PEMBERDAYAAN DIFABEL KORBAN GEMPA MELALUI PENGEMBANGAN BERWIRAUSAHA DI KECAMATAN PUNDONG BANTUL DIY (Studi YAKKUM Yogyakarta)
BRIAN ADHIWENA, S. Djuni Prihatin
2010 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Pada tahun 2006, bencana gempa melanda Yogyakarta dengan guncangan 5.9 SR di pagi hari. Dari kejadian tersebut terdapat permasalahan-permasalahan yang sampai saat ini masih melekat pada diri seseorang/korban gempa, permasalahan tersebut adalah psikis dan cacat fisik. Setelah gempa itu terjadi, ada sebuah pusat rehabilitasi cacat fisik dan mental membantu para korban gempa yang sampai saat ini masih terus memperdayakan para korban gempa, khususnya difable. Pusat rehabilitasi itu adalah Yakkum (Yayasan Kristen Kesehatan Untuk Umum). Program Yakkum yang dilaksanakan sampai sekarang ini adalah pemberdayaan para difable untuk memandirikan difable baik secara ekonomi maupun sosial untuk kesejahteraan hidupnya. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Program untuk pemberdayaan ini dimulai pada tahun 2007. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Tehnik pengambilan informan menggunakan purposive sampling didasarkan kepada kebutuhan untuk mendapatkan informasi yang sebenarbenarnya dari berbagai pihak yaitu Pengurus Aliansi, Pengurus DPO Kecamatan Pundong, Anggota DPO Kecamatan Pundong, Dinas Sosial, Kader Yakkum. Hasil penelitian yang didapatkan bahwa Program yang dilaksanakan oleh Yakkum adalah mengembalikan kepercayaan diri/mental sehingga difable dapat menerima keadaan diri sendiri di dalam lingkungan masyarakat. Kecacatan yang menyandang seorang difabel korban gempa kadang sulit diterima, hal ini dikarenakan perubahan secara fisik yang mereka alami hanya diakibatkan oleh peristiwa yang hanya berlangsung singkat, untuk itu perlu adanya pendekatan dari keluarga, masyarakat serta pihak yang terkait, untuk membuat mereka dapat menerima kenyataan serta kembali beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti semula. Setelah adanya pendekatan dari berbagai pihak, program yang dilaksanakan Yakkum adalah entrepreneur difable dengan tujuan agar mereka dapat mandiri dan mempunyai skill untuk bisa menjadi seperti orang normal lainnya. Berwirausahalah yang mereka usulkan kepada Yakkum/Instansi terkait sehingga wirausaha yang mereka inginkan bisa berjalan maksimal sesuai dengan kemampuannya. Program yang dilaksanakan menggunakan system CBR (Community Basses Rehabilitation), Pemberdayaan yang dilakukan cenderung pada partisipasi dari difable, pemberdayaan ini dilakukan di lingkungan masyarakat serta dari Yakkum sendiri hanya menjadi fasilitator dan pendamping di setiap kegiatan, baik secara individu, maupun kelompok. Setelah adanya pendekatan personal, pemberdayaan yang dilakukan cenderung berkelompok, hal ini dilakukan untuk memudahkan koordinasi serta pengontrolan, sehingga dengan adanya kelompok difabel se-Kabupaten Bantul, mereka dapat mudah bekerjasama dengan instansi terkait dalam menyelenggarakan pelatihan. Kemandirian dari hasil pemberdayaan yang dilakukan Yakkum dapat dilihat dari mobilitas difabel yang sudah tinggi kembali, yaitu aktivitas difabel untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya seperti sedia kala.
Kata Kunci : Difabel