Peranan Perempuan dalam Bina Damai di Kenya: Studi Kasus Konflik di Rift Valley Tahun 1990-an
Olga Audita A., Samsu Rizal Panggabean
2011 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalPada awal dekade 1990-an, Kenya mengalami beberapa konflik antaretnis yang cukup besar dan meluas ke hampir seluruh wilayah Kenya. Konflik antaretnis ini dimulai di Propinsi Rift Valley. Konflik di Propinsi Rift Valley ini berawal dari ketidakmerataan pembagian wilayah antaretnis pasca kemerdekaan Kenya. Suku Kalenjin dan Maasai yang merupakan penghuni asli wilayah Rift Valley tersingkir karena kehadiran suku-suku pendatang, antara lain Kikuyu, Meru, Embu, Luo, Luhya, dan Kisii. Keadaan ini kemudian dimanfaatkan oleh Daniel Moi untuk kepentingan politiknya pada pemilu multipartai pertama Kenya pasca kemerdekaan. Dalam konflik ini secara umum perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan. Hal ini mendorong mereka untuk mengorganisasikan diri untuk menghentikan konflik melalui upaya bina damai yang mereka perjuangkan. Skripsi ini selanjutnya melihat tindakan apa yang dilakukan para perempuan dalam upaya bina damai di Propinsi Rift Valley dan apakah upaya tersebut berhasil. Kekerasan yang banyak dialami oleh perempuan selama konflik berlangsung membuat mereka memilih cara-cara nirkekerasan, seperti diplomasi multijalur dan aksi nirkekerasan, untuk mengupayakan bina damai. Upaya bina damai yang mereka lakukan dalam periode dekade 1990-an belum bisa dikatakan berhasil meski tidak bisa juga dikatakan gagal untuk mencapai perdamaian dan kesetaraan gender. Dengan kata lain, upaya bina damai yang mereka lakukan hasilnya masih bercampur. Kata kunci: bina damai, perempuan, nirkekerasan, diplomasi multijalur
Kata Kunci : Perempuan; Konflik