Pola Relasi Kelas Sosial Pembatik Tulis Perempuan Dalam Struktur Ekonomi dan Struktur Budaya Studi Kasus: Pembatik Tulis Perempuan di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyaka
VEBRIANI, Pramudita Retno, Hasrul Hanif
2011 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Perempuan pembatik tulis merupakan sebuah bagian yang penting bagi perkembangan industri batik tulis di Indonesia. Kehadirannya seharusnya dianggap sebagai nafas kelanjutan dari industri batik tulis di Indonesia, karena mereka merupakan sekelompok orang yang hingga kini masih mempertahankan tradisi serta mampu berperan serta dalam perekonomian di Indonesia. Walau begitu penelitian mengenai pembatik tulis perempuan, apalagi menyangkut analisis kelas sosialnya, masih jarang ditemukan. Skripsi ini difokuskan pada bagian-bagian yang berlangsung di dalam kelas sosial perempuan pembatik; melihat pembentukan dan pembagian kelas sosial perempuan pembatik, struktur ekonomi dan pola relasi gender, serta bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender yang melingkupi dan bagaimana perempuan pembatik tersebut resisten terhadap ketidaksetaraan tersebut. Penelitian dilakukan terhadap para pembatik tulis serta komunitas batik tulis di Desa Wukirsari dimana telah menjadi Desa Wisata Sentra Batik Tulis di Kecamatan Imogiri. Data penelitian dalam skripsi ini mencatat bahwa membatik merupakan pekerjaan eksklusif perempuan; dengan lebih banyaknya jumlah pembatik tulis perempuan daripada pembatik tulis laki-laki. Feminisasi pekerjaan tersebut merupakan sebuah pewarisan yang telah dilanggengkan melalui kebudayaan dan tradisi dalam waktu lama. Pembatik tulis perempuan sendiri bukanlah sebuah identitas yang tunggal, karena terdapat dua kelas di sana, pembatik tulis yang nyambi dan utama. Kedua kelas tersebut hadir, karena kesadaran kelas yang berbeda; di mana yang satu berusaha untuk mengakumulasi alat produksi dan yang lainnya tidak. Kesadaran kelas tersebut hadir sedikit banyak karena adanya diferensiasi dalam hal jumlah kepemilikan modal yang dipunyai oleh masing-masing kelas pembatik. Selain melihat pembentukan kelas perempuan pembatik tulis, penelitian ini juga ingin melihat struktur ekonomi serta kultural dimana kelas pembatik perempuan sangat berperan di sana serta ketidaksetaraan gender yang hadir di dalamnya. Ketidaksetaraan pola relasi gender di keluarga dan masyarakat pembatik seringkali masih terkait erat dengan budaya patriarki. Budaya patriarki tersebut dapat dilihat dari adanya sekunderisasi pekerjaan membatik dan masih sering dianggap sepele. Hal itulah yang menyebabkan adanya resistensi dari kalangan pembatik tulis perempuan dengan cara melakukan strategi untuk melawan ketidaksetaraan gender tersebut. Berbagai pemberdayaan dan pelatihan dilakukan untuk meningkatkan citra membatik agar dianggap mempunyai peranan yang signifikan di Giriloyo. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kontribusi teoritik terkait dengan feminisme. Sehingga dapat menambah wawasan, bahwa persoalan mengenai perempuan masih banyak terjadi dan seringkali tanpa disadari oleh perempuan itu sendiri. Tanpa adanya kesadaran dari pihak perempuan sendiri, maka penyelesaian diskriminasi terhadap perempuan menjadi mustahil untuk diselesaikan.
Kata Kunci : Ekonomi; Budaya