Pola Perilak Perumahan Dan Hubungan Sosial Penghuni RUmah Susun Sederhana Sewa Kota Yogyakarta
EFFENDI, Reny Fitriansari, --
2009 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Abstraksi Salah satu permasalahan perumahan di Kota Yogyakarta adalah ketersediaan lahan yang terbatas sedangkan kebutuhan perumahan terus meningkat akibat kepadatan penduduk. Hal ini menyebabkan harga lahan semakin tinggi sehingga muncul fenomena permukiman liar dan kumuh. Konsep pengembangan perumahan vertikal berupa rumah susun menjadi salah satu kebijakan yang dianggap paling sesuai untuk mengatasi permasalahan tersebut. Namun, dengan tinggal di rumah susun maka penghuni akan dihadapkan pada pola hidup yang berbeda yaitu dapat dilihat dari pola perilaku perumahan dan hubungan sosial yang terbentuk. Berangkat dari perbedaan pola hidup tersebut, penelitian ini berusaha untuk mengetahui pola perilaku perumahan dan hubungan sosial yang terjadi di rumah susun sehingga dapat terlihat tingkat keberlanjutan penghuni dalam menempati rusun. Keberlanjutan penghuni bertempat tinggal di rusun dapat menentukan prospek serta efektifitas rusun dalam mengurangi permukiman liar dan kumuh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus karena penelitian ini difokuskan untuk mengetahui pola perilaku perumahan dan hubungan sosial di rusunawa Jogoyudan Kota Yogyakarta. Rusunawa Jogoyudan dibangun pada tahun 2006 di bantaran sungai Code di atas lahan bekas bangunan asrama buruh “Ledok Code”. Bangunan rusunawa terdiri dari 5 (lima) blok hunian, masing-masing blok mempunyai 4 lantai dan 48 unit hunian. Rusunawa Jogoyudan diprioritaskan bagi mantan penghuni asrama buruh dan penduduk sekitar Kampung Jogoyudan. Alasan utama penghuni memilih rusunawa Jogoyudan menyangkut masalah ekonomi yaitu tidak dapat membeli perumahan yang lebih baik. Mereka sebenarnya terpaksa menghuni rusunawa, terutama mengenai permasalahan ruang gerak yang terbatas dan privasi. Namun hubungan sosial yang baik dapat menyebabkan tingkat keberlanjutan penghuni dalam bertempat tinggal di rusunawa Jogoyudan menjadi sangat tinggi. Berdasarkan hasil analisis tersebut, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, memaksimalkan fungsi lahan di sekitar kompleks rusunawa. Kedua, penetapan harga sewa unit hunian jangan berpatokan kepada UMP. Ketiga, jumlah pengelola ditambah minimal 2 orang untuk tiap blok. Keempat, perlu dibentuk paguyuban atau pemberian penyuluhan mengenai sikap dan perilaku apa saja yang dibutuhkan penghuni untuk dapat menciptakan keteraturan dan tertib sosial.
Kata Kunci : Perilaku Sosial