Laporkan Masalah

FAKTOR-FAKTO R YANG MEMPENGARIJHI PELEMBAGAAN PUSKESMAS

MM. Tyas Rudatin Rahmawati, Sutarto

1991 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Pembangunan nasional pada dasarnya memprioritaskan pada aspek-aspek yang dianggap penting. Dalam hal ini masyarakat desa dianggap sebagai sasaran yang harus diperhatikan karena sebagian besar penduduk Indonesia bertempat tinggal di pedesan. Desa di Indonesia merupakan struktur yang dominan dan berpengaruh besar bagi berhasilnya pembangunan nasional. Untuk itu secara politis pemerintah memberikan perhatian yang begitu besar terhadap pembangunan desa . Seperti contoh dibangunnya Puskesmas, hadirnya LKMD , KUD UNIT DESA , BRI Unit desa dan lain-lain . Kenyataan ini menunjukkan begitu pentingnya diciptakan organisasi formal ditengab-tengah masyarakkat karena organisasi-organisasi inilah yang membawa Inovasi kearah kemajuan masyarakat, sebagai agen pembaharu , agen pembangunan dan perubah masyarakat kearah perbaikkan. Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan melalul Puskkesmas pada dasarnya merupakan wuJud pemerintah dalam memperhatikan kesehatan rakyatnya, kkarena pembangunan dibidang kesehatan pada hakekatnya merupakan salah satu bagian dart pembangunan nasional. Yang merupakan upaya untuk mencapai kemampuan hidup sehat bags penduduk dan mewuJudkan derajat kesehatan yang seoptimal mungkin, karena kesehatan merupakan salah satu indikator dart kesejahteraan. Keberhasilan organisasi untuk mencapai tuiuannya tergantung dari kemampuan organisasi itu dalam memainkan peranannya ditengah-tengah masyarakat dan tergantung pads kemampuan organisasi flu dapat diterima oleh masyarakat atau bagalmana organisasi itu dapat melembaga. Pembangunan kesehatan di Indonesia telah mengalami penyempurnaan terbukti dengan adanya berbagal peraturan dan undang -undang yang semuanya itu bertuJuan agar pembangunan kesehatan lebih dapat mencapai sasarannya . Namun keberhasilan pembangunan kesehatan flu ternyata hanya dapat dinikmati oleh aebagian kecil masyarakat saja terbukt i dengan : - masih banyaknya masyarakat yang beranggapan bahwa kesehatan bukan merupakan hal yang primer - keberhasilan pembangunan kesehatan lebih banyak dinikmati oleb masyarakat perkotaan hal ini terbukti dengan adanya kecenderungan bahwa terJangkitnya berbagal penyakit lebih banyak ads di pedesaan - kesenjangan pelayanan kkareana adanya sistem penjatahan , dilain fihak swasta lebih berorientasi kkepada pelayanan masyarakat kota , karena dipandang masyarakat kota secara financial lebib menguntungkan - tingkat pendidikan yang rendah terutama dikalangan wanita - adat istiadat yang tidak mendukung. Untuk itu diperlukan integrasi Puskesmas sebagai sarna untuk merubah sistem nila! yang ada pads masyarakat agar art! danm fungsl kesehatan leblh ditingkatkan . dengan kata lain diperlukannya perangkat kelembagaan. Tulisan ini selanjutnya mengkaj! tentang keberhasilan pembangunan kesehatan yang dilaksanakan dengan mengintegrasikan puskesmas sebagai organisasi. Didalam kerangka teori, penults mengemukakan bahwa Puskesmas termasuk didalam organlsas i sosial pemanfaatan dan normatif karena terdapat pengekanganan masyarakat dengan menggunakan pola ganjaran yang berupa pelayanan kesehatan yang sebaik -baiknya bagi masyarakat , dan tampak bahwa pada dasarnya kegiatan yang dilaksanakan oleh Puskesmas merupakan intervensi sistem nilai yang menekankan perubahan norma dan berusaha agar art! dan fungs l kesehatan dapat diterima masyarakat secara luas. Pada dasarnya pelaksanaan fungsi - fungsi Puskesmas adalah menghantarkan