Film Korea Dimata Perempuan di Yogyakarta (Etnografi Pemaknaan Pesan Film Korea oleh Khalayak Perempuan Muda di Yogyakarta)
Dharmesti Pratamasari,
2010 | Skripsi | Ilmu KomunikasiKajian khalayak lintas-negara makin relevan sekarang seiring makin terhubungnya dunia oleh media massa. Meskipun relatif terlihat tidak kentara, Indonesia tak luput dari banyaknya media impor Korea yang membanjiri Asia Tenggara. Salah satunya adalah film, yang kebangkitannya sedang dikagumi. Menarik kemudian untuk mengkaji bagaimana khalayak di tanah air menerima dan memaknai (men-decode) pesan media yang berasal dari negara yang dapat dibilang baru saja mereka kenal itu. Penelitian ini memakai pendekatan decoding, buah pemikiran Stuart Hall, yang menyoroti saat di mana teks bertemu dengan khalayak. Hall menyatakan bahwa komunikator men-encode pesan untuk tujuan ideologis tertentu dan berusaha agar komunikan atau khalayak menerima dan menyetujui pesan tersebut. Di sisi lain penerima bisa saja menolak, menyetujui beberapa bagian dari pesan, bahkan ikut setuju tapi dengan penafsiran makna yang sama sekali berbeda dari maksud si pengirim, sesuai latar belakang khalayak sendiri. Khalayak yang memaknai teks, tetapi pemaknaan itu tidak dapat terlepas dari teks dan konteks yang menyediakan bahan-bahan untuk membuat pemaknaan. Penelitian ini menggunakan metode etnografi yang dianggap dapat memberi peneliti kesempatan untuk mengamati konteks praktik menonton film Korea tiga mahasiswi yang menjadi informan dalam kehidupan sehari-hari di mana proses pemaknaan terjadi. Penelitian ini menunjukkan secara umum pesan utama yang para narasumber maknai adalah mengenai modernitas ala Asia dimana terjadi negosiasi antara nilai-nilai tradisi Timur dengan nilai-nilai Barat. Suatu makna yang terbentuk dengan situasi dan kondisi Indonesia, makna yang tidak persis sama dengan negara-negara tetangga yang juga menerima film Korea. Riset khalayak film Korea inipun kurang-lebih sejalan dengan model Hall bahwa sebagian besar pesan media bersifat multitafsir, terutama dalam kasus ini, dengan konteks sosial-budaya (negara) khalayak nyata. Kata kunci: khalayak lintas-negara, perempuan muda, etnografi, film Korea, pemaknaan
Kata Kunci : Film; Perempuan