Laporkan Masalah

MASYARAKAT HINDU BALI MENONTON DAN MENGGUNAKAN PROGRAM RELIGIUS DI TELEVISI (Studi Etnografi Khalayak terhadap Praktik Menonton Program Dharma Wacana-Bali TV dan Penggunaan Sosialnya oleh Masyarakat H

Sang Ayu Nyoman Fera Yudiastuti, Rajiyem

2009 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

1. Praktik Menonton Program Acara Dharma Wacana Masyarakat Hindu di Bali Praktik menonton mengambil tempat dalam area menonton sesuai dengan situasi dan kondisi keempat informan yaitu wilayah publik dalam rumah, seperti ruang keluarga atau kamar tidur keluarga dimana anggota keluarga dapat berkumpul dan keberadaan pesawat televisi berada di sana. Dari keempat informan tidak mempunyai kekhususan waktu untuk menonton program Dharma Wacana, artinya informan tidak meluangkan waktu hanya untuk menonton Dharma Wacana, sehingga praktik menonton berbarengan dengan aktivitas sehari-hari mereka. Melihat pada adanya berbedaan karakteristik informan yang digunakan dalam penelitian ini, maka praktik menonton dari masingmasing informan mempunyai perbedaan, sebagai berikut: a. Informan Generasi Grhasta Generasi Grhasta adalah informan yang sudah memasuki masa hidup berumahtangga. Generasi ini dibedakan lagi berdasarkan jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Kedua informan dari generasi grhasta ini memiliki pola praktik menonton yang disesuaikan dengan aktivitas informan. Informan Pak Weti, sebagai seorang Bapak yang mempunyai aktivitas berjualan di warung setiap harinya dari mulai pagi sampai sore kadang sampai malam. Praktik menonton Dharma Wacana Pak Weti bisa dilakukan dari pagi, siang ,dan sore sambil berjualan atau melayani pembeli di warung sehingga dalam posisi ini program Dharma Wacana adalah sebagai teman sekaligus hiburan bagi Pak Weti. Pak Weti mempunyai narasumber yang favorit yaitu Pak Rintya. Pada saat acara Dharma Wacana dengan narasumber tersebut, Pak Weti kadangkala lebih terfokus pada menonton Dharma Wacana. Tetapi itu bukan merupakan keharusan untuk menonton program Dharma Wacana hanya pada topik-topik tertentu saja dan dengan narasumber favoritnya. Berbeda dengan informan generasi grhasta lainnya, yaitu Bu Dewi. Bu Dewi mempunyak aktivitas bekerja di luar rumah sehingga menonton acara Dharma Wacana hanya bisa dilakukan pada pagi hari sebelum berangkat kerja dan atau sore hari ketika sudah pulang dari bekerja. Praktik menonton Dharma Wacana yang dilakukan oleh Bu Dewi, misalnya pada saat pagi hari sambil mempersiapkan anakanaknya bersekolah atau dengan mengasuh si kecil. Itupun kadang karena harus bergegas berangkat kerja, sehingga praktik menonton tidak bisa fokus hanya menonton acara Dharma Wacana tetapi berbarengan dengan kegiatan lainnya. Kedua informan pada generasi ini menggunakan remote control pada pesawat televisinya. Bedanya, informan Pak Weti tidak sering menggunakan remote control untuk mengganti saluran televisi saat tayangan iklan. Ia lebih suka menggunakan waktu tayangan iklan untuk mengistirahatkan matanya atau sekadar merileksasikan tubuhnya dengan minum air dari lemari es. Sedangkan remote control pada pesawat televisi Bu Dewi sering menjadi sumber konflik atau pertengkaran diantara anak-anaknya yang mempunyai perbedaan dalam hal selera tontonan. Dalam kondisi seperti ini Bu Dewi biasnyaa mengambil peran penengah konflik dengan kuasa atas remote control ada di tangannya. b. Informan Generasi Brahmacari Informan generasi brahmacari yakni informan yang masih menuntut ilmu dan atau belum