inovasi dalam bidang kesehatan sedangkan inovasi merupakan tema sentral didalam pelembagaan . Sehingga dapat dikatakan bahwa pelaksanaan fungsi - fungsi Puskesmas merupakan proses Instutusionalisasi . Sedangkan ukuran yang digunakan peneliti untuk mengukur tingkat pelembagaan mengambil dart pendapat Saul M Katz dan Esman . Pada dasarnya pengukuran pelembagaan dart kedua pendapat tersebut mengemukakan kriteria -kriteria pengukuran yang ditinJau dart persepsi masyarakat . Maka dalam penelitian int pengukuran tingkat pelembagaan Puskesmas didekati dart tinjauan persepsi masyarakat. Proses Institusionalisasi dapat ditinjau dart tiga dimensi, yattu dimensi transaksi , dimensi institusi dan dimensi kaftan . Namun karena keterbatasan yang ada pada penulis maka digunakan tinJauan dart segi institusi dan dart segi transaksi . Dart segi institusi ada lima hal penting yang perlu diperhatikan yaitu variabel ; kepemimpinan , doktrin, program, sumbersumber daya dan struktur intern . Namun karena kepemimpinan merupakan hal yang paling kritis dalam pembangunan lembaga maka penulis memilih kepemimpinan sebagai variabel bebas pertama. Sebagai veriabel bebas kedua penults memilih komunikasi , karena bagaimanapun Juga komunikasi merupakan hal yang mutlak dilakukan agar inovasi - inovasi yang hendak ditransferkan , hal-hal pembaharuan yang menJadi anti pelembagaan dapat disampaikan kepada masyarakat lingkungan sebagal sasaran dart proses pembaharuan yang dikehendaki. Sehingga dapatlah dijelaskan hubungan atau Jembatan logika bahwa persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan dapat mempengaruhi pelembagaan. Kepemimpinan dipandang sebagai hal yang paling kritis dart proses Institusionalisasi , karena proses-proses perubahan yang dilakukan dengan sengaja memerlukan manaJemen yang intensif , terampil baik untuk hubungan intern maupun ekstern . Karena kepemimpinan dapat bertindak sebagai pembimbing dan pengubah masyarakat. Terwuiudnya perilaku masyarakat akan dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan karena pemimpin peranannya bisa menjadi sumber inovasi, sebagai pembina gagasan dan strategi yang menunjang pembaharuan dan perubahan. Pemimpin sebagai unsur pendorong yang menentukan untuk mendobrak halangan -halangan dan sikap mental masyarakat yang tidak sesuai dengan keadaan yang dikehendaki. Kepemimpinan dalam penelitian ini diartikan sebagai sekelompok orang yang secara aktif berkecimpung didalam perumusan program dart lembaga yang mengarahkan aspirasi serta hubungan dengan lingkungan. Pimpinan yang efektif akan dilihat dart anggapan masyarakat tentang aktivitas -aktivitas yang dilakukan dalam lingkungan untuk mencapal tuJuan individu, kelompok atau organisasi yang dlpimpinnya. Sehingga apabila masyarakat menanggapinya secara balk maka akan mendapatkan tanggapan dan basil yang menarik. Jelaslah bahwa sikap dan anggapan masyarakat dalam menerima , menghayati dan mendukung secara sadar kemanfaatan Jasa -Jasa pelayanan Puskesmas tidak terlepas dark persepsi masyarakat terhadap Puskesmas beserta aparatnya . Sehingga sebagai variabel bebas pertama adalah persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan dalam hal ink adalah aparat Puskesmas. Sebagai dimensi pengukurannya penults bertolak dart pendapat yang dikemukakan oleh Sutarto dan James L Gibson. Sedangkan hubunganantara komunikasi dengan pelembagaan dapat diterangkan dart Jembatan logkka berikut ink . Komunikasi diartikan sebagal pentransferan atau pengalihan informasl dark sumber kepada penerlma. Dalam proses pelembagaan komunikask memegang peranan yang