Laporkan Masalah

PEMBERDAYAAN DIFABEL OLEH BBRSBD “PROF. DR. SOEHARSO” SURAKARTA

Yulia Dian Widyastuti, Ambar Teguh Sulistiyani

2011 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Latar belakang: Jumlah difabel yang semakin banyak dikarenakan terdapat gempa bumi dan bencana alam yang lain. BBRSBD sebagai lembaga dibawah kementrian sosial yang terbesar dalam memberdayakan difabel. Difabel lulusan dari BBRSBD masih banyak yang tidak dapat bekerja secara normal. Hal tersebut dilihat dari penyaluran kerja tahun 2009 hanya 48 difabel, yaitu sekitar 14,59% dari 329 difabel. Tujuan Penelitian: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mendiskripsikan BBRSBD “Prof. Dr. Soeharso” Surakarta dalam menjalankan perannya melalui kegiatan-kegiatan sebagai upaya pemberdayaan difabel. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik kualitatif, untuk menggambarkan keadaan penelitian berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang karakter yang khas dari status atau peristiwa yang terjadi ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat yang khas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, observasi serta dokumentasi yang menghasilkan data primer dan sekunder. Hasil : BBRSBD memberdayakan difabel melalui pemberian treatment dalam mendapatkan pekerjaan melalui keterampilan dan kemampuan dalam berinteraksi dengan masyarakat secara wajar. BBRSBD kurang optimal dalam pemberdayaan difabel karena hanya mengadopsi nilai- nilai inklusif secara semu disertai jumlah instruktur dan fasilitas yang kurang memenuhi. Penerapan treatment dilakukan melalui nilai keadilan dan kebersamaan dengan masyarakat. BBRSBD adil dalam memberikan pelayanan bagi difabel melalui pemberian porsi waktu bekerja antara difabel dan masyarakat yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Penerapan kebersamaan dilakukan melalui kegiatan PKL dan PBK. Sebelum mengikuti kegiatan PKL dan PBK, pembimbing memberikan pesan khusus kepada difabel, bahwa difabel yang mengikuti kegiatan PKL dan PBK adalah difabel yang dinyatakan kuat secara fisik serta didukung bahwa difabel dapat mandiri. Sedangkan BBRSBD memberikan pesan ke masyarakat untuk membantu difabel dalam beraktifitas saat mengikuti PKL atau PBK dan memberikan pengertian bahwa difabel dapat mandiri. Melihat hal tersebut, BBRSBD belum memberikan sosialisasi sesuai dengan nilai inklusif dengan benar. BBRSBD tidak memberikan pengertian bahwa difabel tidak dapat mandiri secara utuh, melainkan memberikan pandangan yang menyiratkan bahwa difabel dapat mandiri seperti masyarakat lainnya. Penerapan cara belajar di BBRSBD tidak digabungkan bersama anak yang lain (tidak cacat) dalam kelas reguler, namun dengan cara menitipkan difabel dalam aktifitas masyarakat saat bekerja disebuah home industry. Hal tersebut tidak dapat membantu banyak dalam mengasah mental difabel karena intensitas kebersamaan difabel dan masyarakat terbatas. Difabel didampingi oleh pembimbing dalam beraktifitas bersama masyarakat sehingga terkesan difabel sebagai “tamu”. Saran : BBRSBD dalam menyelenggarakan kegiatan bagi pemberdayaan difabel hendaknya lebih sensitif terhadap nilai- nilai inklusif menyesuaikan dengan kondisi difabel dibarengi dengan sosialisasi terhadap masyarakat yang berinteraksi langsung seperti kelompok PKL, PBK, perusahaan, home industry dan lain- lain (owner perusahaan atau home industry dapat merekrut beberapa difabel sesuai kemampuan difabel sehingga jam kerja tidak distandarkan dengan masyarakat lainnya). Perlu adanya integrasi antara kementrian-kementrian dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi difabel.

Kata Kunci : Difabel


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.