Laporkan Masalah

KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) ANTARA IDE DAN REALITAS

Riskiartha Rachmaningrum, Hempri Suyatna

2009 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)

INTISARI Industri kecil, mempunyai potensi yang cukup besar dalam menggerakkan perekonomian nasional Indonesia. Namun pada kenyataannya banyak kendalakendala yang dihadapi oleh industri kecil dalam mempertahankan usahanya, salah satunya adalah permodalan. Dengan memahami peran penting industri kecil tersebut, pemerintah kembali membuat terobosan dengan meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tanggal 5 November 2007. Secara konseptual kredit ini tidak mensyaratkan agunan dalam peminjamannya, karena kredit ini diberikan pada UMKM dan Koperasi yang dipandang layak. PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) dan Perum Sarana Pengembangan Usaha (SPU) ditunjuk sebagai penjamin KUR. Bank-bank penyalur KUR adalah Bank BRI, Mandiri, Bukopin, BTN, BNI, dan Syariah Mandiri. KUR juga dapat diakses melalui KSP/USP Koperasi. Pada tanggal 7 Mei 2008 plafon kredit KUR diturunkan menjadi maksimal Rp 5 juta, penurunan plafon kredit ini diperuntukan bagi pengusaha mikro agar lebih mudah mengaksesnya. Penyerapan KUR di Bantul dalam sektor industri dirasa masih sangat rendah, dari data BRI Cabang Bantul periode Maret 2008-April 2009, KUR dengan plafon kredit di bawah Rp 5 juta telah disalurkan kepada 9.975 nasabah BRI, dimana hanya 1.396 nasabah yang berprofesi sebagai pengusaha industri kecil. Menurut data BRI Unit Pundong periode Maret 2008-Februari 2009, KUR telah disalurkan kepada 423 nasabah BRI Unit Pundong, dimana hanya 20 nasabah yang berprofesi sebagai pengusaha industri kecil. Di Pedukuhan Jetis, hanya terdapat 4 orang pengusaha industri kecil gerabah yang mengakses KUR. Sehingga judul dalam penelitian ini adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) Antara Ide dan Realitas, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui apa yang menyebabkan rendahnya akses pengusaha industri kecil gerabah di Pedukuhan Jetis, Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, dalam memanfaatkan program KUR. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah pengusaha industri kecil gerabah di Pedukuhan Jetis. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik pola sampling bola salju (Snowball Sampling) dengan informan berjumlah 22 orang, terdiri dari 12 orang yang mengetahui KUR tetapi tidak mengaksesnya, 3 orang nasabah KUR, 4 orang karyawan BRI Cabang Bantul dan Unit Pundong, 1 orang staf Disperindag, Ketua GKP3, Kepala Dukuh Jetis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kepustakaan, observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data, menarik kesimpulan dan verifikasi. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan ketekunan pengamatan, dan metode trianggulasi. Dari analisis data yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa KUR belum sesuai dengan ide yang ada, penyalurannya tidak sesuai dengan prosedur yang ada. Selain itu ditemukan juga aspek sosial, budaya, dan ekonomi yang melatar belakangi rendahnya aksesibilitas pengusaha industri kecil gerabah di Pedukuhan Jetis, yakni pengusaha industri kecil gerabah tidak berani mengambil resiko untuk meminjam kredit dan kekecewaan terhadap penyimpangan prosedur KUR Kata kunci : aksesibilitas, industri kecil, Kredit Usaha Rakyat (KUR)

Kata Kunci : Kredit Usaha Kecil


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.