Peran Sekolah Khusus Autis Bian Anggita Yogyakarta Dalam Usaha Membebaskan Siswa Dari Belenggu Marginalisasi
Cory Jayanti, Danang Arif Darmawan
2011 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Keberadaan kaum difabel di tengah kehidupan sosial bermasyarakat tidaklah dimaknai sebagai sebuah keberagaman, melainkan sebuah bentuk ketidaknormalan yang memang harus dipisahkan karena dinilai akan mengganggu, demikian pun dalam bidang pendidikan. Alhasil, sekolah khusus yang menerapkan model pendidikan segregasi seperti merupakan solusi terbaik agar siswa difabel tetap dapat mengakses pendidikan. Namun, pemisahan yang terjadi akibat model pendidikan tersebut dinilai justru makin memperbesar marginalisasi bagi siswa difabel karena tidak akan menjadikan baik siswa difabel maupun non difabel dapat beradaptasi akan keberadaan satu sama lain. Untuk itulah dalam penelitian ini, akan dilihat bagaimana peran dari Sekolah Khusus Bina Anggita Yogyakarta yang menggunakan model pendidikan segregasi dalam membebaskan siswanya dari belenggu marginalisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Adapun unit analisis dalam penelitian ini adalah Sekolah Khusus Bina Anggita Yogyakarta. Purposive sampling merupakan teknik yang digunakan untuk menentukan informan. Analisis berdasarkan dari informasi yang didapatkan melalui 3 orang informan dari pihak sekolah, 3 orang informan dari pihak keluarga, dan 4 orang informan dari pihak masyarakat. Penelitian ini menggunakan tinjauan pustaka antar lain, prinsip Multikultural (Plato) yang diperkenalkan melalui adanya kurikulum Liberal Arts; Dialektika Manusia dan Masyarakat (Berger) yang terjadi dengan tiga tahapan, yakni eksternalisasi, obyektivasi dan internalisasi; konsep Normalitas dan Abnormalitas (Foucault) dalam studinya tentang Kegilaan dan Peradaban, konsep Marginalitas (Johnson); model Pendidikan Segregasi; Model Pendidikan Inklusif (Sapon-Shevin). Hasil dari penelitian yang dilakukan, keberadaan Sekolah Khusus Bina Anggita yang menerapkan model pendidikan segregasi dinilai hanya berfokus pada perbaikan kondisi pribadi siswa saja. Karena program-program yang diberikan oleh Bina Anggita bukanlah program yang bertujuan untuk membuka ruang interaksi anak autis dengan masyarakat, namun hanya bertujuan mengenalkan anak akan dunia di luar lingkungan sekolah. Alhasil, Program yang melibatkan masyarakat di dalamnya juga hanya menghasilkan stereotype atas anak autis itu sendiri. Kondisi ini juga mengakibatkan predikat ketidaknoramalan pun tetap saja melekat dalam diri anak autis ketika mereka menunjukkan potensinnya kepada masyarakat. Selain itu, informasi yang didapatkan dari informan yang merupakan masyarakat baik yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah ataupun lingkungan tempat tinggal siswa menyatakan bahwa interaksi yang terjadi antara dirinya dengan anak autis yang bersangkutan sangat minim bahkan hampir tidak terjadi pada kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Anak autis, Marginalisasi, Sekolah Khusus, Segregasi.
Kata Kunci : Pendidikan