Laporkan Masalah

“EKSISTENSI LAYANAN PENDIDIKAN DAN KESEHATAN MUHAMMADIYAH” (Studi Tentang Keterlibatan Third Sector dalam Pelayanan Publik)

TETIN OKTARINA, Bayu Dardias Kurniadi

2011 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)

Sektor pendidikan dan kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat. Negara sebagai pemegang otoritas penyelenggara kedua layanan tersebut belum tentu bisa memberikan jaminan pada dimensi aksesibilitas dan dimensi equality dari pelayanan publik. Oleh karena itu, adanya pilar-pilar kesejahteraan lain yang bisa dijadikan sebagai alternatif dari kegagalan peran negara. Pilar-pilar kesejahteraan itu adalah komunitas keluarga, pasar, dan third sector. Penelitian ini akan memfokuskan pada salah satu pilar kesejahteraan, yaitu dengan hadirnya third sector di Indonesia. Third sector adalah pilar kesejahteraan yang berbasiskan pada voluntary dan sebagai bagian dari non profit organizations (NPO). Hadirnya third sector di Indonesia dilihat dari peran Muhammadiyah dalam penyelenggaraan layanan pendidikan dan kesehatan. Pada fase awal kelahiran Muhammadiyah, Muhammadiyah dapat dikategorikan sebagai bagian dari third sector. Namun dalam perjalanannya perlu melihat ulang keterlibatan Muhammadiyah sebagai bagian dari third sector, yaitu dengan menelisik pada eksistensi Muhammadiyah sebagai penyedia layanan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus, dengan mengambil fokus pada layanan-layanan pendidikan dan kesehatan Muhammadiyah di Yogyakarta. Penelitian ini memfokuskan pada pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh SD Muhammadiyah Sapen, SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta, dan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Sedangkan dalam layanan kesehatan difokuskan pada layanan yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Berdasarkan penelitian ini, logika third sector awalnya terlihat dalam layanan Muhammadiyah, yaitu dengan melihat pada tiga hal, pertama, layanan Muhammadiyah sebagai alternatif hadirnya layanan negara, yaitu bahwa layanan Muhammadiyah hadir ketika negara belum merdeka, maka belum ada pihak yang mempunyai otoritas untuk menjamin keberlangsungan pelayanan publik. Kedua, basis voluntary dalam layanan Muhammadiyah, hal ini dapat dilihat dari nilai-nilai yang coba diinternalisasikan pada layanan Muhammadiyah. Dan ketiga, sumber pendanaan layanan, yaitu bahwa layanan Muhammadiyah bersifat non profit making, oleh karena itu adanya upaya mobilisasi sumber-sumber dana philanthropic untuk operasionalisasi layanan Muhammadiyah. Saat ini yang terjadi Indonesia sebagai bangsa yang merdeka telah melakukan upaya pada perbaikan layanan pendidikan dan kesehatan, selain itu munculnya aktor-aktor non negara yang turut menyelenggarakan layanan. Hal ini menjadi tantangan bagi Muhammadiyah untuk menjaga eksistensinya, yaitu Muhammadiyah harus bisa bersaing. Muhammadiyah kini berupaya untuk memperbaiki kualitas dalam hal fasilitas dan jenis layanan yang diberikan. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan sokongan dana yang tidak sedikit, padahal disisi lain kini dana-dana philanthropic tidak bisa digunakan dalam operasionalisasi layanan. Akibatnya, kini pendanaan layanan utama bersumber pada pengguna layanan. Dan Muhammadiyah juga terlihat mencari celah pendanaan lain, yaitu dengan mendekat dengan negara dan menggunakan logika pasar dalam operasionalisasi layanannya. Berdasarkan penelitian ini, third sector sebagai pilar kesejahteraan perlu dipertanyakan kembali relevansinya sebagai alternatif dari kegagalan pilar kesejahteraan yang lain. (Kata kunci: third sector, layanan Muhammadiyah)

Kata Kunci : Pendidikan ; Kesehatan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.