ANALISIS PEMBERITAAN MEDIA (Analisis Tentang Politik Pemberitaan Kompas dalam Kasus Rancangan Undang-Undang Keistimewaan DIY)
Setyoaji Wicaksono Suryomadyantoro, Miftah Adhi Ikhsanto
2011 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Media massa idealnya memang harus memberikan informasi kepada para pembacanya secara “real” sesuai dengan fakta yang ada. Awak media dituntut untuk memberikan informasi yang berimbang dan netral. Mereka wajib memberikan pemisahan tegas antara opini atau gagasan dengan fakta pemberitaan. Serta tidak terjebak dalam kepentingan-kepentingan tertentu yang bisa mengarahkan publik pada pemahaman fakta yang salah dalam penyajian pemberitaannya. Namun demikian, sebagai perusahaan bisnis, media tidak mungkin mengesampingkan posisi pasar dalam setiap liputan dan produksi beritanya. Secara langsung atau tidak, faktor pasar akan berpengaruh besar terhadap penyajian fakta dalam berita untuk menjaga berita yang disajikan diterima oleh pasar dan memastikan bisnis medianya tetap berjalan secara positif. Ideologi atau praktik pemaknaan dalam keredaksian terkadang secara tidak langsung juga akan mempengaruhi hasil liputan berita hingga penyajian berita. Awak media terkadang tidak sadar telah menampilkan fakta yang tidak berimbang karena hanya memuat narasumber dari pihak tertentu saja yang sesuai dengan nilai atau ideologi yang mereka anut. Kompas sebagai media yang dikenal dengan keseimbangan beritanya, juga tidak terlepas dari pengaruh eksternal diluar media, yakni pasar. Dalam pemberitaan kasus RUUK DIY sepanjanng 2008, nampak jelas bagaimana kepentingan pasar diakomodasi oleh Kompas dalam pemberitaannya. Kompas sangat tegas dalam membela kepentingan publik, yakni mendukung mekanisme penetapan di DIY. Melalui metode analisis framing, dengan menganalisis teks berita lewat struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris, kemudian secara lebih rinci dapat dijelaskan bagaimana pola pemberitaan Kompas dalam kasus RUUK DIY. Kepentingan praksis Kompas yang mendukung mekanisme penetapan dalam substansi RUUK DIY dapat ditunjukkan melalui pemilihan narasumber dan konsistensi fakta yang dibangun Kompas dalam menyajikan kasus RUUK DIY sepanjang tahun 2008. Fakta yang demikian semakin menjelaskan bahwa relasi media terhadap pasar tidak dapat dihindarkan. Media massa sebesar Kompas pun harus berkompromi dengan selera dan tekanan pasar untuk menjaga oplah dan eksistensi perusahaannya ditengah liberalisasi industri pers secara nasional maupun global. Kebijakan Kompas yang berkompromi dengan posisi pasar inilah yang kemudian menghadirkan frame dan pola pemberitaan tertentu dalam penyajian berita Kompas. Bagaimanapun Kompas akan berusaha menampilkan beritanya secara obyektif dan “dua sisi”, dengan adanya pengaruh tekanan pasar dalam proses produksi berita maka, diakui atau tidak, keberpihakan dalam pemberitaan menjadi tidak dapat dihindarkan.
Kata Kunci : Media;Keistimewaan Yogyakarta