Laporkan Masalah

Aksesibilitas Pendidikan Formal Sebagai Sarana Memandirikan Anak Jalanan (Studi kasus mengenai akses pendidikan formal bagi anak jalanan di SD Mangunan Kalitirto Berbah Sleman)

Elisabeth Dikna P.T, Susi Daryanti

2011 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)

Di dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Namun kenyataannya hingga saat ini masih banyak masyarakat yang tidak memperoleh akses pelayanan pendidikan secara optimal. Adanya perbedaan dalam akses pelayanan pendidikan ini secara tidak langsung menimbulkan gesekan sosial dalam masyarakat. Masyarakat kalangan atas dapat dengan mudahnya mendapatkan pelayanan pendidikan yang maksimal sebaliknya masyarakat kalangan bawah khususnya anak jalanan kesulitan dalam memperoleh akses pelayanan pendidikan. Kemiskinan telah mengakibatkan munculnya perbedaan pelayanan pendidikan selama ini, padahal pendidikan bagi anak jalanan merupakan hal yang sangat penting. Disatu sisi pendidikan akan meningkatkan kualitas SDM mereka dan disisi lain akan membantu pemerintah dalam menanggulangi peningkatan jumlah anak jalanan. Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dengan lokasi penelitian di SD Mangunan. SD Mangunan dipilih dengan alasan sekolah tersebut merupakan sekolah yang didirikan untuk masyarakat kalangan bawah. Teknik penelitian menggunakan purposive sampling. Unit analisis terdiri dari 20 informan yang terdiri dari elemen pemerintah dan masyarakat. Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan tujuan untuk dapat menggali informasi secara langsung melalui informan yang dibutuhkan.Dari informasi yang didapat dan hasil observasi lapangan kemudian dilakukan triangulasi dan konfirmabilitas sebagai teknik analisis data. Analisis data menggunakan teori strukturasi dari Anthony Giddens dan didukung pemikiran dari tokoh pendidikan Paulo Freire. Giddens memperlihatkan adanya hubungan antara struktur pemerintah melalui berbagai kebijakan yang dijalankan dengan agen atau masyarakat penerima kebijakan itu sendiri. Freire sendiri lebih menekankan pendidikan yang tidak berpihak pada rakyat miskin, tetapi sebaliknya justru mengasingkan dan menjadi alat penindasan oleh penguasa karena hanya menguntungkan penguasa semata. Dari hasil penelitian diketahui bahwa SD Mangunan hingga saat ini masih berkomitmen dengan visi misi awalnya, walaupun sudah ditinggalkan oleh alm. Romo Mangun sebagai penggagas awal sekolah tersebut. Beberapa anak jalanan diterima di sekolah tersebut tanpa syarat yang berbelit. Keberadaan anak jalanan tersebut tidak terlepas dari keberadaan LSM Dreamhouse yang juga mempunyai kepedulian terhadap anak jalanan. Adanya sinergi antara SD Mangunan dan LSM Dreamhouse semakin mempermudah jalannya masyarakat marjinal seperti anak jalanan dalam memperoleh akses pelayanan publik. Kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak masyarakat seperti anak jalanan semakin menguatkan komitmen SD Mangunan untuk terus memberikan pelayanan pendidikan bagi mereka. Kata Kunci : Akses pelayanan pendidikan, Anak jalanan, SD Mangunan.

Kata Kunci : Pendidikan; Anak Terlantar


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.