“Mitos” Self Governing Community STUDI TENTANG RELASI KOMUNITAS EBEN EZER YOGYAKARTA DENGAN NEGARA
SITA AGUNG TRISNANTARI, WAWAN MAS’UDI
2010 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Pertautan antara studi komunitas dan negara menarik untuk diteliti karena dapat menunjukan bahwa kajian pemerintahan tidak selalu terfokus pada negara. Keberadaan komunitas juga memiliki pengaruh dalam kajian ini. Kondisi dimana pemerintah memiliki peran yang dominan ternyata tidak lantas menjadikan pemerintah mampu menjalankan tugasnya untuk mensejahterakan rakyat. Ada saatnya negara justru tidak hadir sebagai regulator yang pro terhadap kaum marginal. Keadaan tersebut menjadi pemicu kemunculan berbagai komunitas di ranah civil society. Berangkat dari jarangnya kajian pemerintahan dalam komunitas, penelitian ini menempatkan Komunitas Kaum Miskin Kota: Eben Ezer Yogyakarta sebagai salah satu komunitas yang melakukan pengorganisasian diri dan berelasi dengan entitas lainnya. Kemunculan Eben Ezer dipahami sebagai dampak dari kelemahan negara dalam mengakomodir kepentingan kaum miskin kota. Komunitas memiliki inisiatif melakukan “pemerintahan” sendiri melalui konsep community governance. Governance pada dasarnya dipahami sebagai interaksi antara negara dan masyarakat sipil dalam hal pengelolaan kepentingan publik. Ketika negara lemah dalam menjalankan fungsinya, maka komunitas hadir untuk menangani penyediaan atau penyampaian pelayanan publik bagi masyarakat yang berada di lingkup komunitasnya. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini mempunyai dua pertanyaan yang akan di jawab. Pertama, bagaimana bekerjanya mekanisme self governing dalam pengelolaan kepentingan kolektif pada Komunitas Eben Ezer? Kedua, bagaimana pola relasi yang terbentuk antara Komunitas Eben Ezer dengan negara? Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mekanisme kerja self governing dalam dalam Komunitas Eben Ezer. Komunitas memiliki inisiatif dan kemampuan untuk menyelenggarakan urusan bersama secara sukarela tanpa adanya campur tangan negara. Tujuan kedua, untuk mengetahui kapasitas self governing yang dilakukan komunitas dengan meninjau pemanfaatan social capital yang dimiliki. Sedangkan tujuan utama penetian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara bekerjanya mekanisme self governing dengan pola relasi yang terbentuk antara Komunitas Eben Ezer dengan negara. Untuk menjawab rumusan dua masalah tersebut, penelitian ini menggunakan jenis kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara serta observasi non-partisipan untuk data primer dan melalui pelacakan dokumen atau literatur pendukung untuk mendapatkan data sekunder. Kedua data ini digunakan untuk saling meng-cross cheek agar hasilnya lebih valid. Penelitian ini menemukan bahwa melihat pola relasi antara Eben Ezer dan negara tidak dapat selalu dipotret dalam konteks yang statis. Pola relasi antara kedua entitas ini dapat dibidik secara dinamis dimana adanya fakta bahwa negara kurang efektif dalam menjalankan fungsi, sedangkan komunitas yang diteliti telah dapat menjalankan berbagai fungsinya secara efektif melalui mekanisme self governing ternyata tidak selalu memunculkan satu pola relasi saja. Ada kalanya antara keduannya memunculkan varian pola relasi yang lainnya. Pada penelitian ini, ternyata pola relasi diantara keduannya tidak selalu bersifat substitutive namun terdapat sifat complementary dan competing. Ketiga pola relasi tersebut muncul karena dalam menjalankan self governing, komunitas mempergunakan tiga jenis praktek social capital yang meliputi Bonding Social Capital, Bridging Social Capital dan Linking Social Capital. Social capital merupakan modal utama yang bisa menjadikan kaum marginal ini mampu melakukan self governing untuk tetap survive tentunya dengan cara mareka sendiri.
Kata Kunci : Pemerintahan