memasuki masa kehidupan berumahtangga, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Kedua informan Budy dan Novi mempunyai aktivitas bekerja di luar rumah, sehingga menonton acara Dharma Wacana cenderung dilakukan sore hari sepulang bekerja. Kedua informan tersebut mempunyai praktik menonton yang berbeda satu sama lainnya. Praktik menonton informan Budy dilakukan pada sore hari sekitar jam 17.30 sendirian sambil melakukan kegiatan lainnya, seperti menyapu, menyiram bunga. Kadangkala Budy menonton bersama ibu, seorang bidan yang membuka praktik di rumah, sambil menunggu pasien. Tempat menonton Dharma Wacana Budy di ruang TV yang menyatu dengan tempat makan, tempat ibu bekerja, ruang tamu dan ruang keluarga. Pesawat televisi Budy tanpa menggunakan remote control sehingg ia jarang mengganti saluran televisi saat tayangan iklan. Informan generasi brahamacari kedua adalah Novi yang mempunyai aktivitas sehari-hari bekerja di luar rumah. Praktik menonton Novi biasanya sore hari setelah pulang bekerja. Kegiatan lain ketika menonton acara Dharma Wacana sore biasanya sambil bersihkan muka, urut- urut daki sebelum mandi. Ketertarikan Novi pada program Dharma Wacana terbilang biasa saja, namun karena tanggung jawabnya sebagai ’asisten ibu’ dalam mabanten maka menonton Dharma Wacana pun lama kelamaan menjadi rutinitas bagi Novi. Sehingga dalam hal ini Dharma Wacana dijadikan teman belajar oleh Novi. Biasanya Novi menonton bersama ibu dan ayah di ruang keluarga. Jika dilihat dari tingkatan praktik menonton yang diajukan oleh Samuel Weber, meliputi seeing, watching, viewing, dan reading maka semua informan penelitian berada pada tingkat watching, viewing, dan reading. Watching karena mereka tidak sekadar melihat tayangan, tetapi berupaya memperhatikan tayangan dengan baik. Bahkan semua informan setia mengikuti sambungan program Dharma Wacana di keesokan harinya, walaupun terkadang mereka menonton sambil melakukan kegiatan lain, seperti berjualan, mengasuh anak, dan melakukan perawatan diri. Viewing karena pada tingkat ini semua informan melakukan interaksi antara isi dan struktur pesan dengan informasi dan pengalaman yang dimilikinya. Rata-rata informasi dan pengalaman yang mereka miliki bersumber atau diwarisi dari ajaranajaran orang tua mereka. Warisan inilah yang kemudian diproses dan dikompilasikan dengan pesan yang informan proleh dari tayangan Dharma Wacana. Pada tingkat reading ini, pesan yang sudah diproses dan disimpan oleh informan kemudian digunakan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan para informan sehari-hari atau dishare kepada teman-teman dan keluarganya. 2. Penggunaan Sosial Program Dharma Wacana dalam Kehidupan Sehari-hari Secara struktural, keempat informan penelitian mempunyai pendapat bahwa program Dharma Wacana mempunyai manfaat yang sangat besar dalam meningkatkan pengetahuan tentang agama Hindu dan ritual-ritualnya termasuk filsafat dan etikanya. Setiap informasi yang disampaikan dalam Dharma Wacana mengandung unsur ajaranajaran Hindu yang sarat dengan nilai-nilai Ketuhanan. Ketertarikan informan terhadap acara Dharma Wacana lebih disebabkan karena topik yang menarik dan narasumber yang menjadi favorit masing-masing informan. Penerimaan terhadap informasi Dharma Wacana dari keempat informan mengacu pada pemahaman yang berbeda terhadap nilai-nilai ajaran yang disampaikan oleh narasumber. Hal ini dipengaruhi dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan mereka, serta jenis kelamin dan posisi