Komunikasi Sosial Program Eksploitasi Air Gua Plawan Dengan EnergiTerbarukan
Unggul Anggito Adri, Nyarwi
2011 | Skripsi | Ilmu KomunikasiPasca implementasi Program Eksploitasi Air Gua Plawan dengan Terbarukan (2006-2008), masyarakat belum mendapatkan dampak positif sesuai dengan tujuan dilaksanakannya program ini. Berbagai kerusakan instalasi yang terjadi pasca pembangunan mengakibatkan tidak meratanya pembagian air bersih kepada warga masyarakat pada tujuh dusun yang ada di Desa Giricahyo. Akar 96 masalah dari berbagai hal tersebut adalah kurang adanya sinergisitas antara berbagai pihak yang bertindak sebagai katalis. Dalam kaitannya dengan peranan yang dimainkan oleh agen perubahan para mahasiswa yang tergabung dalam Waterplant Community menjadi satu-satunya agen perubahan yang paling aktif untuk mempersuasi agen perubahan yang lain, dalam hal ini adalah pemerintah daerah dan universitas. Berbagai formulasi solusi banyak yang secara mandiri merupakan keluaran dari Waterplant Community. Ibarat dalam permainan rubik maka satu-satunya pelaku yang aktif untuk memecahkan solusi dalam mengurutkan warna yang serupa hanyalah Waterplant community melalui usulan program KKN tematik dari tahap I-V. Hal ini pun sangat bisa dimaklumi mengingat dari sudut pandang universitas aktivitas kemahasiswaan seperti yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa tersebut hampir belum pernah dilakukan oleh mahasiswa manapun sehingga format pendampingan yang dilakukan oleh pihak universitas masih berupa pendampingan yang bersifat parsial. Belum adanya format pendampingan yang terintegrasi dan kumprehensif menyebabkan kualitas studi kelayakan sebagai sebuah representasi dokumen untuk mengenali permasalahan (recognition of a problem) yang dilakukan dalam rentang waktu sejak pertengahan tahun 2005 sampai dengan pertengahan tahun 2006 menjadi kurang dalam dan kurang bisa mengidentifikasi keterlibatan pemimpin dan para pemangku kepentingan (identification and involvement of leader and stakeholders) yang terlibat dalam konstelasi permasalahan kekeringan air di Desa Giricahyo. Hal ini terbukti dengan baru disadari dan dipahami tentang adanya fakta bertingkat dalam kehidupan bermasyarakat di Desa Giricahyo pada saat dilakukannya program KKN tematik tahap III pada pertengahan tahun 2007. Keterlambatan dalam melakukan pengenalan terhadap masalah yang terjadi di Desa Giricahyo mengakibatkan pihak Waterplant Community hanya condong kepada pihak tertentu yang sedang memegang kekuasaan di desa tersebut. Kedekatan ini meskipun tidak menimbulkan friksi bagi masyarakat desa, namun secara tidak langsung membuat obyektifitas Waterplant Community sebagai agen perubahan menjadi terganggu. Sementara di sisi lain masyarakat desa yang sudah bosan dengan intrik politik yang banyak dilakukan oleh para elit politik di desa 97 Giricahyo cenderung menghindari berbagai dialog yang diadakan secara formal hal ini diakibatkan oleh kejenuhan masyarakat oleh berbagai intrik yang sering dilakukan hanya untuk mendapatkan kekuasaan. Terputusnya hubungan komunikasi dua arah antara institusi formal dan non-formal di Desa Giricahyo mengakibatkan berbagai proses penyepakatan (consensus on action) hanya terselesaikan pada tataran elite saja, sementara pada tataran masyarakat awam arus informasi ini tidak sampai kepada mereka. Implikasinya bisa dilihat pada macetnya pola penagihan rekening air melalui kelompok masyarakat (POKMAS) yang dibentuk di setiap hidran umum guna mengumpulkan uang pembayaran air yang sebagiannya harus disetor kepada OKAM. Meskipun diantara mereka berdalih bahwa macetnya setoran tersebut karena memang air tidak pernah mengalir sampai ke hidran umum di lingkungan mereka namun hal ini pun juga terjadi pada hidran-hidran umum yang masih mendapatkan aliran air. Selain itu, kurang mendalamnya analisis dari studi kelayakan bisa dilihat dari aspek pemilihan teknologi yang digunakan pada program ini. Hal ini dikarena studi kelayakan tersebut hanya menyebutkan secara eksplisit dan implisit bahwa air bisa dinaikkan dan bisa dimanfaatkan, namun dalam studi kelayakan tersebut