Manajemen Media Cetak Dalam Konteks Counterulture (Studi Kasus Manajemen Media Pro-zine Musik Dynamic Aural Bliss)
DIAN NOVENA RATRI, Wisnu Martha Adipura
2011 | Skripsi | Ilmu KomunikasiDAB adalah sebuah media alternatif asal Yogyakarta yang lahir dari sebuah representasi sebagai counter-culture tetapi tetap berada pada sebuah subkultur, yaitu youth culture. DAB lahir untuk mencapai tujuan tertentu. Secara khusus, munculnya DAB adalah untuk mengangkat musik dan musisi independen Yogyakarta. Dengan kata lain, DAB dimunculkan untuk mengakomodasi kebutuhan para musisi independen di Yogyakarta akan media yang dapat mengenalkan karya ke khalayak dan merekam gerakan yang dilakukan. Media mempunyai posisi yang strategis di sini mengingat di Yogyakarta terdapat banyak komunitas musik independen yang meskipun manifestasinya berbeda-beda, mempunyai prinsip dan nilai-nilai yang sejalan. Selain itu, DAB juga bertujuan untuk menjadi media komunikasi antara komunitas musik yang beragam dan semua pihak yang berada di bawah payung kultur independen, seperti EO, record label, clothing label, media, artworker, dan lain-lain. Dalam konteks yang lebih luas, lahirnya DAB diharapkan dapat semakin mengukuhkan eksistensi kultur independen dan mengembangkan kultur ini ke tingkat yang lebih lanjut. Hal ini berkaitan dengan peranan DAB sebagai media yang mendokumentasikan gerakan sekaligus membantu regenerasi pelaku pergerakan tersebut. Selain itu, mengembangkan kultur independen juga dilakukan DAB dengan membenahi misinterpretasi yang terjadi atas nilai-nilai kultur ini kepada masyarakat. DAB menegaskan kembali akar dan nilai-nilai perlawanan dalam kultur independen terhadap aspek-aspek budaya dominan yang lekat dengan pragmatisme dan berorientasi kapital. Sebagai bagian dari kultur independen yang menjadi kontra kultur, DAB membawa dan menganut nilai-nilai perlawanan di dalamnya yang kemudian direfleksikan di setiap aspek yang ada di DAB. Aspek-aspek tersebut mencakup filosofi atau prinsip yang dianut DAB dan menajemen media yang dijalankan DAB. Manajemen media yang dijalankan DAB sendiri meliputi organisasional, menajemen redaksional, dan manajemen perusahaan. Filosofi atau prinsip yang dianut DAB menjadikan nilai-nilai kultur independen sebagai tiang pancangnya. Filosofi DAB tercermin secara jelas dalam visi-misinya yang kemudian dikonkritkan lagi dalam pesan-pesan yang ia sampaikan melalui editorial. DAB secara jelas menegaskan perlawanannya pada aspek-aspek budaya dominan yang pragmatis dan berorientasi kapital sehingga meninggalkan esensi. DAB mendasarkan sikap dan karakter cutting edge-nya dengan bertolak kepada RCA (roots, character, and attitude) yang menjadi esensi dalam kultur independen. Dengan selalu berpatokan pada RCA, sikap DAB mengisyaratkan agar kultur independen tidak diintervensi oleh pragmatisme niaga khas budaya komersil. Dengan kata lain, DAB menjaga agar kultur independen tetap ‘murni’ secara esensi. Ini terlihat dari pernyataan DAB bahwa pengkotakan dalam musik itu baik dan perlu. Musik indie dalam arti cutting edge harus dibedakan dengan musik indie dalam arti swadaya. Nilai-nilai perlawanan juga terlihat dari aspek organisasional DAB. DAB saat ini menggunakan tipe organisasi media alternatif yang non-hirarkis namun ada pembagian tugas yang jelas untuk masing-masing personel. Saat ini ada 8 tugas atau posisi yang dijalankan oleh 11 personel. Meski mempunyai tugasnya masing-masing, para personel juga melaksanakan tugasnya secara fleksibel dan kolektif, saling membantu saat ada yang berhalangan. Tipe organisasi yang diterapkan oleh DAB adalah salah satu ciri khas media alternatif di mana sistem kerja yang ada di dalamnya adalah sistem kerja kolektif. Hal ini dilakukan dalam rangka pemanfaatan sumber daya semaksimal mungkin karena media alternatif berorientasi non-profit. Sifat organisasi media yang demokratis sekaligus menjadi poin perlawanan terhadap sistem organisasi media mainstream berorientasi laba di mana di dalamnya ada hirarki yang berlaku dan aturan serta standar yang tegas. Selain itu, bentuk perlawanan lain DAB terhadap media mainstream adalah bahwa para personel di dalamnya menjalankan tugasnya secara sukarela, hanya didasari oleh idealisme dan dedikasi serta komitmen bersama. Ini berbeda dengan media mainstream dimana personelnya bekerja atas dasar insentif. Manajemen redaksional yang dijalankan DAB juga identik dengan karakter media alternatif yang membawa nilai-nilai perlawanan terhadap sistem media mainstream. Aspek pengumpulan berita (news gathering) dalam DAB sangat mengandalkan kekuatan jaringan. Hal ini juga didukung oleh hubungan yang bersifat horizontal antara DAB dengan audiens dan pihak-pihak yang berhubungan dengan kultur independen. Dalam pencarian berita DAB juga tidak memberlakukan pedoman atau syarat umum dan khusus