Laporkan Masalah

Faktor Sosiodemografi dan Psikografi Penentu Perilaku Wisatawan Nusantara (Wisnus) di Malioboro

ERWITA NURSARI, Bambang Sunaryo

2010 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Yogyakarta, kota yang menggantungkan pendapatan pada sektor pariwisata, memiliki berbagai daerah tujuan wisata. Banyak wisatawan yang mengunjungi kota ini, terutama wisatawan nusantara. Masing-masing wisatawan nusantara memiliki perilaku dalam menggunakan waktunya. Penelitian ini memusatkan perhatian pada dan memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor sosiodemografi dan psikografi terhadap perilaku wisatawan nusantara (wisnus) di Malioboro. Perilaku wisnus merupakan perilaku wisnus berdasarkan kebutuhan dalam melihat atau menikmati obyek, melakukan kegiatan, dan membelanjakan sumber daya yang dimiliki oleh wisnus tersebut untuk suatu produk. Perilaku ini dapat diidentifikasi dengan mengklasifikasikan faktor sosiodemografi dan psikografi wisnus. Perilaku wisnus dapat dilihat dari tiga (3) aspek, yaitu something to see, something to do, dan something to buy. Peneliti menggabungkan aspek-aspek dalam faktor sosiodemografi dan psikografi secara langsung dalam rangkaian penjelasan pembahasan perilaku wisnus. Dalam penelitian ini, perilaku wisnus tersebut dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif dan disajikan secara deskriptif. Wisnus di Malioboro dibedakan menjadi dua (2) kategori usia, yaitu wisnus dengan usia 16-25 tahun dan > 26 tahun. Berdasarkan aspek-aspek dalam faktor sosiodemografi dan psikografi, wisnus di Malioboro memiliki perilaku dalam memutuskan destinasi-destinasi dan produk yang mereka pilih. Dalam aspek something to see, wisnus dengan usia 16-25 tahun cenderung ingin bersantai atau nongkrong, dan wisnus dengan usia > 26 tahun cenderung ingin berbelanja. Dalam something to do, wisnus cenderung memilih: area nongkrong di depan Museum Benteng Vredeburg dan Gedung Agung sebagai destinasi nongkrong, PKL Malioboro sebagai destinasi berbelanja (wisnus dengan kedua kategori usia), warung lesehan sebagai destinasi kuliner (wisnus denga kedua kategori usia), dan hotel kelas melati sebagai destinasi menginap mereka (wisnus dengan kedua kategori usia). Aspek terakhir adalah something to buy, wisnus dengan usia 16-25 tahun cenderung berminat pada produk kerajinan tangan, dan wisnus dengan usia > 26 tahun cenderung berminat pada produk batik. Berdasarkan fakta-fakta ini pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, dapat membuat kebijakan mengenai produk lokal yang dapat dijadikan sebagai produk andalan Malioboro, dan produk Yogyakarta secara umum, dapat menarik wisatawan untuk kembali berkunjung ke Yogyakarta, dan juga menarik banyak wisatawan baru lainnya untuk berkunjung ke Yogyakarta. Kata Kunci: perilaku wisnus, sosiodemografi, psikografi, kebijakan, produk.

Kata Kunci : Pariwisata


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.