penting, karena dengan komunikasi dimungkinkan inovasl, knformasi sebagai tema darl pelembagaan dapat disebarluaskan dan dapat terealksir dalam masyarakat. Komunikasi merupakan faktor yang menentukan dalam proses perubahan sosial , karena dengan komunikasl ide-ide dan hasil -hasil budaya yang berupa fisik dapat ditransformasikan . Komunikasi pentkng dalam usaha mengenalkan inovasi terhadap masyarakat guna memperoleh respon bagi mereka yang tersentuh kepentingannya. Melalut komunikasi seseorang dapat mempengaruhi dan merubah sikap orang lain kearah pembentukan sikap dan perilaku posit if. Sehungga dapat dimengerti apabila pelembagaan yang mengharapkan perubahan perilaku masyarakat dalam menerima inovasi dan informasi yang diperkenalkan membutuhkan komunikasi sebagai salah satu Jalan terobosannya . Sedangkan pengukuran yang digunakan untuk mengukur tingkat komunikasi adalah pendapat dart William G Scot dan Onong Ucjana Efendi. Dart landasan kerangka teori tersebut maka dapatlah dirumuskan hipotests yaitu Adakah hubungan antara tingkat persepsi masyarakat dan tingkat komunikasi terhadap tingkat pelembagaan. Untuk menghindari kesalahan pemahaman atau kekaburan tentang konsep -konsep yang digunakan dalam penelitian maka variabel -variabel yang diteliti dirumuskan didalam definisi konsep yang akan mempermudah didalam penelaahan dan pemahaman. Untuk memperoleh data dalam penelitian digunakan dengan metode kuesoner sebagai metode yang utama dengan mengajukan pertanyaan yang bersifat tertutup , sedangkan untuk menunJang perolehan data yang diperlukan tidak dikesamptngkan metode dokumentasi , wawancara dan observasi. Dart hipotesa yang telab dirumuskan tersebut perlu diuji di lapangan , untuk itu peneliti memilih Puskesmas Ngemplak Kabupaten Sleman sebagai ladang penelitian karena dipandang telab berhasil didalam pelembagaan terbukti dengan selak ditetapkannya stratifikasi Puskesmas sebagai pola pembinaan, Puskesmas Ngemplak selalu ada dalam strata satu.Dari populasi yang ada dipilih 99 sampel sebagai yang dapat mewakili. Untuk penguiiannya digunakan metode analisa tabulasi silang , karena dart analisa ini dapat diketahui apakah hubungan yang ada tersebut teriadi karena ada hubungan yang sistematis ataukah hanya merupakan hubungan yang teriadt secara kebetulan. Dan dart perhitungan statistik dapat diketahui besarnya pengaruh hubungan tersebut. Di dalam Bab II penulis menguraikan tentang lokasi daerah penelitian. Setelah peneliti terjun dilokasi penelitian dan dart data yang dapat dikumpulkan dart 99 responden ternyata tidak semua hipotesis yang dikemukakan terbukti . Hal ini dapat dilihat bahwa hubungan antara persepsi masyarakat terhadap kepemlmpinan dengan pelembagaan merupakan hubungan yang murni . Dan setelah dimasukkannya variabel komunikasi sebagai variabel pengontrol dapat dilihat bahwa hubungan yang semula ada tetap nampak atau konsisten, dan dart hasil perhitungan besarnya pengaruh relatif antara VB dengan VT dan antara VK dengan VT menunjukkan bahwa memang ada hubungan yang sistematis. Sedangkan hubungan antara komunikast dengan pelembagaan merupakan hubungan yang semu, karena setelah dimasukkannya variabel persepsi masyarakat terhadap kepemimpinan hubungan yang semula ada menjadi tidak konsisten atau berubah . Hal ini Juga dapat dilihat dart basil perhitungan besarnya pengaruh relatif antara VB dengan VT lebih kecil daripada besarnya pengaruh VK terhadap VB. Sehingga hipotesis yang kedua tidak terbukti dilapangan karena tidak didukung data dilapangan.

Kata Kunci : Kepemimpinan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.