Laporkan Masalah

EFEKTIVITAS PELAKSANAAN TUGAS PEGAWAI PT. POS INDONESIA

Mirahpita Saripertiwi, Wahyudi Kumorotomo

1996 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Setelah membahas seluruh data , menganalisa serta menginterpretasikan, maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut : Hubungan antara tingkat kemampuan pegawai dengan efektivitas pelaksanaan tugas pegawai, dari perhitungan korelasi antara dua variabel dapat dilihat menunjukkan keeratan yang tinggi (KP. Kiaten sebesar 0 ,6139 dan KP. Magelang sebesar 0,5461 ). Dan setelah diuji dengan test signifikansi, keduanya juga menunjukkan hubungan yang signifikan. Akan tetapi setelah dimasukkan variabel kontrol tingkat persepsi pegawai terhadap meka-nisme pengawasan hubungan tersebut menjadi tidak konsisten . Sehingga dapat dikatakan bahwa masuknya variabel kontrol tingkat persepsi pegawai terhadap mekanisme pengawasan menyebabkan perubahan pola hubungan antara tingkat kemampuan pegawai dengan efektivitas pelaksanaan tugas. Tingkat kemampuan yang tinggi dengan tingkat persepsi pegawai terhadap mekanisme pengawasan yang rendah akan menyebabkan efektivitas pelaksanaan tugas yang rendah. Kemudian tingkat kemampuan pegawai yang rendah dengan tingkat persepsi pegawai terhadap mekanisme pengawasan yang tinggi akan menghasilkan efektivitas pelaksanaan tugas pegawai yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara kemampuan pegawai bukanlah merupakan hubungan yang murni. Dengan kata lain, tingkat kemampuan pegawai tidak berhubungan secara langsung dengan efektivitas pelaksanaan tugas pegawai, tetapi melalui variabel lain yaitu tingkat persepsi pegawai terhadap mekanisme pengawasan . Hal ini dapat dilihat dari perhitungan pengaruh relatif VB1 sebesar 10,17 sedangkan pengaruh relatif VB2 sebesar 48,27 (KP. Magelang). Dan di RP . Riaten juga menunjukkan gejala yang sama karena dari hasil perhitungan pengaruh relatif VB1 sebesar 22,27 sedangkan pengaruh relatif VB2 sebesar 39,41, yang berarti kemampuan pegawai tidak begitu besar pengaruhnya terhadap efektivitas pelaksanaan tugas. Kemudian bila dilihat dari perhitungan korelasi antara tingkat persepsi pegawai terhadap mekanisme pengawasan dengan efektivitas pelaksanaan tugas pegawai menunjukkan hubungan yang sangat erat ( KP. Riaten sebesar 0,6375 dan KP. Magelang sebesar 0,5548). Dan setelah diuji dengan test signifikansi, keduanya juga menunjukkan hubungan yang signifikan. Ini berarti bahwa perubahan pada tingkat persepsi terhadap mekanisme pengawasan akan diikuti dengan perubahan yang sejajar pada efektivitas pelaksanaan tugas pegawai. Dengan kata lain , tingkat persepsi terhadap mekanisme pengawasan yang tinggi akan menyebabkan efektivitas pelaksanaan tugas pegawai yang tinggi pula. Sebaliknya dengan persepsi pegawai terhadap mekanisme pengawasan yang rendah akan menyebabkan efektivitas pelaksanaan tugas yang rendah pula. Untuk mengetahui apakah hubungan itu terjadi secara kebetulan atau tidak, digunakanlah pengujian dengan memasukkan variabel kontrol tingkat kemampuan pegawai ke dalam hubungan antara tingkat persepsi terhadap mekanisme pengawasan dengan efektivitas pelaksanaan tugas pegawai. Dan dapat dilihat dengan jelas bahwa dengan tingkat persepsi pegawai terhadap mekanisme pengawasan yang tinggi, baik dengan tingkat kemampuan pegawai yang tinggi mapun rendah menunjukkan efektivitas pelaksanaan tugas yang tinggi. Sedang dengan tingkat persepsi pegawai terhadap mekanisme pengawasan yang rendah, baik dengan tingkat kemampuan pegawai yang tinggi maupun rendah akan tetap menunjukkan efektivitas pelaksanaan tugas yang rendah pula. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan pegawai tidak dapat mempengaruhi kemurnian hubungan antara persepsi pegawai terhadap mekanisme pengawasan dengan efektivitas pelaksanaan tugas. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan pengaruh relatif VB2 lebih besar daripada pengaruh relatif VB1 (di KP. Magelang maupun di KP. Klaten). Walaupun di kedua Kantor Pos tersebut menunjukkan gejala yang sama , yaitu dengan lebih dominannya persepsi pegawai terhadap mekanisme pengawasan dibandingkan kemampuan pegawai dalam meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas, di KP. Klaten ternyata lebih tinggi menunjukkan efektivitas pelaksnaan tugas daripada di KP. Magelang. Hal ini disebabkan di KP. Kiaten pegawainya memiliki jenjang pendidikan yang rata-rata. Dalam arti tidak ada perbandingan yang mencolok antara pegawai yang berpendidikan tinggi dengan pegawai yang berpendidikan rendah. Di KP. Magelang jumlah pegawai yang berpendidikan SLIP dan SD cukup tinggi yaitu 59 orang, sedang di KF. Kiaten hanya 21 orang, itupun semuanya di tingkat SLIP. Apalagi di KP. Kiaten banyak pegawai senior , yang tentunya sudah berpengalaman dalam melaksanakan tugas. Sehingga dapat dikatakan di KP. Klaten rata-rata memiliki kemampuan yang tinggi. Dan sebenarnya di KP. Klaten terdapat beberapa orang yang termasuk pegawai potensial , namun karena kesibukannya dalam bekerja, mereka ini belum menyelesaikan kuliahnya di Perguruan Tinggi, sehingga belum termasuk dalam pegawai yang berpendidikan sarjana. Kesadaran sebagai pegawai perusahaan layanan juga sudah tertanam dalam dirt mereka. Di KP. Klaten hubungan antara bawahan dengan atasan sifatnya tidak kaku (birokratis), sehingga tereipta suasana kerja yang saling mendukung

Kata Kunci : Motivasi Kerja


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.