Laporkan Masalah

Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) Sebagai Dampak Ketimpangan Relasi Kuasa Pada Remaja Perempuan Dalam Pacaran (Studi Kasus terhadap remaja korban KTD di LSM PKBI)

Evi Nur Akhidhah, Partini

2010 | Skripsi | Sosiologi

Pacaran saat ini telah menjadi suatu keharusan bagi remaja. Apabila tidak memiliki pacar maka oleh teman-temannya akan dicap kuper dan ngga gaul. Hal ini merupakan salah satu penyebab remaja terkesan berkompetisi dalam mencari pacar. Dalam realitas remaja berpacaran, pengaruh dari keberadaan peer group maupun tekologi canggih yang memberikan muatan-muatan hampir tanpa sekat telah memberikan pola yang berbeda pada remaja yang sedang berpacaran. Tidak sedikit pula kemudian remaja yang menjadi terlena dengan kondisi berpacaran. Yang dimaksud dengan keterlenaan ini adalah kondisi dimana remaja terlampau masuk dalam interaksi intens antara dua remaja yang saling mengasihi, sehingga hal ini justru mejadikan sebuah kerentanan dalam kondisi tersebut. Hal ini kemudian menjadi menarik untuk dilakukan penelitian. Metode penelitian yang digunakan untuk mengakaji yakni studi kasus. Studi kasus (casestudy) merupakan metode eksploratif dan analisis yang sangat cermat dan intensif mengenai suatu keadaan unit (kesatuan) sosial berupa pribadi/ person, suatu keluarga, kelompok atau suatu kelompok masyarakat. Yakni studi kasus terkait dengan fenomena-fenomena khusus kehamilan tidak diinginkan karena keinginan salah satu pihak. Salah satu pihak yang dimaksud di sini adalah pihak yang memiliki posisi ordinat dalam relasi pacaran yang kemudian melakukan pressure-pressure terhadap remaja perempuan sebagai pasangannya, yakni laki-laki. Kerentanan tersebut merupakan sebuah relasi pacaran pada remaja yang bargaining positionnya terkadang tidak seimbang antara laki-laki dengan perempuan, sehingga munculah kekerasan dalam pacaran. Dalam kultur masyarakat kita yang patriarkal posisi subordinate atau yang menjadi korban atas pressure dari si pemilik power ialah perempuan. Penyebab kekerasan terselubung yang terjadi pada remaja perempuan yakni pertama, ketimpangan relasi power, kultur patriarkal, serta minimnya kesadaran gender menjadikan perempuan mendapatkan perilaku kekerasan dari laki-laki. Kedua, dekadensi moral karena remaja berpacaran tidak mengikuti nilai-nilai yang tertanam dalam masyarakat. Ketiga, perkembangan teknologi semakin massif yang kemudian membuat mudahnya remaja mengakses gambar maupun video berkonten dewasa. Keempat, ketiadaan sosialisasi info kesehatan reproduksi secara benar, baik dari orang tua maupun guru di sekolah. Implikasi-implikasi yang kemudian muncul yakni, kondisi powerless pada perempuan membuatnya tidak berani mengatakan kata tidak dan melakukan penolakan sehingga mudah mendapatkan pressuredari pasangannya. Nilai yang tidak dihiraukan membuat remaja melakukan model pacaran berbasis pada perilaku fisik dan seksual. Remaja menjadi mudah mengakses teknologi yang berkonten dewasa yang kemudian memicunya untuk meniru perilaku tersebut. Remaja menjadi tidak tahu tentang kondisi tubuhnya sehingga tidak mengerti apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait dengan kondisi reproduksinya.

Kata Kunci : Remaja


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.