RELASI GENDER PEREMPUAN PELAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA TAPIOKA DENGAN LAKI-LAKI (Studi pada Perempuan Pelaku Industri Tapioka di Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul)
Rr. Putri Novieta Angelia, -
2009 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)ABSTRAKSI Perempuan, dalam pandangan budaya jawa, selalu berada dalam posisi dan peran yang tersubordinasi oleh dominasi laki-laki, sehingga menyebabkan mereka memikul peran ganda yang kurang memberikan ruang bagi pengembangan diri mereka. Pada tataran waktu tertentu, terjadi ketidakstabilan dalam kondisi keuangan dalam rumah tangga menyebabkan perempuan pada akhirnya harus terjun ke ranah publik. Hal ini yang kemudian terjadi pada perempuan pelaku industri rumah tangga tapioka di Desa Srihardono. Untuk itulah, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana relasi gender perempuan pelaku industri rumah tangga tapioka dengan laki-laki khususnya di Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Untuk mendapatkan data dan gambaran mengenai relasi gender secara komprehensif, penelitian ini menggunakan dua model analisis, yakni kuantitatif deskriptif dan kualitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive random sampling dan perhitungan rumus Frank Lynch sehingga diperoleh 80 responden, yang terdiri dari 40 responden perempuan pelaku industri tapioka dan 40 laki-laki (suami) dari perempuan tersebut. Sedangkan informan yang telah diwawancarai sebanyak 12 informan yang terdiri dari 6 perempuan dan 6 lakilaki. Data-data yang telah terkumpul dalam penelitian, kemudian dianalisis menggunakan analisis statistik, yakni frekuensi dan cross tab dengan SPSS Statistics 17.0 serta menggunakan analisis deskriptif. Setelah dilakukan analisis data secara mendalam maka dapat disimpulkan bahwa dengan keterlibatan perempuan di ranah publik menyebabkan pertama, perempuan bisa menjadi berdaya dan mandiri; kedua, telah terjadi pergeseran relasi gender dimana status perempuan bukan lagi berada dalam posisi subordinat melainkan mitra bagi laki-laki; dan ketiga, kaburnya pembagian kerja secara sexist, karena relasi antara suami-istri yang tadinya bersifat owner property berubah menjadi equal partner. Rekomendasi yang diajukan adalah perlunya mempertahankan prinsip gotong-royong yang diterapkan dalam keluarga pelaku industri tapioka tersebut, sehingga tidak ada pihak yang mendominasi. Kemudian perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda seperti psikologi, ekonomi maupun disiplin ilmu yang lain, mengingat masih banyak kekurangan dalam penelitian ini. Key words: Subordinasi, Mandiri, Mitra, Gotong-royong
Kata Kunci : Gender