TIONGHOA MUSLIM DI YOGYAKARTA (Studi kasus tentang Interaksi Tionghoa Muslim dengan Masyarakat dan Pemerintah di Yogyakarta)
DIAN AYU FITRIA, Mashuri Maschab
2010 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Berdasarkan hasil penelitian penulis, dapat dilihat bahwa pada setiap era pemerintahan terdapat perbedaan sikap pemerintah terhadap etnis Tionghoa. Pada era Orde Baru, etnis Tionghoa telah diposisikan sebagai etnis yang dirugikan dengan berbagai kebijakan pemerintah. Hal ini masih ditambah dengan situasi masyarakat yang masih curiga dengan keberadaan etnis Tinghoa sebagai akibat dari politik adu domba yang dilakukan oleh Belanda di masa penjajahan. Perubahan mulai dirasakan oleh etnis Tionghoa pasca pemeritahan Orde Baru. Pemerintah mulai menghapus kebijakan-kebijakan yang merepresi etnis Tionghoa dan mulai membuka peluang bagi etnis Tionghoa untuk mengembangkan kebudayaan mereka sekaligus memberikan kesempatan bagi etnis Tionghoa untuk melakukan interaksi dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan kebudayaan. Apa yang dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia, sekaligus juga dialami oleh Tionghoa muslim. Sebagai etnis Tionghoa, Tionghoa muslim juga mendapat perlakuan yang sama dengan etnis Tionghoa pada umumnya. Sedikit perbedaan baru dapat dilihat ketika Tionghoa muslim, yang notabene lebih terbuka dalam bersosialisasi karena agama yang mereka peluk juga menjadi agama mayoritas di tengah masyarakat sehingga memungkinkan mereka untuk lebih banyak berhubungan dengan masyarakat, relatif dapat dengan mudah membangun interaksi positif dengan masyarakat di lingkungan mereka dan dengan masyarakat dalam lingkup yang lebih luas melalui kesamaan norma-norma agama dan berbagai kegiatan keagamaan seperti kelompok pengajian mapun do’a bersama. Selain membangun interaksi positif melalui kegiatan-kegiatan agama, Tionghoa muslim juga berusaha membangun imej positif mengenai etnis Tionghoa melalui kegiatan budaya dan kesenian yang melibatkan banyak pihak, baik masyarakat dan pemerintah, dan dengan mengadopsi budaya lokal dalam pertunjukan maupun aktivitas kesenian mereka. Dalam hal ekonomi, Tionghoa muslim memang memiliki peran, walaupun tidak terlalu signifikan karena jumlah/populasi mereka yang memang tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan pengusaha Tionghoa yang non muslim. Sedangkan dalam hal politik, selama ini etnis Tionghoa memang terkesan menjauhi bidang ini, terutama pasca kejadian G30S/PKI dan kepemimpinan rezim Orde Baru yang memang sengaja “menggiring” etnis Tionghoa untuk tidak berada di ranah politik, namun lebih di ranah ekonomi. Dari kalangan Tionghoa muslim sendiri, hingga saat ini belum ada tokoh yang cukup menonjol. Penelitian yang penulis lakukan juga menunjukkan bahwa prasangka dan diskriminasi terkadang masih dialami oleh etnis Tionghoa di Yogyakarta. Diskriminasi institusional banyak dialami oleh etnis Tionghoa di masa Orde Baru, namun dengan berbekal surat syahadat, yang menunjukkan etnis Tionghhoa tersebut beragama Islam, diskriminasi hampir tidak dialami lagi oleh Tionghoa muslim. Dan prasangka yang ada juga tidak diutarakan langsung kepada etnis Tionghoa yang bersangkutan akan tetapi lebih bersifat informasi “internal” didalam kelompok mayoritas itu sendiri. Pola relasi yang cukup menonjol terjadi diantara Tionghoa muslim, masyarakat dan pemerintah sekarang ini adalah kerjasama. Pola-pola relasi seperti persaingan dan konflik tidak lagi mendominasi hubungan diantara mereka. Saat ini baik pemerintah, masyarakat maupun etnis Tionghoa (khususnya Tionghoa muslim) tidak lagi sungkan untuk saling bekerjasama dan saling membantu dalam mensukseskan berbagai kegiatan yang berdampak positif bagi perkembangan hubungan diantara mereka. Walaupun dalam hal berinteraksi dengan pemerintah, interaksi mereka masih terbatas. Namun perlu juga dicatat bahwa meskipun secara khusus hubungan komunitas Tionghoa muslim dengan pemerintah dan masyarakat sudah cukup baik, tetapi sekali lagi karena secara kuantitas Tionghoa muslim tidak banyak maka pengaruhnya tidak cukup signifikan dalam hubungan etnis Tionghoa dengan pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan. Hubungan baik itu tidak serta merta dapat merubah kesenjangan yang telah terjadi selama ini.
Kata Kunci : Etnis; Muslim