belum membahas tentang kemampuan sumber daya masyarakat di desa tersebut untuk berperan sebagai inisiator awal pengelola Organisasi Kelola Air Mandiri yang tupoksinya tidak hanya terkait dengan tugas administratif namun juga terkait dengan pemeliharaan dan operasionalisasi instalasi primer yang menggunakan genset serta instalasi sekunder yang digerakkan dengan tenaga matahari baik yang berada di atas tanah maupiun yang berada di bawah tanah. Hal ini dibuktikan dengan tidak munculnya penanda perubahan individu pada pengurus OKAM yang telah mendapatkan rangkaian pelatihan baik yang bersifat teknis, administrative serta kemampuan pengetahuan tentang hard skills dan soft skills, sehingga meskipun secara kuantitatif mendapatkan asupan informasi yang berkaitan dengan kedmampuan, namun secara kualitatif tidak muncul secara signifikan adanya perubahan dalam hal pengetahuan, sikap dan skills. 98 Salah satu penyebab dari tidak optimalnya proses recognition on problem yang menjadi akar dari kurang optimalnya proses penanganan permasalahan yang terjadi di Desa Giricahyo adalah dikarenakan model yang digunakan dalam usaha untuk melakukan perubahan sosial tidak sepenuhnya menggunakan model community dialogue dan collective action, namun lebih didominasi konsep externally generated change, dimana tipe perubahan semacam ini menggunakan pendekatan yang lebih top-down. Hal ini bisa terlihat dari konsep solusi yang ditawarkan kepada masyarakat merupakan konsep yang dibuat oleh pihak Waterplant Community jauh sebelum dilakukannya proses dialog kepada masyarakat. Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak memiliki opsi selain yang ditawarkan oleh pihak Waterplant Community yang berimplikasi pada ketidakpahaman masyarakat terhadap logic yang digunakan untuk merumuskan dan memilih teknologi yang dipakai dalam penanganan masalah kekeringan di Desa Giricahyo. Masyarakat di Desa Giricahyo lebih diberi porsi dalam dialog untuk merumuskan keberlanjutan pengelolaan air bersih pasca pembangunan instalasi fisik tersebut. Sehingga mengakibatkan masyarakat menanggung beban dari alternatif solusi yang sebenarnya tidak pernah mereka pilih sendiri. B. Saran Salah satu aspek yang paling penting dalam sebuah usaha pemberdayaan masyarakat adalah mampu ditemukenalinya berbagai permasalahan yang ada di dalam masyarakat (recognition on problem) baik yang sifatnya tampak maupun yang bersifat laten. Hal ini sangatlah penting, mengingat dengan mampu ditemukenalinya permasalahan yang ada, maka akan mampu dibuat sebuah profil tentang peta permasalahan yang ada di dalam masyarakat tersebut. Hal tersebut akan sangat membantu bagi para agen perubahan untuk bisa memformulasikan pilihan aksi (option for action) yang tidak hanya sekedar sebagai sebuah keinginan (will) namun lebih jauh mampu menyajikan berbagai pilihan yang memang benar-benar muncul sebagai sebuah kebutuhan rill (real needs) di dalam 99 masyarakat. Hal itu juga akan membantu bagi para agen perubahan dalam bersikap secara obyektif. Sinergisitas antar berbagai pihak yang berperan sebagai katalis juga merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya. Karena dengan adanya keterlibatan multi stakeholders dalam sebuah program selain juga akan memberikan dampak yang masif dan efektif dalam mencapai tujuan yang diinginkan, namun di lain sisi jika tidak terjadi sinergisitas yang baik, maka kehadiran multi stakeholders tersebut justru akan menimbulkan permasalahan lanjutan karena masing-masing parapihak masih menggunakan standarnya masing-masing yang bisa jadi sangatlah subyektif dan berbeda. Untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, akan lebih bijaksana jika segala proses yang dilakukan melibatkan pasrtisipasi masyarakat secara penuh. Agen perubahan seyogyanya bisa memposisikan diri sebagai fasilitator yang secara cerdas mampu memberikan alternatif solusi yang akan bermuara pada proses konfirmasi masyarakat. Hal ini sangatlah penting agar selain tercipta tranparansi proses komunikasi juga memberikan pelajaran kepada masyarakat agar bisa lebih berdikari.
Kata Kunci : komunikasi sosial