Laporkan Masalah

Proses pengalaman Keberagaman pengikut Aliran Keagamaan Al Qiyadah Al Islamiyah Di Yogyakarta

TIARA BRAHMARANI, --

2010 | Skripsi | Sosiologi

Pluralisme agama adalah kenyataan yang ada di Indonesia. Sedangkan beragama merupakan hak dan kebebasan setiap manusia, yang keberadaannya diatur dalam berbagai perangkat aturan yuridis nasional maupun internasional. Namun meskipun demikian, jaminan kebebasan seseorang untuk beragama belumlah berlaku utuh. Faktanya konflik yang dipicu oleh permasalahan agama masih marak terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah aksi penolakan umat “Islam” terhadap munculnya agama Al Qiyadah Al Islamiyah. Tak bisa dimungkiri bahwa kelahiran Al Qiyadah telah mencuri perhatian sebagian masyarakat. Al Qiyadah merupakan sebuah gerakan agama baru bernuansa Islam, yang berambisi untuk menegakkan kembali Kerajaan Allah atau Dien Allah, sesuai dengan yang termaktub di dalam Al Quran. Sejak berdiri pada tahun 2000, aliran ini telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hingga saat ini, dari berbagai data yang telah dihimpun tercatat bahwa Al Qiyadah mempunyai 40.000-60.000 pengikut yang tersebar di seluruh Indonesia. Menilik dari hal tersebut, peneliti tergerak untuk mencoba menguak lebih dalam mengenai bagaimana proses pencarian keagamaan yang dialami oleh para pengikut Al Qiyadah serta faktor-faktor apa yang mempengaruhi pilihan keberagamaannya tersebut. Penelitian ini dilakukan di Yogyakarta, dengan subjek penelitian para pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Untuk memperoleh data yang diinginkan, penulis menggunakan teknik pengambilan sampel secara snow ball, dengan menentukan sampling frame terlebih dahulu, sebagai indikator untuk membatasi subjek penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini. Adapun data yang dikumpulkan berasal dari observasi dan wawancara yang dilakukan secara langsung kepada subjek terpilih. Di lapangan, peneliti menemukan bahwa pada masa awal keberagamaan informan, para orang tua cenderung mengagamakan pemikiran religius mereka kepada para informan, yang selanjutnya akan diadopsi oleh mereka dalam kehidupan kesehariannya. Setelah beranjak remaja, seiring dengan semakin meluasnya komunitas sosial dan wawasannya, informan merasakan adanya ketidaksinkronan antara kenyataan yang ia hadapi dngan ajaran agama yang mereka terima selama ini. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan dan kebimbangan dalam kehidupan para informan. Mereka menganggap agama telah gagal dalam menyelesaikan permasalahan di dunia. Ketika memasuki masa remaja akhir, mereka bertemu dengan Al Qiyadah yang ternyata mampu memberikan jawaban atas keraguan meeka selama ini. Agama yang membawa misi perdamaian untuk sesama. Agama yang tidak hanya mementingkan hubungan vertikal saja, tetapi juga hubungan horizontal, dimana seseorang harus berguna untuk lingkungannya. Agama yang membuat para informan merasa merasa nyaman dan menemukan Tuhan di dalamnya. Agama dengan sisi kehumanisan tinggi yang membuat mereka merasa mantab untuk menjadi bagian di dalamnya. Peneliti juga melihat bahwa kedua informan sebenarnya menyadari bahwa beragama merupakan kebebasan setiap orang. Tidak hanya kebebasan untuk memilih, tapi juga untuk merasakan pengalaman keberagamaannya sendiri. Meski dalam masa kecil informan keluarga berperan besar dalam pembentukan keberagamaannya, namun ketika memasuki usia remaja, otoritas tersebut melemah. Selanjutnya, peran temanteman sebaya atau peer group mulai menggeser posisi orang tua tersebut. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa kekecewaan informan terhadap agama lama dan misimisi yang terdapat dalam aliran Al Qiyadah juga turut berpengaruh terhadap pilihan keberagamaan para informan. Kata kunci : Al Qiyadah, pengalaman keberagamaan.

Kata Kunci : Agama Islam


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.