Strategi Komunikasi Peleton Inti Bhayangkara Padmanaba
Galih Kusuma Putra, --
2009 | Skripsi | Ilmu KomunikasiDari data yang diperoleh dan analisis yang dilakukan, ada beberapa hal yang menjadi kesimpulan dalam penelitian ini: • Strategi komunikasi dibutuhkan untuk mengefektifkan upaya reposisi imej yang dijalankan. Strategi komunikasi dalam kasus ini meliputi proses perencanaan komunikasi, pelaksanaan program dan pengevaluasian. Secara umum langkahâ€langkah dalam perencanaan komunikasi meliputi analisis masalah, penetapan tujuan, analisis perencanaan dan pengembangan program, analisis dan segmentasi khalayak, penyusunan pesan, penetapan metode penyampaian pesan, pemilihan media, peranan komunikator, dan perencanaan pelaksanaan program. • Berdasarkan pengumpulan data base line dan need assessment, Bhayangkara Padmanaba menilai faktor imej organisasi lebih berpengaruh daripada program yang ditawarkan bagi siswa baru dalam menentukan ekstra kurikuler pilihannya. Oleh karena itu Bhayangkara Padmanaba merasa perlu mereposisi imej organisasi. • Bhayangkara Padmanaba menetapkan tujuan utama yang ingin dicapai dalam reposisi imej organisasi yaitu merubah citra organisasi yang semula begatif menjadi positif serta berupaya meletakkan Bhayangkara Padmanaba sebagai organisasi ekstra kurikuler yang memiliki tingkat keterpilihan tertinggi dalam polling yang diselengggarakan selama masa MOS dan PPLB. Keterpilihan tinggi di dalam polling tersebut diartikan pula sebagai kemampuan organisasi untuk menarik minat siswa baru untuk bergabung ke dalam organisasi. • Imej negatif yang coba dirubah oleh Bhayangkara Padmanaba dalam program reposisi imej meliputi citra Bhayangkara Padmanaba yang dianggap sebagai organisasi ekstra kurikuler yang tidak berprestasi dan terkesan militeristik. Imej negatif tersebut akan dirubah menjadi imej positif yaitu Bhayangkara Padmanaba yang Not Only Technique. Dalam prakteknya, pesan ini dikemas secara informatifâ€persuasif. • Meski menjadikan seluruh siswa baru kelas X sebagai khalayak sasaran dalam rangkaian kegiatan reposisi imej yang dijalankan, Bhayangkara Padmanaba tetap melakukan pendekatan psikografis agar pesan yang disampaikan sesuai. Dari segi prioritas, dapat dikatakan bahwa khalayak yang menjadi sasaran utama adalah siswa yang belum berminat bergabung ke dalam Bhayangkara Padmanaba namun dianggap memiliki kualitas teknik yang memadai, ditambah siswa yang masih raguâ€ragu menentukan pilihan ekstra kurikulernya. Sementara khalayak yang menjadi prioritas kedua adalah siswa yang sejak awal sudah bertekad memilih Bhayangkara Padmanaba. • Hambatan yang dihadapi Bhayangkara Padmanaba adalah keberadaan citra negatif organisasi yang sejak awal sudah berkembang. Untuk menghadapi hambatan ini, Bhayangkara Padmanaba melakukan pengkondisian internal yang dalam jangka pendek diharapkan dapat meningkatkan prestasi organisasi dan menghilangkan tradisi kekerasan selama proses pelantikan anggota baru. Selain pengkondisian internal, Bhayangkara Padmanaba memanfaatkan semangat Not Only Technique dalam menciptakan programprogram anti imej negatif. • Disamping hambatan diatas, Bhayangkara Padmanaba juga memiliki peluang dalam upaya mereposisi imejnya yaitu kecenderungan siswa baru yang masih berpersepsi netral pada seluruh organisasi ekstra kurikuler . Selain itu Bhayangkara Padmanaba tetap dianggap sebagai ekstra kurikuler favorit di SMA N 3 Yogyakarta. Hal ini didukung fakta bahwa banyak siswa anggota Bhayangkara Padmanaba merupakan figurâ€figur panutan. • Dalam mengatasi hambatan komunikasi dengan khalayak, Bhayangkara Padmanaba menyampaikan pesan secara one side issue dimana hanya halâ€hal positif saja yang disampaikan. Selain itu, untuk menarik perhatian khalayak, pesan utama yang ditampilkan harus terlihat “simpel, gaul dan modern†dimana tagline Not Only Technique dianggap sebagai pilihan yang baik. • Teknik redundancy juga dilakukan agar lebih dapat menarik perhatian khalayak baik melalui anggota atau organisasi Bhayangkara Padmanaba sendiri sebagai komunikator atau melalui media yang digunakan. • Bhayangkara Padmanaba menetapkan metode canalizing dengan cara menerjunkan anggota organisasi yang masih berstatus siswa agar penyampaian pesan yang dilakukan lebih dapat mengena karena sesuai dengan “selera anak jaman sekarangâ€. • Dalam membangun imejnya, Bhayangkara Padmanaba sejak awal memanfaatkan grapevine (selentingan) yang dilakukan oleh anggotanya ketika menjadi panitia kegiatan MOS dan PPLB. Bhayangkara Padmanaba memanfaatkan dan mengkombinasikan beberapa keunggulan yang dimiliki media yaitu poster, spanduk, dan internet. Dalam hal ini poster merupakan media yang menjadi ujung tombak dalam menyampaikan pesan reposisi imej dan untuk menarik minat siswa baru. Spanduk lebih diharapkan memberi pesan tersirat bahwa organisasi benarâ€benar serius dalam mempromosikan diri. Sedangkan media internet, dalam hal ini blog Bhayangkara Padmanaba, diposisikan sebagai media untuk mereposisi imej organisasi. • Sebagai komunikator, Bhayangkara Padmanaba membangun prestasinya terlebih dahulu untuk membangun kredibilitasnya dimata komunikan. Sedangkan kharisma dan status sosial komunikator (siswa anggota) dilingkungan SMA N 3 Yogyakarta menjadi source attractiveness dimata target khalayak. • Untuk mengimplementasikan program reposisi imej dibentuk tim branding. • Selain komunikasi verbal, Bhayangkara Padmanaba juga berusaha mengatur komunikasi non verbal agar bisa menarik khalayak. Cara yang dilakukan adalah dengan penghilangan budaya gundul bagi anggota (siswa) putra, kewajiban senyum bagi angggota (siswa) putri ketika berlomba dan upacara, serta penampilan sempurna pada acara eksebisi. • Dalam hal pengevaluasian, Bhayangkara Padmanaba melakukan dua jenis evaluasi yaitu evaluasi berkala dan evaluasi dadakan. • Dinamika komunikasi organisasi yang teramati di dalam Bhayangkara Padmanaba selama proses reposisi imej adalah upaya organisasi dalam memahami informasi dari lingkungan, pola aliran informasi antara anggota organisasi dan lingkungan, komunikasi internal dan eksternal, komunikasi vertikal dan horizontal, restrukturisasi dan penyesuaian organisasi, dan komunikasi kelompok .
Kata Kunci : Komunikasi