KISRUH DI TANAH KAKI BUKIT (STUDI KASUS KONTESTASI ABANGAN?SANTRI DI DESA NGANDONG, GANTIWARNO KLATEN)
YOGI SETYA PERMANA, Wawan Mas’udi
2009 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)ABSTRAK Kedatangan santri baik secara fisik maupun ide di Ngandong mendapatkan resistensi dari rezim kekuasaan lokal (abangan). Rezim status quo (abangan) merasa terancam eksistensinya dengan kehadiran santri yang dianggap sebagai kompetitor baru dalam penguasaan sumber daya desa terlebih dengan atribut nilai yang berbeda. Hal ini berakibat pada keterlambatan kemuculan santri secara kelembagaan lewat Muhammadiyah yang baru eksis pertama kali pada pertengahan 80-an. Akomodasi negara terhadap Islam dan masuknya pendanaan dari komunitas Islam internasional juga menjadi faktor yang mempercepat hadirnya santri di Ngandong. Santri di Ngandong tersusun dari Muhammadiyah, NU, dan Jamaah Tabliq. Jamaah Tabliq muncul paling akhir yakni pada medio 1999. JT menampilkan wajah Islam yang keras dan tanpa kompromi sehingga mengundang resistensi dari abangan secara lebih besar. Karakter kontestasi pada periode Orde Baru dengan pasca Orde Baru menunjukkan perbedaan. Konteks eksternal seperti sistem politik sangat berpengaruh dalam pembentukan format kontestasi. Pada dekade Orde Baru kontestasi bersifat tertutup dan tersembunyi. Sistem politik Orba mengkondisikan desa sebagai arena politik yang tertutup mendukung adanya monopoli kekuasaan (kepala desa) sepanjang kebijakan desa segaris dengan kepentingan rezim. Sirkulasi elit terbatas pada oligarki desa (abangan). Kekuatan santri belum memadai sehingga sikap yang diambil cenderung pasif dan defensif. Pilihan sikap yang demikian tidak memunculkan konflik frontal di permukaan. Bentuk-bentuk dari ketidaksenangan pihak satu sama lain diwujudkan dengan stereotyping, labelling, dan perlawanan diam-diam. Sedangkan pada periode pasca Orde Baru kontestasi menjadi sedemikian terbuka dan cair. Desa menjadi arena politik yang begitu cair karena sistem politik yang tadinya tertutup telah bergeser menjadi semakin terbuka. Dominasi kuasa tradisional desa (oligarki) lambat laun menemukan pesaingnya. Sirkulasi elit tidak lagi terbatas. Konfigurasi pemegang kekuasaan desa semakin menyebar tidak dikuasai oleh golongan tertentu. Tokoh-tokoh santri sebagaian telah masuk dalam ranah politik formal desa seperti Badan Permusawaratan Desa (BPD). Setelah posisi santri mulai kuat dan terkonsolidasi dengan baik, tokoh-tokoh santri mulai berani untuk melawan dominasi abangan terang-terangan dan tidak lagi secara diam-diam.
Kata Kunci : Pesantren