KEMITRAAN, APAKAH SEBAGAI SEBUAH JAWABAN? (Studi Tentang Perubahan Pola Hubungan Antara Petani Dengan Perusahaan di Area Perkebunan Tembakau Vorstenlanden, Klaten, Jawa Tengah)
Hening Hayuningrum, Suparjan
2010 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Relasi antara petani dengan perusahaan selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji. Penghisapan yang dilakukan para pemilik kapital pada petani, sejak masa kolonial hingga sekarang, bagai tiada akhir. Dimulai dengan kewajiban petani mengerjakan lahan milik raja, kerabat raja, atau tanah raja yang disewakan kepada pihak asing, dengan upah 2/5 dari hasil bumi yang dikerjakan di tanah tersebut. Hingga di masa Orde Baru, yang mewajibkan petani menyerahkan lahan untuk ditanami tembakau Vorstenlanden berdasar Surat Keputusan (SK) Bupati Klaten. Dirasa penting untuk kemudian mengetahui bentuk-bentuk kerja yang dikembangkan antara sub unit BUMN bidang tembakau ini dengan petani dari masa ke masa, sehingga akhirnya di era Reformasi, memunculkan gerakan Forum Petani Tembakau Vorstenlanden (FPTV) sebagai titik balik dari ketidakberdayaan petani menghadapi perusahaan dan negara. Untuk selanjutnya melihat, apakah keberadaan gerakan tersebut secara utuh telah menyentuh ranah masyarakat buruh tani yang hingga saat ini, tanpa disadari, masih bekerja dalam sistem hegemonik. Untuk menjawab dua pertanyaan dalam penelitian ini, yakni melihat model jalinan relasi PTPN X Unit Tembakau Klaten dengan petani tembakau dari masa ke masa, dan tentang peran keberadaan FPTV, digunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, baik itu terhadap petani pemilik lahan, petani penggarap, penggerak FPTV, maupun pihak PTPN X Unit Tembakau Klaten. Teknik pemilihan informan yang digunakan adalah purposive dengan observasi dilakukan terhadap pihak-pihak tersebut diatas. Dokumentasi dilakukan dengan pengambilan foto dan datadata sekunder yang terkait. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat berbagai model relasi antara perusahaan dengan petani, dimulai dengan sistem sanggem (berasal dari kata sanggup atau menyanggupi), kolektif, sewa, ITVL, dan terakhir sistem Kemitraan Tembakau Vorstenlanden (KTVL). KTVL digagas tahun 1998, diawali dengan mengkonsolidasi perwakilan-perwakilan petani pemilik lahan yang tanahnya digunakan sebagai wilayah tanam tembakau Vorstenladen. Perwakilan petani-petani ini kemudian membentuk perkumpulan bernama Forum Tembakau Vorstenlanden (FPTV). Gerakan FPTV, yang dimotori oleh elite petani lokal dan didukung beberapa aktor lain, menghasilkan perubahan signifikan dalam mengangkat posisi tawar petani pemilik lahan untuk dapat duduk sejajar dengan perusahaan. Terbukti, sebagai contoh, FPTV dapat menghapus Surat Keputusan (SK) Bupati yang digunakan untuk mencari lahan, menghilangkan peranan aktor lain dalam penentuan lahan, peningkatan harga beli daun tembakau kering, dan jaminan lainnya. Hingga kini, FPTV masih dapat secara aktif memfasilitasi kebutuhan petani pemilik lahan, terbukti antara FPTV dan PTPN X Unit Tembakau Klaten selalu berusaha menjalankan sistem Kemitraan. Walaupun begitu, stagnansi dalam FPTV mulai dirasakan oleh para penggerak yang memperjuangkan FPTV sejak 1998. Tak dapat dipungkiri, stagnansi ini mempengarahi getar perjuangan mereka. Peranan FPTVpun rupanya masih terfokus pada petani pemilik lahan, dan belum sepenuhnya memperjuangkan petani penggarap. Permasalahan harian petani penggarap di lahan, tidak mendapat langkah kongkrit dari FPTV. Terbatasnya kepekaan wakil-wakil FPTV melihat fenonema yang terjadi di lapangan antara mandor dengan petani penggarap, dinilai masih melanggengkan sistem hegemoni, ditengah counter hegemoni yang dilakukan oleh FPTV. xviii
Kata Kunci : Kemitraan