Laporkan Masalah

Membaca Citra Asia Tenggara di Udara (Studi Komparatif Iklan Pesan Iklan Televisi Garuda Indonesia Airlines, Thai Airways, Malaysia Airlines, dan Singapore Airlines)

Kiki Anton Syahroni, --

2010 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

citra seperti keramahan dalam pelayanan, kenyamanan, dan kecanggihan fasilitas kabin pesawat. Kesemua citra-citra ini dapat diamati dari setiap aspek pesan yang disampaikan dalam iklan-iklan televisi tersebut, baik pesan sifatnya manifest maupun pesan yang sifatnya latent. Citra produk maupun merek dalam industri jasa penerbangan memang memegang peranan penting karena industri jasa transportasi udara menggantungkan bisnisnya pada persepsi konsumen tentang keamanan, layanan, dan teknologi. Terutama pada bidang keamanan, industri penerbangan sangat rentan terhadap isu-isu seperti kecelakaan pesawat, aksi terorisme. Imbas serangan teroris yang membajak pesawat komersil pada tanggal 11 September 2004 lalu terhadap lesunya industri jasa penerbangan Amerika Serikat dan Eropa merupakan salah satu contoh signifikan pentingnya faktor keamanan bagi para konsumen industri penerbangan. Hal ini juga sempat dialami oleh industri penerbangan Indonesia ketika berbagai insiden kecelakaan pesawat yang menimpa maskapai-maskapai penerbangan nasional mengakibatkan pada tanggal 6 Juli 2007 lalu seluruh masakapai penerbangan Indonesia (termasuk Garuda Indonesia) tidak dizinkan oleh komisi penerbangn Uni Eropa untuk melakukan penerbangan ke berbagai tujuan di Benua Eropa. Revolusi industri merupakan faktor penting yang menyebabkan terjadinya pergeseran sistem ekonomi tradisional menuju system ekonomi modern dimana kapitalisme menjadi sebuah alasan utama terjadinya eksploitasi besar-besaran terhadap hasrat manusia untuk memenuhi segala macam kebutuhannya. Pergeseran ini telah mengubah struktur dasar proses produksi, distribusi, dan konsumsi manusia terhadap barang-barang kebutuhan mereka sehari-hari. Penemuan teknologi dibidang industri telah menyebabkan barang-barang kebutuhan manusia mulai diproduksi secara masal. Hal ini mengakibatkan terjadinya surplus atau melimpahnya barang-barang konsumsi dipasaran. Situasi ini telah mengakibatkan terjadinya suatu pergeseran dimana sebelumnya konsumen yang mencari barang-barang dengan kualitas yang bisa dipercaya menuju kepada situasi dimana produsen yang kemudian mencari konsumen. Melalui penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam sistem ekonomi modern dimana kapitalisme tumbuh subur didalamnya, produsen memainkan peran yang aktif dalam upaya-upaya untuk menciptakan kebutuhan, menumbuhkan permintaan, dan membujuk konsumen untuk menggunakan barang-barang atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Hal ini dikarenakan celah pasar yang ada semakin sempit akibat dijejali oleh barang-barang dan jasa dari produsen-produsen yang ada dengan jenis dan kegunaan yang pada prinsipnya sama. Iklim kompetisi yang semakin ketat ini membuat permasalahan produsen tidak hanya berhenti dititik bagaimana meningkatkan kualitas, daya tahan produk, diversifikasi produk, fungsi tambahan, dan lain sebagainya, tetapi juga mencakup permasalahaan bagaimana menjual, menarik, dan membujuk konsumen untuk menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan oleh produsen tersebut. Oleh sebab itu peran komunikasi dan strategi pemasaran dalam situasi pasar yang kompetitif ini sangat signifikan Komunikasi pemasaran, dengan periklanan sebagai salah satu aspek penting didalamnya, mempunyai relasi yang signifikan terhadap ekuitas merek dalam membangun merek dalam ingatan konsumen (brand awareness) dan menciptakan citra merek (brand image). Periklanan memiliki peran sentral untuk mengembangkan citra merek. Periklanan selain memberikan informasi tentang kemampuan funsional suatu produk untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan konsumen, juga merupakan alat untuk membujuk konsumen untuk menggunakan suatu produk atau merek melalui nilai-nilai dan makna yang relevan dengan konsumen. Konsumen berpotensi mengalami sebuah kebingungan dan kebuntuan dalam menentukan pilihan untuk menggunakan jasa maskapai penerbangan mana yang akan dipergunakan untuk menempuh suatu perjalanan dalam ketatnya persaingan bisnis penerbangan saat ini. Munculnya beragam masakapi penerbangan baru dengan harga dan produk layanan yang murah dan variatif berakibat pada banyaknya alternatif untuk menentukan pilihan layanan yang akan dipergunakan oleh seorang calon konsumen. Bagiamana sebuah strategi pemasaran dan pencitraan merek (brand) dari sebuah maskapai penerbangan mampu menancapkan merek dan produknya dalam urutan nomor satu dari berbagai macam pilihan dalam benak seorang konsumen merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi setiap pemain dari bisnis transportasi udara tersebut. Menjual suatu produk tidak hanya cukup meng- appeal suatu kebutuhan, tetapi dapat dikembangkan untuk mendekatkan pada dorongan-dorongan lain, seperti nilai akan prestise, kejantanan, situasi akrab, asosiasi kesegaran dan lain sebagainya. Bila Kita cermati iklan-iklan televisi Garuda Indonesia Airlines, Thai Airways, Malaysia Airlines, dan Singapore Airlines yang telah dibahas dalam bab sebelumnya, keempat iklan televisi maskapai penerbangan tersebut memiliki kecenderungan kecenderungan untuk mengasosiasikan produk-produk layanan mereka dalam citra- citra seperti keramahan dalam pelayanan, kenyamanan, dan kecanggihan fasilitas kabin pesawat. Kesemua citra-citra ini dapat diamati dari setiap aspek pesan yang disampaikan dalam iklan-iklan televisi tersebut, baik pesan sifatnya manifest maupun pesan yang sifatnya latent. Citra produk maupun merek dalam industri jasa penerbangan memang memegang peranan penting karena industri jasa transportasi udara menggantungkan bisnisnya pada persepsi konsumen tentang keamanan, layanan, dan teknologi. Terutama pada bidang keamanan, industri penerbangan sangat rentan terhadap isu-isu seperti kecelakaan pesawat, aksi terorisme. Imbas serangan teroris yang membajak pesawat komersil pada tanggal 11 September 2004 lalu terhadap lesunya industri jasa penerbangan Amerika Serikat dan Eropa merupakan salah satu contoh signifikan pentingnya faktor keamanan bagi para konsumen industri penerbangan. Hal ini juga sempat dialami oleh industri penerbangan Indonesia ketika berbagai insiden kecelakaan pesawat yang menimpa maskapai-maskapai penerbangan nasional mengakibatkan pada tanggal 6 Juli 2007 lalu seluruh masakapai penerbangan Indonesia (termasuk Garuda Indonesia) tidak dizinkan oleh komisi penerbangn Uni Eropa untuk melakukan penerbangan ke berbagai tujuan di Benua Eropa.

Kata Kunci : Iklan, Televisi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.