PENGEMBANGAN MODEL JAMINAN SOSIAL INFORMAL BAGI LANSIA DI PERDESAAN WONOGIRI
Eko Sriyanto, Janianton Damanik
2009 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Disparitas sosial di Indonesia merupakan persoalan klasik yang belum terpecahkan hingga sekarang. Di Indonesia, skema jaminan sosial hanya menjangkau 15 juta orang angkatan kerja dan bantuan sosial diimplementasikan secara universal, yaitu pada kelompok miskin. Di sisi lain, jumlah lansia pada tahun 2005 mencapai 17,6 juta jiwa. Jaminan sosial bagi lansia tidak cukup mendapat perhatian, dimana mereka disamakan dengan kelompok miskin, padahal karakter lansia sangat berbeda dengan kelompok rentan lainnya. Ketika skema jaminan sosial dari pemerintah tidak mampu menjangkau, maka skema-skema informal menjadi pilihan. Lansia mengandalkan sektor informal, terutama wilayah perdesaan (rural) yang jauh dari akses pemerintahan setempat. Mereka akan mengandalkan local resources dan social capital di lingkungannya. Disinilah urgensi memahami eksisting peran masyarakat dalam menciptakan jaminan sosial bagi lansia dan mengupayakan pengembangannya. Dalam melihat jaminan sosial informal menggunakan dua pendekatan, yaitu konvensional dan fungsional. Kedua pendekatan ini memang berbeda dalam melihat dinamika jaminan sosial yang berkembang, namun keduanya akan saling mengisi untuk memberikan penjaminan sosial bagi masyarakat. Jaminan sosial informal ini memang tidak lepas dari sistem budaya yang berkembang (adat-istiadat), basis kekeluargaan, solidarity, reciprocity, aktivitas lokal dan budaya serta neighborhood. Unit analisis penelitian adalah lansia di Desa Pulutan Wetan, Kecamatan Wuryantoro. Kabupaten Wonogiri memiliki prosentase penduduk lansia tertinggi di Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Proses pengambilan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Penentuan informan secara purposive, yaitu lansia, tokoh masyarakat dan perangkat desa atau dusun. Peran masyarakat dalam menciptakan jaminan sosial informal bagi lansia dimiliki dari satuan terkecil di masyarakat, yaitu keluarga, tetangga dan masyarakat. Peran keluarga merupakan peran yang paling dekat dengan kehidupan lansia, namun terdapat lansia yang tidak hidup bersama keluarganya. Lansia ini tidak memiliki penjaminan sosial dari keluarganya, sehingga peran tetangga menjadi pendukung dalam menciptakan jaminan bagi kebutuhan lansia. Reduksi kemampuan fisik lansia mempengaruhi pemenuhan kebutuhan pangan, kemampuan sosialisasi dan keadaan psikologis lansia. Tetangga sebagai orang terdekat yang berkaitan dengan relasi personal. Peran tetangga memang cenderung pada aspek sosial dan psikis sebagai teman ketika lansia merasakan perasaan kesendirian dan sebagai tempat sosialisasi lansia. Masyarakat memberikan kontribusi pada keadaan insecurity lansia yang lebih luas, seperti memperbaiki atau membangunkan rumah tinggal yang layak, jaminan ketika lansia sakit, membantu keberlanjutan kehidupan lansia terkait sektor pertanian dan aspek kelembagaan yang memberikan ruang bagi lansia untuk mengembangkan kapasitasnya. Aktivitas kolektif masyarakat yang memberikan jaminan sosial bagi lansia meliputi sambatan, kolekte, slametan, pola gilir-ganti dan aktivitas kelembagaan. Dari peran masyarakat tersebut diatas dapat dibagi menjadi tiga kelompok sebagai upaya pengembangannya. Pertama, jaminan atas pangan melalui sektor pertanian. Kedua, basis kelembagaan masyarakat sebagai tempat beraktivitas, bersosialisasi dan pengembangan kapasitas lansia. Ketiga, jaminan sosial berbasis budaya dalam memenuhi kebutuhan lansia secara psikis karena berhubungan dengan pemahaman lansia mengenai kehidupan. Keyword: jaminan sosial informal, lansia, aktivitas kolektif
Kata Kunci : Jaminan Sosial Lansia