pencarian berita (syarat kelayakan berita) seperti yang diterapkan media mainstream. Dalam proses pengumpulan berita, DAB memberlakukan cara native reporting atau jurnalisme amatir yang menggambarkan para reporter DAB adalah para intelek amatir yang tidak ditetapkan secara formal dengan sertifikat atau ijazah menjadi jurnalis, namun didasarkan pada komitmen terhadap prinsip radikal dalam gerakan atau praktek sosial. Begitupun dalam penulisan berita (news writing), penulisan konten dalam DAB berkarakter populis dan memuat subjektivitas penulis sehingga tiap berita memuat karakter masing-masing penulis. Ini bertentangan dengan metode yang dijalankan media mainstream yang sangat mengutamakan keberjarakan dan objektivitas. DAB juga tidak menetapkan adanya standar umum penulisan berita yang menyeragamkan karakter tiap berita. Secara konten, rubrikasi dalam DAB juga mencerminkan dukungan penuhnya terhadap gerakan budaya tanding, khususnya terhadap musik berkarakter cutting edge. Sejak awal, DAB menyatakan bahwa ia berkomitmen hanya mewartakan musisi cutting edge. Dalam penetapan konten, DAB mendasarkan diri pada karakter RCA. Ini diwujudkan melalui rubrikasinya, DAB hanya mengangkat musisi, figur, event, informasi, dan pengetahuan yang berhubungan dengan kultur independen dan berada di luar arus utama sehingga sering terabaikan dalam pemberitaan media mainstream. Dengan kata lain, konten DAB mendemonstrasikan kekuatan profan dari kelompok subordinat. Dalam manajemen perusahaan, DAB banyak mengadopsi cara-cara media mainstream dalam mengatur perusahaannya. Prinsip dan konten DAB mengutamakan kemurnian kultur independen yang sarat esensi agar tidak diintervensi oleh nilai-nilai pragmatisme budaya dominan yang dekat dengan komersialisme. Namun dalam hal manajemen perusahaan, DAB melakukan negosiasi. Ia memanfaatkan metode media mainstream untuk memajukan kultur yang diperjuangkan. DAB menggantungkan pendapatannya dari iklan. Ia juga membuka diri untuk produk apapun untuk diiklankan. Ini berbeda dengan yang biasa dilakukan media mainstream yang mementingkan eksklusivitas dan menolak adanya campur tangan dari pihak luar, termasuk pengiklan. Pengaturan keuangan di DAB juga dilakukan secara lebih rapi dan terorganisir dengan digunakannya sistem tabungan yang mendukung keberlangsungan hidup DAB. Pendapatan yang diperoleh DAB saat ini hanya digunakan untuk menopang biaya produksi media dan sedikit demi sedikit meningkatkan kualitas, tetapi seiring perkembangan yang terjadi, tidak menutup kemungkinan DAB dapat memberi insentif kepada para personelnya Dalam hal distribusi, DAB menggabungkan metode media mainstream dan media alternatif. DAB sedikit demi sedikit meningkatkan jumlah sirkulasinya dan memperbaiki tampilannya. Ini dilakukan untuk mengembangkan ekonomi perusahaan. DAB juga memperluas daerah distribusinya serta memanfaatkan teknologi komunikasi dalam penyebaran medianya. Dengan kata lain, DAB mengarahkan medianya menjadi media yang go public. Ini berbeda dengan media alternatif yang umumnya dikhususkan bagi kelompok atau komunitas tertentu. Meski begitu, DAB tetap tidak meninggalkan metode media alternatif dalam mendistribusikan medianya. Kekuatan jaringan masih menjadi andalan bagi DAB dalam aspek distribusi. DAB memanfaatkan kedekatannya dengan pengusaha clothing lokal untuk menitipkan DAB bersama pengiriman barang clothing tersebut ke distro-distro di luar kota Yogyakarta. DAB juga menyebarkan versi PDF yang di-upload lewat Facebook. Dengan cara ini, DAB dapat dimiliki oleh siapa pun, kapan pun, dan dimanapun. Dari penjelasan tentang manajemen perusahaan DAB, dapat disimpulkan bahwa DAB memanfaatkan semua sumber daya yang dimilikinya seefektif dan seefisien mungkin untuk sedikit demi sedikit mengembangkan medianya. Kesimpulan yang didapat dari penjabaran tentang manajemen media yang dilakukan DAB dalam konteks gerakan budaya tanding adalah bahwa DAB mendukung gerakan budaya tanding sekaligus berada di dalamnya, yaitu menjadi salah satu pelaku gerakan budaya tanding. Manajemen yang dijalankan DAB menjadi salah satu manifestasinya. Gerakan budaya tanding yang diperjuangkan DAB secara khusus adalah gerakan kultur dan musik independen untuk berangsur-angsur keluar dari pragmatisme niaga yang menjadi konsekuensi budaya komersil. Gerakan perlawanan DAB diwujudkan melalui medianya yang berusaha meredefinisi kultur dan musik independen sekaligus mengedukasi audiens tentang nilai-nilai yang ada di dalamnya. Dalam mewujudkan gagasannya, DAB memberlakukan negosiasi dengan mengadopsi beberapa metode yang dijalankan media mainstream, namun dengan prinsip dan tujuan mengukuhkan eksistensi kultur dan musik independen. Dengan kata lain, DAB melakukan negosiasi untuk menempatkan gerakan perlawanannya ke posisi yang lebih strategis.
Kata Kunci : Manajemen Media