PERGESERAN PERAN GURU KE TENTOR DAN PELUANG KOMODIFIKASI PENDIDIKAN
MUTIARA MEISTISA, Derajad S.Widyharto
2010 | Skripsi | SosiologiSekolah merupakan institusi resmi dalam memberikan pendidikan formal bagi masyarakat dan terdapat proses pembelajaran di dalamnya. Guru tentu saja memegang peran cukup besar dalam hal ini, namun peran guru tersebut kini dipertanyakan ketika mulai bermunculan lembaga bimbingan belajar dengan tentor sebagai pengajarnya. Guru di sekolah sebagai aktor yang berperan dalam proses tersebut seharusnya telah cukup membekali siswa dalam hal pemberian materi pelajaran, namun melihat antusiasme siswa terhadap lembaga bimbingan belajar menjadi satu hal yang menarik untuk dikaji lebih dalam. Kondisi ini berawal dari kurikulum yang membatasi gerak guru, hubungan yang terjalin antara guru dengan siswa lebih terkesan sebagai hubungan subyek-obyek, guru bertindak seperti atasan dengan metode pengajaran yang kaku dan bertele-tele padahal evaluasi pembelajaran berbentuk soal-soal dengan adanya standar kelulusan sehingga ini membuka celah bagi tentor dan lembaga bimbingan belajar untuk menarik siswa mendaftarkan diri ke bimbingan belajar tersebut. Lembaga bimbingan belajar sebenarnya telah ada sejak lama namun pada perkembangannya lembaga yang dulu bertujuan untuk mempersiapkan siswa menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri kini justru menjadi lembaga alternatif dalam persiapan UNAS bagi siswa terutama siswa kelas 3 SMA. Lembaga bimbingan belajar dengan tentor sebagai pengajarnya menciptakan teknik menjawab soal dengan mudah dan disampaikan dengan cara yang berbeda dari guru di sekolah. Ternyata teknik menjawab soal ini disambut dengan antusiame yang tinggi oleh siswa. Padahal harus disadari bahwa peran guru dan tentor dalam hal ini berbeda karena guru berkaitan dengan proses pembelajaran dan tentor berkaitan dengan pencapaian hasil belajar. Berdasar pada kondisi tersebut maka peneliti mengangkat dua rumusan masalah yaitu mengenai proses pergeseran peran guru ke tentor dan respon siswa terhadap pergeseran peran tersebut sehingga menimbulkan komodifikasi pendidikan. Fokus penelitian ini adalah guru sebagai aktor yang berperan dalam proses pembelajaran, tentor sebagai fasilitator siswa di lembaga bimbingan belajar yang berkaitan dengan pemberian teknik menjawb soal, guru yang juga menjadi tentor sebagai aktor yang memperjelas perbedaan dan pergeseran peran antara guru dan tentor, serta siswa sebagai subyek yang berhadapan secara langsung untuk melihat peran guru dan tentor. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang melihat proses pergeseran peran guru ke tentor dari metode pengajaran, interaksi antara siswa dengan guru dan siswa dengan tentor, kondisi yang melatarbelakangi guru juga menjadi tentor dan melihat respon siswa terhadap proses pergeseran peran tersebut dari pandangan siswa terhadap model pengajaran guru dan tentor serta kepentingan siswa yang melatarbelakangi mereka untuk ikut bimbingan belajar tanpa bermaksud mengeneralisasikan hasil penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan model pengajaran guru di sekolah membuat membuat siswa kurang nyaman sehingga siswa mencari alternatif lain dari yang telah mereka dapatkan di sekolah. Padahal yang disampaikan guru di sekolah adalah substansi pelajaran yang merupakan bagian dari proses pembelajaran namun siswa saat ini cenderung memikirkan kelulusan daripada pemahaman sehingga mereka mencari alternatif di luar sekolah yaitu lembaga bimbingan belajar yang memberikan teknik menjawab soal. Kondisi krisis seperti ini membawa siswa terperangkap oleh iklan dan produk-produk yang ditawarkan oleh lembaga bimbingan belajar sehingga siswa menjadi konsumtif dengan membeli produk yang mereka tawarkan walaupun akhirnya mereka sadari bahwa lembaga bimbingan belajar tidak banyak membantu mereka. Jika pola ini terjadi terus menerus maka dikhawatirkan akan menimbulkan komodifikasi dalam pendidikan.
Kata Kunci : Pendidikan