Laporkan Masalah

DIALOG KOMUNITAS PADA PROGRAM PENGELOLAAN SAMPAH MANDIRI (Studi Kasus mengenai Dialog Komunitas pada Program Yogyakarta Green and Clean di Wilayah Dusun Klajuran, Sidokerto, Godean, Sleman)

Mahadevi Paramita Putri, --

2010 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Program pengelolaan sampah mandiri yang ada di Dusun Klajuran diprakarsai oleh Unilever yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta. Pada awalnya program yang diterapkan adalah IHPP (Integrated Health Promotion Program). Kemudian, seiring perkembangan ada pula program Yogyakarta Green and Clean, yang lebih mengarah pada pengelolaan lingkungan terutama pada sampah. Dusun Klajuran mulai menerapkan program ini pada akhir tahun 2006. Dua orang warga, yakni ibu Widayanti dan bapak Samijo beserta kepala dusun menjadi kader kesehatan sekaligus sebagai change agent dalam program ini. Ketiganya mendapat pelatihan dan pembinaan dari puskesmas dan LSM Padmaya serta berbagai stakeholder lain yang bekerjasama dengan Unilever dalam program ini. Hasil dari pelatihan tersebut kemudian mereka bawa ke dalam rapat LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa) yang ada di tingkat dusun mereka. Para kader inilah yang kemudian menjadi change agent dari perubahan yang terjadi di dusun Klajuran. Pada program yang berlangsung di dusun Klajuran, hampir seluruh tahapan yang berlangsung dalam community dialogue merupakan bentuk komunikasi kelompok, yang terutama dilakukan dalam pertemuan LPMD. Namun, memang tidak semua tahapan terlalui, dua tahap yakni clarification of perceptions dan options for actions tidak berlangsung di dusun Klajuran. Hal ini karena masyarakat secara umum memang menyadari permasalahan yang sama yang terjadi di wilayah mereka sehingga tidak ada perbedaan persepsi yang memerlukan klarifikasi. Sementara tahap options for actions dilakuan seiring dengan berjalannya program, yakni dengan melakukan studi banding ke wilayah lain yang menerapkan sistem yang berbeda. Namun, karena sejak awal sudah menerapkan sistem pemilahan maka, maka hasil dari studi banding ini tidak digunakan sebagai opsi tetapi hanya menjadi referensi lebih lanjut saja bagi mereka. Mengingat fungsi LPMD sebagai lembaga musyawarah masyarakat, seluruh kegiatan dan program yang ada di masyarakat kemudian selalui dibicarakan di dalamnya. LPMD merupakan lembaga yang bisa dibilang “DPR” tingkat dusun. Di dalamnya berkumpul para perwakilan masyarakat mulai dari tingkat RT hingga RW dan juga berbagai kelompok atau organisasi sosial yang ada di masyarakat seperti ronda, PKK, pemuda melalui KT (Karang Taruna) mereka, bahkan kelompok pengajian warga. Perwakilan dari berbagai kelompok yang ada di LPMD biasanya merupakan ketua dari masing-masing kelompok. Para anggota LPMD ini kemudian melakukan diskusi dan musyawarah mengenai permasalahan yang ada di wilayah mereka dan solusi yang tepat untuk mengatasinya. Menindaklanjuti keputusan dari LPMD, maka para anggota yang merupakan ketua dari berbagai kelompok warga kemudian mengadakan sosialisasi kepada masyarakat. Dalam sosialisasi yang berlangsung di berbagai pertemuan tersebut masyarakat juga diperbolehkan untuk menyampaikan masukan berupa saran atau opini mereka. Berbagai masukan dari masyarakat kemudian ditampung dan disampaikan pada rapat LPMD selanjutnya. Oleh karena seluruh media forum yang ada digunakan untuk melakukan sosialisasi maka masyarakat mendapatkan banyak informasi mengenai program yang akan mereka jalankan di dusun. Mengingat partisipasi masyarakat yang tinggi dalam setiap pertemuan dan tingkat kegotongroyongan yang masih tinggi, tidak mengherankan kemudian apabila peran serta mereka dalam program juga tinggi, selain itu juga terjadi konformitas disini. Dimana ketika sudah disepakati bersama maka seluruh anggota masyarakat harus mematuhi. Apabila ada anggota masyarakat yang tidak mematuhi makan akan mendapat tekanan sosial, bisa dengan cara persuasif seperti menyediakan sarana dan prasarana bisa juga dengan cara yang ekstrim seperti pengucilan. Selain karena partisipasi warga dalam pertemuan dan fasilitas yang disediakan, program ini bisa berhasil karena warga bukan sekedar mendapat sosialisasi jalannya program saja. Mereka bisa memberikan masukan terhadap program, turut mengevaluasi jalannya program. Mengingat dalam model yang dirancang Figueroa dkk ini setiap tahap saling berkesinambungan. Begitu pula dalam pelaksanaan di dusun Klajuran, meskipun sudah memasuki tahap collective action tetapi bisa kembali pada community dialogue ketika ada masukan dari warga masyarakat misalnya. Masyarakat pada saat sosialisasi juga mendapat pemahaman mengenai manfaat dan tujuan dari program tersebut bagi mereka. Dengan tingkat pendidikan rata-rata warga yang tinggi, mengingat lebih dari seratus orang warganya mengenyam bangku perguruan tinggi bahkan sampai S2 dan S3 maka tidak heran apabila kesadaran dan pemahaman mereka terhadap manfaat dari program ini cukup tinggi. Perjuangan warga dusun Klajuran ini tidak sia-sia mereka berhasil menerapkan program pengelolaan sampah mandiri dengan sistem pemilahan. Hasilnya, wilayah mereka memang semakin bersih dan sehat, bahkan mereka mendapat penghargaan dengan memenangkan lomba kebersihan tingkat provinsi. Lomba ini memang merupakan tindak lanjut dari program Yogyakarta Green and Clean yang dicanangkan Unilever, harapannya dengan adanya lomba ini masyarakat dapat lebih terpacu. Terutama dengan adanya penghargaan bagi jerih payah mereka.

Kata Kunci : Pengelolaan Sampah


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.