Laporkan Masalah

SIKAP DAN KESIAPAN MASYARAKAT DESTINASI WISATA TERHADAP PERKEMBANGAN PARIWISATA PEDESAAN DI DESA WISATA PLEMPOH, BOKOHARJO, PRAMBANAN, SLEMAN, YOGYAKARTA

Galih Prabaningrum, Janianton Damanik

2010 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)

Pariwisata merupakan sektor yang menjanjikan dalam meningkatkan perekonomian suatu daerah sehingga setiap daerah berlomba-lomba untuk mengembangkan pariwisata. Adanya pergeseran motif berwisata menyebabkan kawasan pedesaan mulai dilirik untuk dijadikan tujuan wisata. Di Kabupaten Sleman ditandai dengan maraknya pembentukan desa wisata yang hingga saat ini berjumlah 39 desa wisata. namun, tidak semua sukses menjadi desa wisata, sama halnya dengan desa wisata Plempoh yang kini tidak ada kegiatan dan tidak ada kunjungan dari wisatawan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sikap masyarakat lokal dalam menghadapi perubahan menjadi desa wisata dan mendeskripsikan serta menganalisis kesiapan masyarakat dalam pengembangan pariwisata pedesaan di Desa Wisata Plempoh. Penelitian ini menggunakan model Doxey irritation index yang mana hubungan antara wisatawan dengan masyarakat lokal menyebabkan terjadinya komersialisasi keramahtamahan masyarakat sehingga muncul sikap yang ditunjukkan oleh masyarakat. Dengan destination area lifecycle digunakan untuk mengetahui kemampuan masyarakat mengontrol perkembangan pariwisata. Dengan asumsi bahwa perkembangan pariwisata pedesaan membutuhkan tingkat kesiapan yang tinggi. Penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi suasana dan aktivitas masyarakat, wawancara mendalam dengan masyarakat yang tinggal di Desa Wisata Plempoh, serta dokumentasi dan artikel. Teknik penelitian yang digunakan adalah purposive sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal belum siap menjadi tuan rumah destinasi wisata karena pembentukan desa wisata hanyalah ide sekelompok elite sehingga masyarakat menjadi korban dan dipaksa untuk siap. Dengan adanya perubahan menjadi desa wisata masyarakat menunjukkan bahwa belum adanya perencanaan yang matang sehingga muncul berbagai macam sikap di masyarakat akibat belum adanya persamaan pandangan pada waktu awal menjadi desa wisata sedangkan masyarakat sendiri cenderung pasif yaitu setuju, tidak setuju, dan ambivalen, namun sikap setuju masyarakat tidak mendorong masyarakat untuk aktif. Desa wisata dibentuk hanya karena latah akan kesuksesan desa wisata yang lain. Bahkan menjadi desa wisata tidak didukung oleh kesiapan masyarakat yang mana ditandai dengan tidak adanya upaya peningkatan sarana dan prasarana fisik, tidak adanya upaya untuk membentuk kelembagaan sehingga sehingga masyarakat berjalan sendiri-sendiri, dan adanya pengakuan tarian tradisional yang bukan berasal dari masyarakat lokal sehingga desa wisata pun vakum tanpa kegiatan dan tanpa wisatawan. Desa wisata hanyalah koraban otonomi daerah yang menggunakan sektor pariwisata sebagai andalan meningkatkan pendapatan daerah. Kata kunci: pariwisata, masyarakat lokal, hubungan masyarakat dengan wisatawan

Kata Kunci : Pariwisata


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.