Komarul Zaman

2011 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana tanda-tanda merepresentasikan maskulinitas kulit hitam (black masculinity) dalam film Undercover Brother dan Hancock. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana gambaran representasi laki-laki kulit hitam dalam film dari dua sudut pandang sutradara yang berbeda ras dan latar belakang sosial. Objek dari penelitian ini adalah film Undercover Brother (2002) karya sutradara kulit hitam Malcolm D. Lee dan film Hancock (2008) karya sutradara kulit putih Peter Berg. Rasisme menempatkan kaum kulit hitam Afrika-Amerika berada di bawah orang kulit putih dalam struktur hierarkis sosial masyarakat Amerika. Masuknya rasisme ke dalam kriteria maskulin tradisional memunculkan maskulinitas hegemonik (hegemonic masculinity). Maskulinitas hegemonik menempatkan maskulinitas kulit putih sebagai maskulinitas ideal yang dominan dan menempatkan maskulinitas di luarnya sebagai subordinat, termasuk maskulinitas kulit hitam. Metode analisis penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik yang merupakan salah satu bentuk analisis kualitatif terhadap media massa. Teknik analisis penelitian menggunakan signifikansi dua tahap (two order signification) dari Roland Barthes untuk mempelajari bangunan tanda yang merepresentasikan maskulinitas kulit hitam. Langkah-langkah dalam analisis dilakukan dengan mempelajari penggalan scene-scene dalam film yang mengandung tanda maskulinitas kulit hitam. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa film Undercover Brother dan Hancock merepresentasikan maskulinitas kulit hitam melalui kriteria-kriteria maskulinitas seperti aspek fisik, watak/ karakter, relasi pria-wanita, pekerjaan/ ekonomi, seksualitas, dan kehidupan sosial politik. Kemudian juga didapatkan bahwa sutradara film Undercover Brother dan Hancock menampilkan sudut pandang yang berbeda dalam merepresentasikan maskulinitas kulit hitam. Hal ini membuktikan bahwa film sebagai media massa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan, sekaligus juga bisa menjadi sarana perjuangan untuk melawan kelas dominan dan membangun kultur dan ideologi tandingan. Kata Kunci: maskulinitas, kulit hitam, hegemonik, representasi, film, semiotik.

Kata Kunci : Film


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.