Berita Bencana Dalam Bingkai Budaya: Analisis Isi Kecenderungan Berita Utama Kedaulatan Rakyat dan Kompas tentang Peristiwa Erupsi Merapi pada Oktober-November 2010
UTAMI, Debora Dian , Muhammad Sulhan
2011 | Skripsi | Ilmu KomunikasiMedia dan budaya saling terkait satu sama lain. Bukan hanya media yang dapat mempengaruhi budaya yang berkembang dalam masyarakat, tetapi budaya masyarakat juga mempengaruhi cara media mengkonstruksi realitas masyarakat ke dalam teks berita. Hal ini terjadi pula ketika media memberitakan peristiwa bencana. Melalui berita bencana, respon masyarakat terhadap peristiwa-peristiwa alam dapat terlihat. Studi ini ingin memperlihatkan orientasi budaya masyarakat yang terlihat dalam teks berita pada dua harian dengan konteks masyarakat yang berbeda yakni Kedaulatan Rakyat sebagai koran daerah dan Kompas sebagai koran nasional. Penelitian dengan metode kuantitatif ini dilakukan dengan menganalisis pesan berita yang manifes kemudian diklasifikasikan menurut landasan budaya yang digagas C.A Van Peursen yang membagi orientasi manusia terhadap alam ke dalam tiga kategori yakni mistis, ontologis, dan fungsional. Ruang lingkup studi ini mencakup pemberitaan peristiwa erupsi Merapi tahun 2010 silam sejak 22 Oktober 2010 hingga 26 November 2010 pada headline Kedaulatan Rakyat dan Kompas. Pengklasifikasian orientasi tersebut diamati dari lima kategori yakni fase pemberitaan, sumber berita, dominasi sumber berita, topik utama, dan sumber pengetahuan dari informasi yang disampaikan dalam teks berita. Hasil penelitian menunjukkan Kedaulatan Rakyat sebagai surat kabar daerah Yogyakarta cenderung ontologis. Dari segi fase pemberitaan, 61,5% berita utama KR termasuk dalam fase pemberitaan bencana. Pada fase ini, sekitar 57,6% topik utamanya berkutat pada asal usul dan gejala-gejala erupsi Merapi. Sumber berita yang sering dimintai keterangan mengenai topik ini adalah first hand reports dan formal information channel terutama lembaga terkait (23,1%). Dari segi sumber pengetahuan, sekitar 69,2% berita utamanya berasal dari pendekatan scientific. Sementara itu, Kompas cenderung fungsional. Bila dibandingkan KR, Kompas lebih cepat masuk dalam fase pemberitaan paskabencana. Sekitar 23,1% berita utama Kompas membahas topik utama soal pengungsian dan jumlah korban dan kerugian. Ini semakin memperkuat karakter fungsional yang memandang baik buruknya gejala alam dari segi kepentingan manusia. Dari segi sumber beritapun, Kompas kerap memasukkan formal information channel dan first hand reports dalam teks berita, namun pemerintah (birokrat) tetap mendominasi dalam satu berita. Bila dibandingkan KR, sumber pengetahuan pada berita utama Kompas berasal dari teknologi dan pendekatan scientific. Hasil analisis terhadap temuan menemukan bahwa meskipun budaya turut mempengaruhi realitas media, namun budaya bukanlah faktor penentu utama. Ini diperlihatkan dari temuan KR yang cenderung ontologis, sementara budaya masyarakat Yogyakarta sebagai basis KR cenderung mistis. Selain itu, budaya yang tercermin dalam teks berita bukan hanya budaya komunitas semata. Kata kunci : surat kabar, jurnalisme bencana, orientasi budaya.
Kata Kunci : Bencana; Budaya