PARTISIPASI PETANI PADI ORGANIK DALAM PELAKSANAAN COMMUNITY BASED RESOURCES MANAGEMENT DI KECAMATAN SAWANGAN
Elisabeth Neny Istika, H. Suharyanto
2010 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)Sebagai negara agraris kebijakan pembangunan di Indonesia diarahkan untuk mengembangkan sektor pertanian sejak masa awal kemerdekaan. Sebuah cita-cita ambisius sempat dicetuskan untuk membawa bangsa ini sebagai negara berswasembada beras. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai target tersebut, salah satunya dengan menerapkan Revolusi Hijau yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas beras secara massive, karena itu penggunaan berbagai asupan kimia yang mendorong pertumbuhan dan produksi dianjurkan –bahkan diwajibkan– kepada seluruh petani di wilayah Indonesia. Cita-cita ambisius ini memang telah terwujud selama kurun waktu satu dekade saja, tetapi harus dibayar dengan harga mahal oleh petani. Berbagai dampak negatif menyertai penerapan sistem Revolusi Hijau dan menjadi masalah yang tidak terselesaikan hingga saat ini. Kemiskinan, ketergantungan dan minimnya kapasitas petani serta degradasi lahan menjadi alasan dibutuhkannya suatu sistem baru pembangunan pertanian. Community Based Resources Management atau Pengelolaan Sumber Daya Berbasis Komunitas merupakan suatu strategi alternatif pembangunan yang dapat menjawab permasalahan sektor pertanian di Indonesia. Penerapan CBRM dalam aktivitas pembangunan akan meningkatkan kapasitas masyarakat, mengkonservasi sumber daya alam sekaligus mewujudkan pembangunan yang sesuai dengan karakteristik lokal. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan CBRM yang diterapkan oleh beberapa petani organik di lingkup Kecamatan Sawangan yang bernama Paguyuban Petani Lestari (P2L) lengkap dengan keterlibatannya. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini menghasilkan beberapa hal penting untuk perbaikan pelaksanaan CBRM di Kecamatan Sawangan. Dari hasil temuan dilapangan diketahui pelaksanaan CBRM oleh P2L di wilayah Kecamatan Sawangan telah berjalan dengan baik melalui terwujudnya desentralisasi swakelola dan terciptanya pemberdayaan, proses belajar sosial dan kemandirian membangun dan telah mewujudkan keberlanjutan. Partisipasi petani dalam pelaksanaan CBRM juga telah berjalan dengan cukup baik, ketika terlihat adanya kemandirian, inisiatif, kesadaran dan keterlibatan petani dalam seluruh tahapan proses pelaksanaan CBRM. Tingginya tingkat partisipasi petani ditandai dengan tercapainya tingkatan selfmobilization pada tahap pelaksanaan dan pemeliharaan aktivitas pembangunan. Atau dapat dikatakan secara umum CBRM yang dilaksanakan oleh P2L ini sebagai kritik atas paradigma pembangunan sentralistis dan top-down. Untuk menjaga keberlanjutan pelaksanaan CBRM padi sawah organik di Kecamatan Sawangan, P2L harus merevitalisasi selapanan sebagai wadah pertukaran gagasan dan pengembangan inovasi. Wacana dan pengetahuan mengenai sistem organik harus dikembangkan dengan mengikuti seminar, diklat atau pameran mengenai pertanian organik. Peningkatan partisipasi petani dapat diupayakan dengan kaderisasi kepengurusan dan pelibatan petani muda dalam aktivitas pembangunan. Belajar dari pengalaman P2L, pelaksanaan pembangunan pertanian selanjutnya sebaiknya mulai mengadopsi pendekatan bottom-up dan desentralisasi, yang memungkinkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam membangun. Pemerintah akhirnya dapat berperan sebagai fasilitator yang dapat mengawal pembangunan yang dilaksanakan atas prakarsa rakyat.
Kata Kunci : Masyarakat Petani