Modal Sosial Dan Rehabilitasi-Rekonstruksi Psca Bencana ( Belajar dari Desa Wisata Kebon Agung, Imogiri-Bantul)
KRISWIBOWO, Arimurti, -
2011 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut. Pertama, pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa di Dusun Jayan berhasil namun tidak banyak menggunakan modal sosial sebagai strategi utama penyelesaiannya. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya organisasi namun tidak ada satu pun yang benar-benar dihidupi sebagai forum masyarakat yang aktif. Pokmas, ronda, Pokdarwis, gejog lesung dan karawitan karawitan, kelompok RT dan pedukuhan, semuanya itu hanya menjadi organisasi yang mempunyai bentuknya (eksis) namun tidak mempunyai isi (tidak di-persepsi sebagai sentral relasi sosial). Hanya ada sedikit partisipan dan angggota aktif yang bersemangat untuk menghidupkan organisasi-organisasi formal maupun informal tersebut. Kedua, berbeda dengan yang terjadi di Dusun Jayan, proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa yang dilakukan di Dusun Kalangan lebih banyak memanfaatkan dan mendayagunakan kekuatan modal sosial. Meskipun instutusi yang ada di Dusun Kalangan lebih sedikit dibandingkan yang ada di Dusun Jayan, akan tetapi kelompok-kelompok tersebut sungguh dihidupi secara aktif oleh penduduk sebagai forum untuk menjaga dan mempertahankan kekerabatan dan kohesi sosial. Konflik-konflik yang terjadi selama masa tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi dapat dikendalikan dan dicegah untuk menjalar secara lebih luas karena masyarakat Dusun Jayan mempunyai basis kohesi sosial yang mantap. Ketiga, aspek sosial ekonomi menjadi variabel yang berperanan penting untuk mendukung percepatan pelaksanaan proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Aspekaspek sosial ekonomi tersebut di antaranya dicerminkan melalui indikator tingkat pendidikan, kondisi kesehatan, kondisi lingkungan, rasio umur produktif, dan jumlah anak yang bersekolah. Di Dusun Jayan, cukup banyak penduduk yang bekerja sebagai pegawai kantor sehingga pendapatannya relatif mencukupi untuk menghidupi keluarga semasa krisis pasca gempa dan juga mampu untuk menambahi kekurangan biaya pembangunan rumah yang rusak. Semenara itu, di Dusun Kalangan penduduknya sebagian besar berprofesi sebagai petani, buruh, atau pekerja bangunan. Dalam konstelasi struktur mata pencarian seperti itu, pembangunan kembali rumah yang hancur dikerjakan secara bahu-membahu melalui gotong-royong dan saling membantu berdasarkan keahlian. Keempat, elemen modal sosial yang proporsinya cenderung dominan atau paling mempengaruhi proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa di Dusun Kalangan adalah elemen kepercayaan dan budaya gotong-royong. Basis institusi yang banyak mempengaruhi keberhasilan rehab-rekon adalah institusi ronda malam, dimana masyarakat secara aktif dan kontinyu bertemu dan memiliki ikatan antar pribadi yang lebih matang. Ada pun kerukunan yang terjadi di Dusun Jayan lebih didasarkan pada faktor primordial yang bersifat terberi, yaitu hubungan kekerabatan karena ikatan hubungan darah antar warganya. Dalam pada itu, setiap konflik yang terjadi di Dusun Jayan, misalnya dalam kasus pembagian bantuan fisik, jarang menjadi berkepanjangan dan dengan mudah dapat diredam karena ada rasa dan sentimen untuk merasa canggung dan tidak enak apabila berkonflik dengan tetangganya yang notabene masih saudaranya sendiri. Kesuksesan warga Jayan dalam melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi terpola dalam aktivitas pemuda yang saling membantu, hal ini menandakan bahwa basis intitusi kepemudaan yang ada di dusun Jayan tetap terlihat dalam langkah-langkah rehabilitasi dan rekonstruksi. Sementara itu, kerukunan yang timbul di antara warga Dusun Kalangan bersifat lebih substantif dan mendalam karena selain dipengaruhi oleh fakta adanya hubungan darah di anatara sebagian dari penduduk, intensitas pertemuan antar warga dalam institusi-institusi yang ada juga menyumbang peranan penting untuk menciptakan atmosfer kerukunan dan keguyuban antar warga Dusun Kalangan, yang pada gilirannya juga menguatkan dan memperkaya modal sosial. Kelima, tidak ada korelasi antara modal sosial yang terdapat di dusun Jayan dan kesuksesan rehabilitasi desa wisata Kebon Agung yang berhasil mendapat peringkat tiga desa wisata terbaik di Indonesia. Kedekatan antara elit pengambil kebijakan dan pengurus desa wisatanya saja yang menbuat Desa Wisata memperoleh gelar bergengsi ini.
Kata Kunci : Modal Sosial