DINAMIKA PERKEMBANGAN SANGGAR GADHUNG MLATI DAN EKSISTENSINYA SEBAGAI KEBUDAYAAN LOKAL (Studi Mengenai Sanggar Gadhung Mlati di Dusun Ngampel, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang Dalam Upa
ARYU F.D.K.D, Suharman
2011 | Skripsi | SosiologiMenurut E B Tylor, kebudayaan mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaankebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Di masyarakat lereng Merapi terdapat local culture. Kebudayaan ini nampak dalam setiap kegiatan sehari-hari meliputi sistem kepercayaan, sistem mata pencaharian, dan kesenian, seperti dusun Ngampel, desa Sengi, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang. Di dusun ini berkembang kesenian yaitu seni pahat batu dengan adanya sanggar Gadhung Mlati. Sanggar Gadhung Mlati memproduksi suatu karya seni pahat batu berupa patung. Kesenian patung dengan jenis fine art sampai saat ini masih dapat terjaga keeksistensiannya meskipun ada arus globalisasi. Globalisasi telah membawa suatu transformasi kehidupan yang serba modern, termasuk aspek kebudayaan. Kebudayaan pasca globalisasi seringkali menggeser keberadaan kearifan lokal di pedesaan. Begitu juga keberadaan seni pahat batu berupa patung yang ada di sanggar Gadhung Mlati. Seharusnya keberadaan seni pahat batu yang ada di sanggar mengalami pergeseran dan digantikan oleh kebudayaan yang bersifat modern, tetapi senyatanya hal ini tidak terjadi dalam sanggar Gadhung Mlati. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode kualitatif adalah penelitian yang sebagian besar alat buktinya tidak berupa data numerik yang dianalisis dengan uji statistik. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu, yaitu para pemuda yang ada di dalam sanggar Gadhung Mlati. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah ketua sanggar Gadhung Mlati, anggota, dan masyarakat dusun Ngampel. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan observasi. Menurut Sanapiah Faisal, proses analisanya yaitu proses pengumpulan data, reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan (Sanapiah, 2007 : 255) Di dalam perkembangan sanggar Gadhung Mlati terdapat dinamika yang dimulai pada tahun 1995 sanggar berdiri, tahun 2000 sanggar membangun bengkel seni, tahun 2001 keberadaan sanggar mulai dikenal, tahun 2007 sanggar mendapatkan prestasi, dan tahun 2011 ini sanggar masih terjaga keeksistensiannya. Di dalam dinamika ini terdapat unsur-unsur kebudayaan yang saling memberi fungsi. Unsur tersebut adalah sistem kepercayaan, sistem mata pencaharian, dan kesenian. Ketiga unsur tersebut membentuk satu kesatuan dan saling memberi fungsi membentuk keseimbangan. Hal ini yang menguatkan sanggar Gadhung Mlati untuk tetap dapat dipertahankan keeksitensiannya meskipun arus globalisasi telah masuk di lingkungan pedesaan. Dalam era yang makin global ini sanggar dapat mengembangkan wilayah pemasaran sampai luar negeri melalui media email dan facebook sehingga sanggar semakin eksis dan menjadi tumpuan ekonomi bagi Ismanto dan angotanya.
Kata Kunci : Kebudayaan