POLITIK BAHASA DALAM SISTEM PENDIDIKAN MALAYSIA Disusun sebagai syarat untuk memenuhi gelar sarjana
Risti Indriyani, --
2010 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalAnalisis terhadap beberapa wacana telah dengan jelas menunjukkan bahwa kebijakan bahasa dirumuskan sebagai proyek nasional dengan tujuan untuk mengejar sasaran pembangunan di Malaysia. Di satu sisi, aktor-aktor politik melegitimasi kebijakan ini dengan mengasumsikan bahwa pembelajaran matematika dan sains dalam bahasa Inggris merupakan satu-satunya kebutuhan paling utama dari pelajar Malaysia. Di sisi lain, wacana pada filsofi dan tujuan pendidikan di Malaysia merefleksikan pilar-pilar identitas dari kaum Melayu yaitu bahasa, agama dan adat. Terlebih lagi, pidato dari Ahmet Badawi dapat dianggap sebagai tanda meningkatnya peranan Islam sebagai alat untuk membenarkan kebijakan tertentu dari pemerintah. Hal yang menarik untuk dikaji adalah bahwa pembangunan bangsa di Malaysia dalam konteks kebangkitan Islam dan politik Islam menjadi suatu alat untuk membentuk Malaysia sebagai masyarakat Islam. Dalam skripsi ini saya ingin menunjukkan kekuasaan kaum Melayu pada ranah politik dan publik. Kekuasaan tersebut direproduksi melalui pidato dari aktor-aktor politik serta Menteri Pendidikan dengan mempromosikan suatu ide mengenai bangsa yang homogen daripada menciptakan tatanan masyarakat yang berbasis masyarakat multibudaya. Hal tersebut semakin dikuatkan dengan analisa terhadap konsep strategi untuk memahami kekuasaan seperti penggambaran positif dan negatif, penolakan identitas dan legitimasi yang telah digunakan dalam wacana mengenai pendidikan. Critical Discourse Analysis menunjukkan bahwa kebijakan pengajaran matematika dan sains dengan bahasa Inggris telah digunakan sebagai alat bagi tujuan pembangunan di Malaysia. Setelah menganalisa wacana tersebut, penulis berkesimpulan bahwa penolakan kaum Tionghoa merupakan suatu tantangan terhadap proyek politik yang didominasi kaum Melayu serta proses nation building. Sejarah mengenai perdebatan bahasa dan analisis wacana menunjukkan bahwa dalam sistem pendidikan Malaysia berlangsung sistem pendidikan yang yang berprasangka pada ras, dan wacana minoritas-mayoritas. Oleh karena itu, sekolah-sekolah Tionghoa ingin melestarikan bahasa dan budaya mereka dengan cara melindungi sekolah mereka. Hal ini dikarenakan arti simbolik sekolah Tionghoa bagi kebudayaan China serta tantangan yang mereka hadapi dalam budaya yang didominasi oleh bangsa Melayu. Dengan menerapkan Critical Discourse Analysis, kebijakan kontroversial mengenai pengajaran matematika dan sains dalam bahasa Inggris telah diteliti dengan menggunakan penaskahan wacana politik di Malaysia. Critical Discourse Analysis merupakan metode paling tepat bagi penelitian kebijakan bahasa ini. Metode Critical Discourse Analysis memfasilitasi suatu pemahaman dari teks-teks tersebut dalam konteks sosial. Melalui konsep Van Dijk untuk mengenali kekuasaan, proyek nation building di Malaysia dapat dilihat dengan lebih jelas berdasar sifat multidimensional dari kerangka metode tersebut.
Kata Kunci : Pendidikan Malaysia