NEGARA, PASAR DAN MASYARAKAT : STUDI EKONOMI POLITIK INDONESIA PASCA 1980, PERSPEKTIF DIALEKTIS MENUJU LIBERALISASI EKONOMI DAN PELUANG DEMOKRATISASI
MUHDI, Sri Djoharwinarlien
1996 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)SINOPSIS Studi ini meletakkan "negara , pasar dan masyarakat' sebagai kajian . Tiga entitas ini kerapkali dihadapkan pada perbedaan kepentingan . Negara kerap mewajah sebagai representasi elit penguasa dengan patron-nya . Sementara masyarakat tersumbat segenap aksesnya, teralienasi ke tepian dalam posisi nirdaya . Dalam segenap ruang- geraknya , masyarakat terhimpit tanda celah bagi kemerdekaannya. Gejala global menunjukkan tanda - tandanya_ Gerak pasar tak kalah menggayuti untuk meletakkan basis "iklim yang kompetitif dalam rerekonomian _ Campur tangan pemerintab hendaknya diminimalkan, mengingat efeknya yang distortif. Negara hanya diijinkan untuk mencampuri pasar sepanjang memberi " jalan licin " bagi terciptanya iklim pasar yang fair, dan dalam batas-batas tertentu negara juga diijinkan untuk menyelenggarakan kepentingan publik sepanjang swasta tak mampu mengusahakannya. Lalu apa masalahnya (?). Pasar hadir dengan segenap daya demokratisnya . Dalam banyak ragam teori, mengakuri bahwa ekonomi dicermati sebagai detrminan bagi demokratsisasi politik . Dalam bahasa yang "telanjang " dapat dipahami bahwa kegagalan demokratisasi karena negara tidak menjalankan pola perekonomiannya dalam frame pasar bebas. Thesis ini sepintas terkesan naif. Tapi sebagai sebuah thesis, tak ada salahnya sepanjang bangun itu memberikan ragangan logika dan tersaji dalam konteks ilmiah . Selanxvi jutnya dalam penelitian ini mencoba bertanya, apakah dengan demikian liberalisasi ekonomi akan memberi peluang bagi demokratisasi. Penelitian ini difokuskan untuk mencermati renikrenik sosial dalam segenap frame induktif pada pasta 1980. Menelaah dinamika aksi-reaksi diantara ketiga entitas di atas, maka dalam tulisan ini mengakuri basis analisis ekonomi-politik sebagai pendekatan. Dalam rentang pasta 1980, ekonomi Indonesia pernah ditandai oleh momentum depresi dalam perekonomian nasional, ketika harga minyak dunia mulai turun. Di belahan bumi lain, yang tidak menghasilkan minyak barangkali bak menerima durian runtuh. Tapi bagi Indonesia, turunnya ekcnomi Indonesia saat itu adalah ''mass keprihatinan" bagi perekonomian nasional. Pembangunan ekonomi di negeri ini banyak ditopang dari dominasi ekspor migas . Untung saga kala 1984 kondisi pangan begitu membanjir, swasembada beras memberi nafas bagi stabilitas politik saat itu. Fenomena ini berkebalikan pada penggal tahun 1972-1974. Langgam perekonomian yang memburuk cepat-cepat" dinetralisasi oleh para teknokrat. Formasi Keynes, digunakan untuk merestrukturisasi pasar. Paling tidak titik sentuhnya ada tiga hal, pertama : meningkatkan investasi di dalam negeri, kedua: menekankan pada orientasi ekspor, ketiga: menerapkan formasi structural assessment program. Kebijaksanaan ini "mulus-mulus" Baja, tanpa hambatan. Pertumbuhan ekonomi secara umum terkendali dalam trend naik atau stationary . Padahal di Barat . poly Keynes dipandang mengkondisi inflatoir. Mengapa, apa yang hebat dengan perekonomian rezim Orde Baru (?). Yang bisa dilacak selama ini , iklim politik memberi andil bagi pertumbuhan ekonomi. Pemahaman dasarnya bahwa pertumbuhan ekonomi hanya dimungkinkan ketika stabilitas politik terjaga . Hanya saja stabilitas politik dalam prakteknya diterjemahkan dengan depolitisasi. Bahkan tak segan-segan kekuatan represif yang "vulgar " sering dijum pai dalam keseharian. Akses massy tersumbat, posisi t_•awarmenawar lemah. Imbasnya. setiap kebijaksanaan yang ada talc ,_._.;:, ntrol. Kesimpulan yang bisa ditarik , mulusnyc' "Keynes Intervensionis Aktive" pada rezim Orde Baru d_- backing oleh otoritarianism. Lemahnya akses politik massa justru menimbulkan teralienasinya masse. Petani terpuruk oleh nilai tukar produknya yang rendah, buruh terpasung dibawah gait yang pas-pasan. Semua ini muaranya cuma satu: "ingin memenangkan persaingan dalam perekonomian global". Lalu apa lacur (?). 1).Produk dalam negeri masih juga tak kompetitif, defisit transasksi berjalan membumbung_ Sekali "jago kandang" tetap "jago kandang". Kalau Chaeebol- di Korea mengkomparasikan ekspor:sales = 90%:5%, maka di Indonesia berbalik 180°. Ini membuktikan dalam sisi-sisi tertentu kemandirian. kewiraswastaan, dan basis teknologi masih lemah. 2).Hutang luar negeri jalan terus, demi menyeimbangkan anggaran keuangan. Entah untuk apa saja. kemana saja pengalokasiannya, dan bagaimana pertanggungjawabannya, enggak jelas. Yang pasti. DSR yang cukup tinggi itu terbaca "gali lobang tutup lobang". 3).Alternatif pembiayaan melalui pajak jelas cukup potensial. Dana segar dari masyarakat ini kian diintensifkan. Gerak massa kian risih dengan berbagai pajak. Hal ini potensial bagi timbulnya konflik. 4).Perekonomian tak merata. terdeskniminatif dan mengundang munculnya isue rasial. Tai= dapat. dipungkiri. asset terbesar dalam jajaran k_ongiomerasi didominasi ras Cina. Lalu yang mana masalahnya (?). Semua itu masalah. dan potensial menumbu:ikan masalah Baru. Demokratisas men4ad`- sebuah tuntutan. Kelas menengah kita sering dibilans 'kelas menengah pohon kenari'', di luar tampak besar di dalamnya kosong melompong. Yang jelas, independensinya masih dipertanyakan. Kelompok yang konon dianggap mediator bagi demokratisasi masih disangsikan bagi sebagian pendapat. Namun kalau dicermati gejala yang ada, masyarakat sudah semakin pintar. Peningkatan tarap perekonomian secara relatif sedikit mengalihpandangkan perhatian mereka pada pembusukan politik dewasa ini. Resistensi massa dimana-mana. Kemarahan publik (public outcray) terlampiaskan secara non-konvensional. Sah-sah saja, semua itupun partisipasi, ketika cara-cara konvensional tak bergayung. Aksi yang muncul sebagai gerakan-gerakan berlabel prodemokrasi itu banyak memberi warna. Tuntutan demokratisasi, dan peluang demokrtatisasi itu ada. Ya, munculnya dari kondisi pasar yang distort.if [pasar tumbuh karena ..obilisasi negara, pasar tumbuh dalam fr,--Te diskriminatif dan tidak kompetitif, pasar tumbuh secara immature]. Implikasi dalam jangka panjang, lemahnya posisi perekonomian berimplikasi pada rentannya legitimasi rezim.
Kata Kunci : Ekonomi Indonesia