Strategi Sanggar Wayang Kancil Dalam Melestarikan wayang Kancil Di Daerah Istimewa yogyakarta Melalui Optimalisasi Fungsi Wayan Kancil Sebagai Media Komunikasi Tradisional
PRIMAWATI, Vinia Rizqi , Widodo Agus Setianto
2011 | Skripsi | Ilmu KomunikasiKeberadaan media komunikasi tradisional pada zaman dahulu merupakan suatu wahana yang dirasa tepat untuk menyebarluaskan informasi. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dan masuknya era globalisasi dalam kehidupan manusia, keberadaan media tradisional mengalami suatu penurunan yang cukup signifikan akan fungsi dan peranannya. Salah satu bentuk media komunikasi tradisional yang sekaligus merupakan kesenian adalah wayang. Berbagai ragam dan bentuk wayang menyebarkan informasi bagi para penonton dengan muatan nilai edukasi dan pesan persuasi. Bahkan banyak juga yang digunakan sebagai sarana ritual keagamaan. Keberdaan berbagai jenis wayan tentunya lambat aun menghadirkan wayang jenis baru. Salah satu wayang yang termasuk jenis baru dan termasuk kelompok wayang kulit telah hadir di Indonesia, yaitu wayang kancil, yang dihidupkan kembali sekitar tahun 1980 oleh Ki Ledjar Soebroto. Dan institusi wayang yang masih eksis dalam melestarikan keberadaan wayang kancil sebagi suatu media tradisional adalah sanggar wayang kancil. Sanggar wayang kancil menjalankan beberapa strategi instusi untuk menjaga kelestarian wayang kancil sekaligus dapat mengoptimalkan pesan yang disampaikan melalui cerita wayang kancil. Berbagai strategi yang telah ditetapkan oleh sanggar wayang kancil terkait pengoptimalan pesan dalam cerita wayang kancil terkait dengan tujuh hal. Ketujuh hal tersebut yaitu tujuan, sasaran, pesan, instrumen dan kegiatan, sumber daya, skala waktu, serta evaluasi dan perbaikan. Ketujuh hal tersebut dirasa penting untuk merumuskan strategi sanggar wayang kancil, yang dianalisa berdasar hal yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh sanggar wayang kancil. Ketujuh indicator tersebut cukup dapat memaparkan bagaimana strategi sanggar wayang kancil tetap dapat eksistensi sampai dengan saat ini. Beberapa hal yang perlu digaris bawahi terkait strategi sanggar wayang berdasar penemuan tersbeut, adalah bahwa kini banyak cerita wayang kancil telah dikombinasikan dengan isu seputar lingkungan hidup (environmental angle). Tentu ini juga merupakan suatu strategi yang tepat karena jalan cerita kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat ini, dimana saat ini manusia disibukkan dengan penanganan kasus global warming yang semakin merajalele. Untuk itu, diharapkan melalui topic dan jalan cerita yang dibawakan, pesan untuk melestarikan lingkungan hidup dapat tertanam di hati dan pikiran audiens. Hal lainnya adalah bahwa beberapa cerita wayang kancil kini telah bertransformasi ke dalam cerita yang lebih menarik, misalnya dengan menambah tokoh – tokoh hewan lain yang sekiranya dapat mendukung suatu cerita. Tentu hal tersebut merupakan salah satu strategi untuk memperbarui format pementasan wayang agar tampak lebih hidup dan lebih menarik. Dan yang juga penting adalah kenyataan bahwa adanya inovasi dalam lagu yang menjadi iringan pementasan wayang kancil. Lagu tersebut menggukan lagu anak – anak tradisional jawa. Dalam setiap pementasan, terjadi suatu realisasi atas kreatifitas seorang performer, yang dalam hal ini disebut dengan dalang. Ada unsur selera dan juga gaya mendalang pribadi bagi dalang yang memainkannya. Dan hingga kini, wayang kancil telah dapat berkembang dnegan cukup baik, namun masih terbatas dalam lingkup yang sempit. Sehingga, pesan – pesan yang disampaikan dalam suatu cerita wayang, hanya dapat dilihat oleh kalangan penikmat/komunitas pendukungnya saja, belum menjangkau masyarakat secara lebih luas. Ruang lingkup wayang kancil sebagian besar terpusat di wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Meski begitu, wayang kancil juga telah mendapat hati di beberapa tempat di luar negeri. Terbukti dengan banyaknya undangan pementasan wayang dan juga banyaknya koleksi wayang kancil Ki Ledjar yang dimiliki oleh orang asing atau museum luar negeri. Bahkan di Inggris, telah dijadikan dalam kurikulum wajib di pelajaran anak – anak di sekolah dasar. Strategi yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh sanggar telah berusaha mengidentifikasi lingkup internal sanggar dan juga eksternal sanggar. Beberapa strategi telah dapat diterapkan dengan baik. Namun, harapan ke depannya, wayang kancil diharapkan tetap eksis dan mampu menjadi suatu kesenian sekaligus media tradisional yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada khalayak, bukan lagi hanya anak – anak, namun pada semua lapisan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut, strategi yang cukup krusial yang akan diterapkan oleh sanggar wayang kancil terus berupaya untuk memperbarui fomat pementasan, membuat dokumentasi wayang, dan berharap pemerintah tidak hanya sekadar memberikan penghargaan. Pemerintah diharapkan juga mendukung pelestarian wayang kancil sebagai suatu kekayaan bangsa Indonesia sekaligus sebagai suatu media komunikasi tradisional. Dan juga berusaha untuk berkolaborasi dengan media modern, misalnya dengan selau melakukan update padagrup di situs jejaring sosial, blog, dan membuat game prototype wayang kancil. Disamping itu, wayang kancil diharapkan dapat lagi mendapat tempat di media audio visual seperti televisi, sehingga pesan yang terkadung dalam suatu pementasan wayang kancil dapat lebih tersalurkan ke lingkup yang lebih luas, mengingat media televisi dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.
Kata Kunci : Kesenian