mereka dalam keluarga. Jenis kelamin cukup mempengaruhi karena dalam tradisi di Bali, anak laki-laki sering di-‘Raja’-kan, sehingga cenderung bebas dari tugas-tugas rumah tangga, termasuk dalam pembuatan dan pelaksanaan ritual-ritual keagamaan. Kondisi ini membuat anak laki-laki lebih cuek dalam kesehariannya. Berdasarkan catatan dan analisis yang dilakukan peneliti, setiap informan mempunyai prinsip yang berbeda dalam menggunakan Dharma Wacana, terutama dalam hal penggunaan informasi yang diterima. Ada informan, seperti Budy dan Novi yang menganggap bahwa informasi Dharma Wacana merupakan tambahan ilmu yang belum diketahui sebelumnya sehingga setiap informasi yang disampaikan merupakan hal yang baru, misalnya seperti tata cara ritual persembahyangan yang selama ini hanya didapat dari didikan kedua orang tua. Informan yang lainnya, yaitu Pak Weti dan Dewi menganggap bahwa informasi Dharma Wacana merupakan hal yang sangat baik untuk dilaksanakan dan bisa secara langsung dilaksanakan. Biasanya informan tersebut menjadi lebih termotivasi untuk melakukan secara langsung apa yang disampaikan dalam Dharma Wacana. Secara relasional dari semua informan penelitian, mengakui bahwa Dharma Wacana menjadi bentuk pembelajaran yang sangat berharga tentang nilai-nilai agama Hindu yang setiap orang bisa melakukannya. Pemahaman yang sama tersebut menjadikan sebuah sikap dari masing-masing informan untuk menerima program Dharma Wacana secara utuh. Hal tersebut dapat dilihat dari keempat informan, ketika sudah menyaksikan informasi Dharma Wacana, mereka suka menyampaikan atau menganjurkan kepada orang lain, seperti orang tua, anak, teman dan kerabat. Penggunaan sosial program Dharma Wacana oleh masyarakat Hindu di Bali secara tidak langsung juga mempengaruhi perubahanperubahan struktur dan fungsi sosial di masyarakat. Program Dharma Wacana ini digunakan sebagai social learning oleh masyarakat Hindu di Bali, dimana mencakup pembuatan keputusan, model bagi perilaku, pemecahan masalah, penyaluran nilai, pelegitimasian, penyebaran informasi, dan pembelajaran. Dari menonton program Dharma Wacana di Bali TV, kemudian meng-encode dan decode pesan, hingga digunakan sebagai social learning dan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari , masyarakat Hindu Bali perlahan-lahan mulai tercerahkan. Tentunya didukung oleh program-program lain Bali TV, seperti Upakara, Pabligblagan, Ajeg Bali. Masyarakat Hindu di Bali yang dulunya sangat dipengaruhi oleh berabagai mitos sehingga banyak ketakutan yang terbangun, kini mulai lebih logis. Dulunya tattwa/filsafat suatu upacara hanya boleh dipelajari oleh kaum Brahmana , kini sudah bisa dipelajari oleh semua lapisan. Hal ini merupakan hasil penegasan dan penanaman kembali nilai-nilai universal dalam agama Hindu, terutama ajaran Tat Tvam Asi (aku adalah kamu, kamu adalah aku) sehingga nilai kesetaraan dan persatuan sangat jelas. Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada umatnya, namun keberhasilan atas kesempatan yang diberikan oleh Tuhan tergantung pada kemauan dan kemampuan masing-masing individu. Itulah yang kini sudah dipahami oleh masyarakat Hindu di Bali. Sehingga bila dahulu yang boleh memimpin upacara hanyalah kaum Brahmana, kini kaum Sudra pun sudah bisa memimpin upacara, hanya saja gelar yang diberikan bukan Pedanda, melainkan Bhagawan. Dahulu yang boleh memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan hanya

Kata Kunci : Televisi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.