Laporkan Masalah

SM*SH, Media Massa dan Budaya Populer (Analisis Wacana Berita SM*SH pada Tabloid Gaul Periode Oktober 2010 – Juni 2011)

WIDYASTUTI, Devi Iriandha, Wisnu Martha Adiputra

2011 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Media massa menjadi arena pertarungan antar kelompok sosial dalam hal ini, antara kelompok yang memiliki akses terhadap sebuah media dengan mereka yang kurang memiliki akses yang lebar terhadap media. Media sendiri adalah agen konstruksi, media bukanlah sekedar saluran bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya. Berita media bisa menjadi cermin untuk melihat kaitan antara realitas sosial dengan idealitas pengelola media. Di sini media massa yang mempunyai misi dan cita-cita trasformatif dapat dipastikan akan membidik setiap isu yang benar-benar menjadi permasalahan aktual dalam masyarakat. Bisa juga realitas yang ditampilkan tersebut sebenanrnya adalah realitas yang sebenarnya, namun realias tersebut tidak pernah dimunculkan kepada khalayak, dengan alasan tertentu. Maka media dengan berani menampilkan realitas yang ‘tersembunyi’ atau realitas yang ditutup-tutupi. Masing-masing media memiliki sudut pandang dan kebijakan yang berbeda ketika mengonstruksi suatu peristiwa dan menghadirkannya kembali dalam sebuah teks. Seperti kasus yang sedang heboh saat ini, fenomena boyband SM*SH sebagai boyband baru di kancah permusikan Indonesia. Karena sangat menyita perhatian masyarakat, media akan memberitakan boyband SM*SH ini dengan porsi yang lebih banyak dibanding pemberitaan boyband Indonesia yang lain. Dapat dilihat beberapa bulan terakhir ini banyak liputan mengenai boyband SM*SH dari kemunculannya yang bertepatan dengan gempuran musik Korean Pop (K-Pop) yang menyebabkan banyak kontroversi seputar isu plagiarisme. Kontroversi yang ada dan pemberitaan yang secara terus-menerus ditujukan untuk SM*SH menyebabkan boyband ini dikenal oleh masyarakat luas. Dimana di sini media dikatakan memiliki potensi untuk menyebrangi batasan ruang untuk menjadi salah satu determinan penting dalam proses tranformasi sosial dan kultural secara keseluruhan. Dari awalnya permusikan Indonesia hanya diramaikan oleh beberapa grup band yang mengusung tema pop cinta, sekarang beralih aliran pop dance yang diusung oleh berbagai macam boyband maupun girl band. Di sini SM*SH menjadi pelopor kebangkitan dari boyband-boyband yang dahulu pernah berjaya pada era 90-an. Awalnya dari makian yang ditujukan oleh banyak orang kepada SM*SH yang lalu menjadikannya sebagai “pahlawan” bagi para remaja, khususnya remaja perempuan. Kehadiran boyband SM*SH-pun selalu ditunggu oleh SM*SHBlast, hingga rutinitas mereka menjadi sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Isu-isu mengenai boyband SM*SH ini tidak saja menjadi headline atau ulasan utama di berbagai media cetak maupun elektronik, namun juga mengindikasikan kecenderungan media massa Indonesia untuk melihat kaitan isu tersebut dengan berbagai persoalan mendasar yang terkait dengan segenap aspek kehidupan masyarakat. Melalui agenda setting media menyusun semacam agenda di kepala audiens mereka tentang apa saja yang dianggap penting. Media bahkan memiliki kekuasaan memberikan bingkai apa yang selayaknya dipikirkan dan menjadi focus perhatian audiensnya, begitu pula dengan wacana SM*SH yang waktu itu sangat kuat sekali digembar-gemborkan oleh kebanyakan media di tanah air. Hal inilah yang menyebabkan SM*SH dengan mudah dikenal di berbagai kalangan masyarakat. SM*SH saat ini sudah menjadi cerminan produk budaya populer dimana ciri-ciri budaya populer adalah komersialisasi dan popularisasi. Hal ini bisa dilihat dari fakta yang ada di masyarakat saat ini. Di sini tabloid Gaul berperan sebagai salah satu media cetak yang membidik segmentasi pembacanya yaitu para remaja menemukan keuntungan dalam memberitakan seputar boyband SM*SH. Gaul seolah menjadi jembatan antara para pembaca dengan idola mereka SM*SH melalui berita-berita yang ada. Dalam hal ini sangat terlihat fungsi media yaitu dalam penyebarluasan sinyal, simbol, suara, dan citra (image) dari musik, drama, tari, kesenian, kesusastraan, komedi, olah raga, permainan dan sebagainya untuk rekreasi dan kesenangan kelompok dan individu. Adapun dari semua berita mengenai pemberitaan SM*SH di tabloid Gaul periode Oktober 2010 sampai Juni 2011 disajikan sebagai berikut: Pertama: SM*SH Refleksi Pengulangan boyband Korea, Kedua: Kemunculan SM*SH: Ragam Respon Audiens.Tabloid Gaul merupakan agen budaya Populer Dari hasil analisis tersebut, diperoleh hasil bahwa di sini tabloid Gaul merupakan agen budaya populer. Dimana digambarkan bahwa kekuatan utamanya dalam mempersuasi khalayak menggunakan bahasa. Di