Viral Marketing dan Pemasaran Film (Studi Kasus Viral Marketing Film Cloverfield)
Dewi Maheswari Pramesti, Budhy Komarul Zaman
2009 | Skripsi | Ilmu KomunikasiARG seperti telah disebutkan pada bab-bab sebelumnya, bukan merupakan satu-satunya bentuk/alat pemasaran viral, sehingga kelebihan dan kekurangan ARG yang peneliti sebut di atas tidak bisa digeneralisir menjadi kelebihan dan kekurangan viral marketing. Viral marketing dengan alat-alat yang lebih sederhana seperti video kontroversial maupun game flash ringan tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda dengan viral marketing menggunakan alat rumit seperti ARG. Kajian mengenai fenomena ini juga tidak bisa serta merta menjelaskan efektifitas dari sistem pemasaran viral marketing, mengingat ada banyak faktor yang berpengaruh. Faktor-faktor seperti waktu, uang, komunikator, kecepatan internet maupun kecerdasan teknologi komunikan sangat berperan disini. Akibat banyaknya faktor yang berpengaruh inilah, bisa jadi viral marketing efektif untuk mempromosikan satu film namun tidak efektif pada film lainnya. Pemasaran di internet sendiri rentan dengan rekayasa. Siapapun bisa berpura-pura menjadi produser, puppet master maupun pemain ARG. Siapapun juga bisa membuat website palsu (dalam arti “palsu” yang sebenarnya), melakukan cara licik untuk meningkatkan jumlah visitor pada sebuah situs tertentu dan masih banyak lagi “penipuanpenipuan” lain yang dengan mudahnya terjadi di internet. Tetapi haruskah kita tidak berani untuk berkreasi hanya karena perkembangan teknologi memudahkan “segalanya” untuk terjadi? Haruskah kita berputus asa dan berhenti mencoba cara baru hanya karena takut adanya “rekayasa” yang sebenarnya sudah menjadi mutual understanding (dipahami bersama) oleh hampir semua pengguna internet di seluruh dunia? Akhirnya kita kembali pada kesimpulan bahwa sukses tidaknya pemasaran kembali pada konteks yang melatarbelakangi pemasaran tersebut. Selalu ada banyak faktor yang berpengaruh, yang pada hasilnya, jika tidak membuat pemasaran “berhasil” maka kata “gagal”-lah yang muncul. Namun demikian, viral marketing , dan terutama Alternate Reality Game, tetap menjadi bentuk/alat pemasaran baru yang layak dicoba.
Kata Kunci : Marketing; Film