Pemberdayaan Pelaku Usaha Mikro Melalui Program Kredit Usaha Rakyat Di Kartasura
PUTRIYANI, Ika Winis , Hempri Suyatna
2011 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)UMKM menjadi pilihan usaha bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Lahan pertanian dan lapangan pekerjaan semakin sempit, sehingga masyarakat beralih kepada sektor UMKM sebagai mata pencaharian. Usaha mikro merupakan pintu masuk yang relatif mudah bagi pengusaha pemula, oleh karena itu usaha mikro perlu diberdayakan. Pelaku usaha mikro memiliki hambatan dalam pengembangan usaha seperti permodalan, persaingan usaha, jaringan pasar dan manajerial yang masih rendah. Permodalan menjadi bagian utama dalam pengembangan usaha mikro. Permodalan bagi usaha mikro jumlahnya terbatas. Keterbatasan modal tersebut membuat usaha mikro mengalami kekurangan modal. Perlu adanya kredit lunak dengan syarat dan ketentuan yang bisa dengan mudah diakses oleh pelaku usaha mikro. KUR (Kredit Usaha Rakyat) menjadi salah satu pilihan kredit bagi pelaku usaha mikro untuk memperoleh tambahan modal. Dalam perkembangannya, KUR telah mengalami banyak perubahan dan perkembangan mulai dari penurunan suku bunga, penambahan bank penyalur KUR hingga disyaratkannya agunan tambahan yang berupa serifikat atau BPKB kendaraan bermotor sebagai syarat pengambilan kredit. Dengan perubahan ini, program KUR dapat menarik pelaku usaha untuk mengaksesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah program KUR berhasil atau tidak memberdayakan pelaku usaha mikro penerima KUR. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini mengambil informan dari pelaku usaha mikro di bidang perdagangan dan jasa yang mengakses KUR mikro sebanyak 16 informan. Informan pendukung berasal dari Dinas Koperasi dan UMKM serta pihak perbankan. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo. Daerah ini dipilih karena UMKM di Kartasura sudah banyak yang mengakses KUR mikro. Dari penelitian ini diketahui bahwa pinjaman KUR lebih banyak digunakan untuk kebutuhan konsumtif daripada digunakan sebagai tambahan modal. Hal tersebut membawa dampak pada usaha, usaha informan tidak mengalami perkembangan bahkan sampai gulung tikar. Program KUR yang lebih banyak digunakan untuk kebutuhan konsumtif membuat program ini gagal memberdayakan usaha mikro karena tidak ada indikator perkembangan usaha yang terjadi Program KUR ini hampir serupa dengan program pemerintah terdahulu. Dampaknya pun sama yaitu belum dapat mengatasi kemiskinan. Pemberdayaan masyarakat dengan pemberian program KUR ini juga tidak berhasil. Kegagalan program KUR ini dipengaruhi oleh adanya productivity culture pelaku usaha mikro yang relatif rendah. Hal tersebut ditandai dengan tingkat pendidikan pelaku usaha mikro yang juga relatif rendah. Dengan productivity culture yang rendah, mustahil bagi pelaku usaha mikro untuk siap menghadapi era globalisasi. Keyword : pemberdayaan, KUR, productivity culture
Kata Kunci : Kredit Usaha Kecil