MENDALANG DI TENGAH PERKEMBANGAN BUDAYA POP (Studi Kasus Strategi Bertahan Dalang di Yogyakarta)
IWI YUNANTO, Andreas Soeroso
2010 | Skripsi | SosiologiPementasan wayang kulit di Yogyakarta saat ini banyak mengalami pergeseran karena adanya perkembangan budaya populer. Pementasan wayang kulit kemudian banyak mengedepankan unsur tontonan saja. Seharusnya pementasan wayang kulit mengedepankan nilai tatanan dan tuntunan. Hal demikian memunculkan permasalahan dimana pementasan wayang kulit kini banyak yang menjadi hiburan semata. Saat ini pementasaan wayang kulit di Yogyakarta juga banyak mengalami penurunan. Munculnya permalasahan tersebut dalang-dalang menciptakan pementasan yang berbeda-beda agar bisa bertahan di tengah perkembangan budaya populer. Dari permasalahan tersebut peneliti memfokuskan pada strategi dalang dalam mempertahankan pementasan wayang kulit purwa ditengah budaya populer. Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Penelitian deskriptif digunakan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variable yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Dengan pendekatan ini, permasalahan objek yang hendak diteliti ditelaah secara komprehensif, mendetail dan mendalam. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan wawancara mendalam terhadap objek penelitian dengan 6 Dalang sebagai informan penelitian. Setelah penelitian dilakukan diperoleh hasil strategi dalang dalam mempertahankan pementasan wayang kulit di tengah perkembangan budaya populer. Strategi pertama yaitu strategi pementasan Gaya Klasik, strategi pementasan tanpa memasukkan budaya-budaya baru dalam pementasan, seperti memasukkan hiburan dan pelawak. Adapun strategi Klasik yang ditampilkan yaitu menampilkan pementasan dengan Gaya Mataraman atau Ngayogyakartanan dan pementasan wayang kulit untuk Ruwatan. Pementasan gaya klasik di era ini semakin jarang diminati oleh masyarakat. Meskipun demikian gaya klasik tidak kehilangan jati dirinya sebagai kesenian adhiluhung. Strategi kedua pementasan dengan pemanfaatan budaya populer, yaitu: (a) memasukkan hiburan seperti campur sari dan pelawak pada adegan Limbukan dan Gara-Gara, (b) menampilkan Wayang Masa Kini: Wayang Sumpah Pemuda dan Wayang Kecil Idolaku, (c) menampilkan Wayang Cangkeman durasi pendek dengan tidak menggunakan niyaga dan sinden, (d) menggunakan alat-alat musik masa kini (piano,drum) dan tata panggung yang megah, (e) pementasan dengan 2 dimensi. Strategi pemanfaatan budaya populer pada dasarnya tidak sesuai dengan hati nurani dalang karena dengan pemanfaatan budaya populer terjadi distorsi di beberapa bagian pementasan.
Kata Kunci : Wayang-Dalang