Laporkan Masalah

Tinjauan Kualitas Pelayanan Kesehatan Di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas II A Yogyakarta

Dita Romadhoni, Ambar Teguh Sulistiyani

2010 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Penelitian ini di latar belakangi oleh tingginya angka kematian Napi dan Tahanan di Lembaga Pemasyarakatan di seluruh Indonesia. Ada fenomena menarik dari data yang ada bahwa terus meningkatnya posisi HIV/AIDS dari peringkat 3 pada tahun 2006, ke peringkat 2 pada tahun 2007, dan peringkat teratas pada tahun 2008, sebagai penyakit yang menyebabkan kematian di kalangan Napi dan Tahanan. Fenomena HIV/AIDS ini berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah Napi dan Tahanan Kasus narkotika dari tahun-ketahun. Hal ini dapat di maklumi karena salah satu cara penyebaran HIV/AIDS adalah dengan mengunakan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian di kalangan pengguna narkotika. Tingginya angka penyalah gunaan narkotika menyebabkan DEPKUMHAM merasa perlu membuat Lembaga Pemasyarakatan Khusus Narkotika guna mempermudah pembinaan dan pelayanan kesehatan. Lembaga pemasyarakatan Kelas II A Yogyakarta adalah salah satu Lapas Narkotika yang ada di indonesia yang salah satu tujuan berdirinya adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang Optimal bagi Napi dan tahahan Kasus narkotika di DIY. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kualitas pelayanan kesehatan yang di berikan Lapas Narkotika terhadap Napi dan Tahanan. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengukur kualitas pelayanan yang di Berikan Lapas Narkotika kelas II A Yogyakarta. Indikator pelayanan di ukur melalui 5 indikator Yaitu: Prosedur pelayanan, dimensi Tangibles, Reability, Assurance, Responsiveness. Hasil dari penelitian ini secara garis besar adalah kulitas pelayanan kesehatan yang di berikan Pihak Lapas Narkotika Kelas II A Yogyakarta terhadap WBP adalah Buruk, dikatakan buruk karena di tinjau dari indikator prosedur pelayanan pelayanan yang di berikan sering tidak tepat waktu dan bertele-tele, dari indikator Tangibles belum tersedianya lab dan alat perawatan gigi menyebabkan Pihak Lapas sangat tergantung dengan RS Grahasia, dari dimensi Reability perlu berobat berkali-kali untuk sembuh dan sulitnya izin untuk memeriksakan kesehatan di luar Lapas bagi WBP yang memerlukan menjadi permasalahan bagi Napi dan Tahanan, sedangkan indikator Assurance dingambarkan dengan belum bisanya Lapas memberikan pelayanan kesehatan yang mandiri dalam menangani dampak buruk penggunaan narkotika bagi Napi dan Tahanan, serta rendahnya pelayanan keluhan bagi Napi dan Tahanan menegaskan buruknya kualitas pelayanan yang di berikan Pihak Lapas. Dengan buruknya kualitas pelayanan yang di berikan serta banyaknya Napi dan tahanan yang membutuhkan pelayanan kesehatan membuat perlunya penyediaan pelayanan kesehatan menyeluruh dan berkesinambungan bagi penanganan dampak buruk narkotika secara mandiri oleh pihak Lapas. Hal ini harus di dukung pendanaan yang baik, Alat medis yang lengkap serta sistem perencanaan, implementasi serta evaluasi program yang baik. Agar pelayanan yang di berikan menjadi Optimal. Kata Kunci: kualitas Pelayanan kesehatan, Napi dan Tahanan Narkotika

Kata Kunci : Pelayanan Umum


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.