dalam pemberitaannya boyband SM*SH diwacanakan oleh tabloid Gaul sebagai sesosok “pahlawan”. Tetapi dari penelitian yang diperoleh, SM*SH sebagai “pahlawan” terdapat pengingkaran dalam proses produksinya. Dilihat dari alasan yang menyebutkan bahwa boyband ini mengaku terinspirasi dari Michael Jakcson bukan dari boyband-boyband Korea Selatan dalam konsep musik dan tariannya. Apabila ditelaah lebih dalam pernyataan ini sungguh tidak rasional, dimana saat ini musik Korean Pop (K-Pop) sedang marak di berbagai negara termasuk Indonesia. Tetapi pernyataan seperti ini tetap ditulis dalam pemberitaannya, selain itu fakta bahwa SM*SH Indonesia telah menjiplak SM*SH Korea juga tetap diberitakan oleh tabloid Gaul walaupun tabloid Gaul sudah mengetahui historis kedua boyband tersebut. Hal ini sangat menjelaskan bahwa logo dari SM*SH Indonesia merupakan tiruan dari SM*SH Korea. Terlepas dari fakta yang ada, di sini tabloid Gaul menggunakan politik bahasa dalam berita seputar boyband SM*SH. Hal ini bertujuan untuk menyenangkan para pembaca dan para fans SM*SH walaupun fakta yang ada di lapangan kadang-kadang bertentangan. Tetapi karena alasan ekonomi inilah wartawan memberitakan sebaliknya, mereka tidak mengikuti fakta yang mereka ketahui. Mereka tetap mengagung-agungkan SM*SH agar tabloid mereka laku di pasaran. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada level analisis teks, analisis sosial dan analisis kognisi sosial, ditemukan beberapa realitas (tendensi media) di balik wacana SM*SH dalam tabloid Gaul. Yang paling menonjol adalah tendensi bisnis dan ideologi dari pengelola media. Pada elemen Skematik, tabloid Gaul, memiliki kecenderungan memprioritaskan berita mengenai boyband SM*SH yang menjadi fenomena baru di industri musik Indonesia saat ini. Tabloid Gaul membentuk agenda setting atas berita SM*SH, walaupun tidak selalu diletakkan pada halaman depan namun tabloid Gaul memberikan porsi yang lebih besar untuk tema berita ini. Bisa dilihat pada banyaknya halaman dalam pemberitaan boyband SM*SH. Terkait dengan penyusunan sistematika pemberitaan, tabloid Gaul menerapkan semua unsur 5 W+1 H dalam menceritakan seluruh tema-tema pilihan mereka. Gaul juga sering memunculkan detail-detail yang ada secara eksplisit. Walaupun tidak menerapkan pola piramida terbalik namun dengan gaya pemberitaan yang santai, menggunakan bahasa sehari-hari dengan bahasa yang tidak baku dan formal, Gaul dapat mengusik emosional pembacanya. Dari elemen sintaksis, analisis atas isi berita tabloid Gaul sebagai agen budaya populer menunjukkan kecenderungan maksimalisasi argumen penguat bahwa SM*SH saat ini sudah menjadi “pahlawan baru” di kalangan remaja. Argumen yang berisi bahwa boyband SM*SH ini tidak mem-plagiat boyband Korea juga disajikan dalam pemberitaan tabloid Gaul. Detail mengenai klarifikasi SM*SH tentang isu seputar plagiat ditulis secara rinci oleh Gaul. Selain itu Gaul juga memberitakan tentang keberhasilan SM*SH sebagai “pahlawan baru” di kalangan remaja, dengan menghadirkan detail sikap fanatik dari para fans SM*SH atau menghadirkan komentar-komentar dari berbagai pihak sebagai penguat dan pendukung asumsi dan kesimpulan media. Pada elemen sintaksis, dimensi kalimat dan kata yang digunakan tabloid Gaul menunjukkan keunikan dalam mengekspresikan isu-isu seputar boyband SM*SH ini. Unit-unit analisis seperti bentuk kalimat, dan kata ganti yang dipakai dalam berita-berita tersebut menerangkan bagaimana tabloid Gaul mewacanakan boyband SM*SH ini. Seperti penggunaan kata “kita” yang sering digunakan untuk mewakili SM*SH. Kata “kita” jika ditilik lebih dalam terasa ada keinginan untuk merendah dan menghormati. Namun bukan hanya itu, “kita” adalah pengakuan bahwa individu tak bebas karena ia memiliki kelompok. Dalam keadaan seperti itu individu adalah serpihan kelompok. Di sini tabloid Gaul seakan mengajak para pembaca untuk mendukung SM*SH. Pada elemen stilistik dan retoris, sampel berita penelitian bertaburan dengan kata-kata tertentu. Bahkan secara eksplisit tabloid Gaul menggambarkan SM*SH sebagai seorang pahlawan dikalangan para remaja dimana adanya kekuasaan terhadapnya yang menjadikan ia sentral di kalangan para remaja. Dengan menggunakan pisau analisis Van Dijk kita bisa menemukan suatu kebenaran di balik teks. Bahkan selebihnya kita bisa menangkap motif para pembuat wacana entah itu berupa kepentingan idealis, ideologis, politik, ekonomis, dan sebagainya. Sehingga kita meyadari ternyata teks itu tidak begitu saja hadir di depan khalayak, melainkan hasil bentukan secara sadar atas pertimbangan-pertimbangan dan motif-motif tertentu tadi

Kata Kunci : Media Massa


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.