Laporkan Masalah

NASIONALISME DALAM BERITA SEPAK BOLA Analisis Wacana Kritis terhadap Berita Tim Nasional U-23 SEA Games 2009 di Harian Seputar Indonesia dan Kompas

Perwiro Haryo Mukti, Muhammad Sulhan

2010 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Saat ini kita hidup dalam era budaya media. Budaya media yang memproduksi aturan kehidupan sehari-hari, membentuk pandangan politik dan perilaku sosial, serta menyajikan materi yang menjadikan masyarakat menempa identitasnya. Termasuk di dalamnya kesadaran tentang nasionalisme dihasilkan pula oleh budaya media. Dengan demikian, nasionalisme paling mudah diformulasikan dan diinternalisasikan kepada masyarakat melalui media massa. Diantara sekian banyak bentuk nasionalisme modern, sepak bola adalah salah satu panggung yang terbaik untuk mementaskannya. Pertandingan sepak bola antar negara, dalam hal ini tim nasional Indonesia, selalu mendapat tempat di media massa kita. Selain karena bobot nilai beritanya, hal lain yang dimediasi adalah kedekatan psikologis antara berita dan audiensnya, salah satunya adalah rasa nasionalisme. Kecenderungan penulisan berita yang dilakukan pada dua media massa terteliti (Seputar Indonesia dan Kompas) atas tim sepak bola U-23, menghasilkan pola pemberitaan yang berbeda satu sama lain. Memang, saat itu realitas empirik akar rumput menunjukkan ada dua golongan yang berbeda sudut pandang dalam melihat sepak bola kita, utamanya tim nasional. Ada golongan yang masih menaruh asa tinggi bahwa suatu saat tim sepak bola nasional akan mengulang kejayaan yang dulu pernah digenggam, golongan ini terwakili oleh Seputar Indonesia. Satu pihak mulai bersikap dingin, kehilangan harapan karena prestasi tak kunjung datang, apatis terhadap timnasnya, yang ini terwakili oleh Kompas. Seputar Indonesia secara garis besar masih memiliki optimisme sepakbola akan berjaya di SEA Games Laos. Yang paling ketara dapat dilihat dari judul yang ditampilkan saat awal-awal turnamen, tampak Seputar Indonesia masih menyimpan kebanggaan terhadap tim sepakbola U-23. Di satu sisi, Seputar Indonesia masih terjebak pada nostalgia kejayaan masa lampau ketimbang berkaca pada hasil uji coba terkini. Namun bukan berarti nasionalisme yang ditunjukkan Seputar Indonesia adalah sebuah nasionalisme yang polos. Ada muatan bisnis di dalam pernyataan nasionalisme Seputar Indonesia, motif untuk melanggengkan bisnis siaran pertandingan timnas yang rutin ditayangkan RCTI. Secara umum, Kompas jarang memberikan dukungan kepada timnas U-23. Maklum, sedari awal Kompas dengan berkaca dari hasil uji coba, sudah sangat ragu akan kemampuan timnas. Penulis memilih menggunakan kata ’apatis’. Sinyalmen lunturnya kebanggaan terhadap tim Merah Putih. Supaya lebih menyeluruh, penulis akan menyimpulkannya per level elemen wacana. Pada elemen tematik Seputar Indonesia menganggap timnas masih layak mendapatkan dukungan, walaupun hasil uji coba tak pernah memihak kepada timnas. walaupun nyata-nyata timnas gagal total, Seputar Indonesia masih menyelipkan apresiasi positif. Timnas telah berjuang sekuat mungkin untuk menghindarinya. Beda dengan Kompas. Sejak awal Kompas terlihat tak menyimpan harapan sekecil apa pun untuk tim sepak bola U-23. Karena menurut Kompas, Indonesia adalah tim dengan mutu sangat buruk. Bahkan, kegagalan ini dianggap biasa. Sama seperti kegagalan yang sudah-sudah. Dari elemen skematik Seputar Indonesia kerap menulis judul yang bernuansa kepercayaan diri dan semangat. Sedangkan Kompas, cenderung datar-datar saja dan menahan diri dengan tidak memberi dukungan secara eksplisit. Yang kedua dilihat dari story. Untuk mendukung skema berita yang memuat dukungan dan optimisme, Seputar Indonesia mengorbankan kaidah cover both sides, untuk menyembunyikan komentar-komentar keras. Berbeda dengan Kompas yang tak segan mengutip pernyataan-pernyataan keras dari narasumber eksternal tim. Penelusuran di elemen semantik memperlihatkan bahwa Seputar Indonesia menggunakan latar historis untuk membangkitkan sentimen akan nasionalisme. Kompas lebih memilih untuk menampilkan latar pertandingan uji coba yang selalu berakhir buruk. Lucunya, di elemen latar, Kompas menyebut tim U-23 tak pernah menang sekali pun. Sebenarnya, tim U-23 pernah sekali menang saat uji coba melawan Sriwijaya FC. Selanjutnya di elemen sintaksis, Seputar Indonesia sering menonjolkan identitas kebangsaan dengan menggunakan kata ganti ’Merah Putih’. Sedangkan Kompas cenderung mengajak pembaca berpikir bahwa kegagalan ini adalah kegagalan kolektif. Di elemen stilistik, tampak pelabelan berbeda antara kedua media. Seputar Indonesia melabeli pemain dengan sebutan pejuang, untuk memberi predikat baik. Bedanya dengan Kompas, Kompas melabeli timnas dengan serangkaian predikat buruk yang terlihat dari pemilihan kata-kata ditampilkan. Hal itu dipertajam lagi di level retoris dengan menggunakan metafora-metafora dramatik dan cenderung hiperbolik. Sedangkan Seputar Indonesia, di level retoris tak segan untuk memanipulasi fakta sejarah. Fakta sejarah yang merugikan Indonesia cenderung disembunyikan.

Kata Kunci : surat Khabar; Sepak Bola


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.